Zàkatul Khilthah

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 17 Jumadal Ūla 1439 H / 03 Februari 2018 M
👤 Ustadz Fauzan ST, M.A.
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb Zakat
🔊 Kajian 83 | Zakat Khilthah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H083
〰〰〰〰〰〰〰

*ZAKĀTUL KHILTHAH*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada halaqah yang ke-83, kita masih melanjutkan pelajaran tentang zakāt dan ada pembahasan yang dibahas oleh para ulamā yaitu: زكاة الخلطة (zakātul khilthah) pada zakāt kambing.

Apa yang dimaksud dengan zakātul khilthah?

Al khilthah adalah al khalaf yaitu bercampur, bersama-sama.

Maksudnya adalah apabila ada dua orang memiliki harta zakāt dan dia mengabungkan zakātnya. Jadi dua orang atau lebih menggabungkan zakātnya, maka ini disebut dengan zakāt al khilthah (zakāt yang tercampur harta zakātnya /bersama-sama) maka tatkala bersama-sama zakātnya adalah zakāt harta yang seperti milik satu orang.

(( والخليطان يزكيان زكاة الواحد بسبع شرائط: إذا كان المراح واحدا والمسرح واحدا والمرعى واحدا والفحل واحدا والمشرب واحدا والحالب واحدا وموضع الحلب واحدا))

Penulis rahimahullāh menyebutkan:

((والخليطان يزكيان زكاة الواحد))

_”Dan dua orang atau lebih yang memiliki harta zakāt dan mencampurkan zakātnya, kemudian mereka menzakātkan harta yang tercampur tersebut seperti zakāt milik satu orang, aturannya seperti aturan satu orang.”_

Hadīts ini berdasarkan hadīts Annas, beliau mengatakan:

أنَّ أبا بكر رَضِيَ اللهُ عنه، كتب له الفريضةُ التي فرَضَ رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم

_”Bahwasanya Abū Bakar radhiyallāhu ta’āla ‘anhu mengirimkan (menuliskan surat) kepada beliau kewajiban yang mana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam wajibkan.”_

ولا يجمع بين متفرق ولا يفرق بين مجتمع خشية الصدقة

_”Dan tidak boleh mengabungkan antara harta zakāt yang terpisah dan tidak boleh menggabungkan harta zakāt yang terpisah menjadi satu dalam rangka untuk mengakali shadaqah.”_

⇒ Zakāt shadaqah di sini adalah zakāt maka yang terpisah dicampurkan atau yang tercampur dipisahkan.

و ما كان من خليطين فإنهما يتراجعان بينهما بالسوية

_”Adapun yang memang harta zakāt itu tercampur, maka kembali zakātnya kepada kedua orang tersebut dan secara sama.”_

⇒ Jadi dihitung zakāt wahid (zakāt dari satu orang) kemudian dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing.

بسبع شرائط

_Dengan 7 (tujuh) syarat:_

Disana ada beberapa syarat tambahan yang lain dari syarat-syarat yang ada, (على كل حال) bahwasanya didalam syarat ini juga ada sebagian khilāf para ulamā.

Di antara syarat yang disebutkan oleh penulis rahimahullāh:

إذا كان المراح واحدا

_⑴ Apabila tempat tinggalnya (kandangnya) satu._

والمسرح واحدا

_⑵ Tempat munculnya atau tempat melepasnya satu._

والمرعى واحدا

_⑶ Tempat menggembalanya satu._

والفحل واحدا

_⑷ Pejantannya satu._

والمشرب واحدا

_⑸ Tempat minumnya satu (bersama)_

والحالب واحدا
_⑹ Pemerah susunya satu._

وموضع الحلب واحدا

_⑺ Tempat pemerahnya satu._

Jadi disyaratkan pada khilthah ini, bahwasanya memang benar-benar bercampur mulai dari kandangnya dan lain sebagainya.

Kalau tidak memenuhi syarat maka tidak disebut sebagai harta tercampur atau zakāt al khulthah.

Disana disebutkan bahwa syarat,: الحالب واحدا atau orang yang memerah susunya satu orang, ini adalah dhaif dalam madzhab yang shahīh tidak disyaratkan sama-sama mengambil susunya. Yang disyaratkan sama-sama adalah pengembalanya yang satu.

Maka ini masuk ke dalam zakātul khulthah.

Demikian yang bisa disampaikan pada halaqah yang ke-83 ini, dan in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

———————————-

🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
———————————-

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Zakat Ternak Kambing

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 16 Jumadal Ūla 1439 H / 02 Februari 2018 M
👤 Ustadz Fauzan ST, M.A.
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitāb Zakat
🔊 Kajian 82 | Zakat Ternak Kambing
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H082
〰〰〰〰〰〰〰

*ZAKĀT TERNAK KAMBING*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla di manapun anda berada.

Pada halaqah yang ke-82, kita akan melanjutkan pelajaran tentang zakāt.

Dan kita sudah masuki pada zakāt الغنم Al Ghanam (zakāt tentang kambing). Apabila seseorang memiliki hewan piaraan kambing (peternakan kambing) maka di sana ada zakāt dan ada aturan zakātnya.

Berkata penulis rahimahullāh:

(( وأول نصاب الغنم أربعون وفيها شاة جذعة من الضأن أو ثنية من المعز))

_Nishāb yang pertama mulai dikenakan zakāt tatkala mencapai 40 ekor, maka dikeluarkan satu ekor kambing جذعة (jadza’ah) dari jenis الضأن (dha’n) atau dikeluarkan satu ekor kambing jenis al ma’iz (المعز)._

⇒ Kambing jadza’ah(جذعة) adalah kambing yang berumur satu tahun dan masuk dua tahun.

⇒ Kambing ma’iz (المعز) adalah kambing yang berumur dua tahun masuk ketiga tahun.

Hal ini berdasarkan hadīts Suwaid bin Ghaflah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, beliau berkata:

حديث سويد بن غفلة : سمعت مصدق النبي صلى الله عليه وسلم يقول : { إنما حقنا في الجذع من الضأن ، والثنية من المعز } (أحمد وأبو داود والنسائي)

_Kata beliau (Suwaid bin Ghaflah):_

_”Bahwasanya saya mendengar orang yang ditugaskan untuk mengambil zakāt oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, berkata bahwasanya haq kami (yaitu) hak untuk dikeluarkan zakāt dari الضأن adalah جذعة atau الثنية.”_

(Hadīts riwayat Ahmad, Abū Dāwūd, An Nassā’i)

Berapa jumlah zakāt apabila hewan ternak tersebut jumlahnya bertambah?

Berkata penulis rahimahullāh:

(( وفي مائة وإحدى وعشرين شاتان))

_”Dan apabila mencapai 121 maka zakāt nya adalah 2 (dua) ekor kambing.”_

(( وفي مائتين وواحدة ثلاث شياة))

_”Dan apabila mencapai 201 ekor maka zakātnya adalah 3 (tiga) ekor kambing.”_

(( وفي أربعمائة أربع شياة))

_”Dan bila sudah mencapai 400 ekor maka zakātnya adalah 4 (empat) ekor kambing.”_

((ثم في كل مائة شاة))

_”Kemudian setelah itu setiap kelipatan 100 ekor zakātnya adalah satu ekor kambing.”_

Jadi ukurannya atau kadarnya:

⑴ Mulai 40 sampai 120 ⇒ satu ekor kambing.
⑵ Mulai 121 sampai 200 ⇒ dua ekor kambing.
⑶ Mulai 201 sampai 399 ⇒ tiga ekor kambing.
⑷ Mulai 400 ke atas ⇒ Setiap kelipatan 100 adalah satu ekor kambing.

Hal ini berdasarkan kitāb yang ditulis oleh Abū Bakar radhiyallāhu ta’āla ‘anhu tentang zakāt.

Kata beliau (Abū Bakar radhiyallāhu ta’āla ‘anhu):

وَفِى صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِى سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ شَاتَانِ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلاَثِمِائَةٍ فَفِيهَا ثَلاَثٌ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلاَثِمِائَةٍ فَفِى كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ الرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ، إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا

_“Adapun zakāt kambing maka antara 40 sampai 120 adalah satu ekor kambing, kalau lebih dari 120 (yaitu) 121 sampai 200 ekor maka dua ekor kambing, kalau bertambah dari 200 sampai 300 maka tiga ekor kambing, maka apabila bertambah diatas 300 sampai 400 maka setiap kelipatan 100 adalah satu ekor kambing._

_Maka kata beliau bila kambing-kambing tersebut kurang dari 40 ekor (walaupun kurang satu) maka tidak ada zakāt bagi kambing-kambing tersebut kecuali apabila pemiliknya menghendaki untuk tetap mengeluarkan maka itu adalah keutamaan dari dia.”_

Demikian yang bisa disampaikan pada halaqah yang ke-82 ini, dan in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

———————————-

🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
———————————-

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Perbedaan lagu ya Tayba versi syiah dengan Misyari Rashid

👉PERBEDAAN LAGU ‘YA TAYBA’ VERSI SYIAH HADAD ALWI DENGAN MISYARI RASHID

👤by Zulfan Afdhilla

Dulu sejak saya kecil lagu Hadad Alwi merupakan lagu populer dimasa itu. Abi saya juga membelikan kaset album beliau untuk saya. Tentu saja tidak saya lupakan sebuah lagu dengan judul “Ya Tayba”. Bahkan sering saya nyanyi-nyanyikan lagu tersebut.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya rahasia yang terselubung didalam lagu inipun terkuak. Dizaman melek bahaya Syiah ini terbongkar semua yang terselubung. Begitu pun dengan lagu-lagunya Hadad Alwi.

Pemujaan yang kental kepada Ali, Hasan, dan Husein itulah yang membuat lagu Ya Tayba merupakan sebuah lagu yang terlarang. Dibalik lagu “Yaa Thaybah” ini ada kultus dan penuhanan kepada ‘Ali bin Abi thalib, dan berlebih-lebihan dalam memuji hasan dan husain maka lagu ini sangat jarang ditemukan terjemahannya, bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sering diputar maknanya, padahal jika difahami dalam kaidah ‘arabnya bermakna pemujaan kepada ‘Ali, Hasan, dan Husain.

Banyak beredar di internet postingan-postingan yang mengungkap rahasia dibalik lagu ini. Tapi ada satu permasalahan. Diketahui pula Syaikh Misyari Rasyid Alafasy juga mengeluarkan album Ya Tayba. Bukankah Syaikh Misyari Rasyid sendiri seorang Ahlus Sunnah yang sangat membenci Syiah?.

Nah, untuk itu saya mencoba mencari titik celah perbedaan dari kedua lagu ini. Pertama, mari kita simak Ya Tayba lagunya Hadad Alwi (Syiah) dengan lirik berikut ini:

يَا طَيْبَة يَا طَيْبَة يَا دَوَالْعيَا نَا
اِشْتَقْنَا لِكْ وَالْهَوَى نَادَانَا، وَالْهَوَى نَادَانَا

yaa thaybah, yaa thaybah, yaa dawal’ayanaa
isytaqnaa lika wal hawaa nadaana, wal hawa nadaana

يَا عَلِىَّ يَاابْنَ اَ بِى طَا لِبْ
مِنْكُمُ مَصْدَرُ المَوَا هِبْ
يَا تُرَ ى هَلْ ءُرَى لِى حَاجِبْ
عِنْدُكُمْ اَفضَلُل الغِلمَاَنَ اَفضَلُل الغِلمَاَ نَ

yaa ‘aliy yaa ibna abi thalib
minkumu mashdarul mawahib
yaa tura hal ura liy haajib
‘indakum afdhalul ghilmana, afdhalul ghilmana

اَسْيَادِي الْحَسَنْ وَالحُسيْنِ
اِلَى النَّبِيِ قُرَّ ةْ عَيْنِ
يَا شَبَا بَ الجَنَّتَيْنِ
جَدُّكُمْ صَا حِبُ القُرْ آنَ صَا حِبُ القُرْ آنَ

asyadiy alhasan wal husaini
ila annabiy qurrata ‘aini
yaa syababal jannataini
jaddukum shahibul qurana, shahibul qurana

Yuk dengar versi audio-visualnya:

Nah sekarang mari kita simak lirik lagu Ya Taiba lagunya Syaikh Misyari Rasyid Alafasy (Sunni) berikut ini:

يا طيبة يا طيبة يا دوا العيانا
اشتقنالك والهوى نادانا

Ya Taiba Ya Taiba Ya Dawal Aiyyaana
Shtiknaa Lak Wilhawana Daana
Wilhawana Daana

لما سار المركب ناساني
سار والدمع ماجفاني

Lammasaa Rilmarkabnaa Saani
Saaru-ul Dam-ai Maa-Ja-Faani

أخذوا قلبي مع جناني
يا طيبة يا تيم الولهانا

Aakhazu Kalbi Ma Jinaani
Ya Taiba Yaati Malwal Haana
Yaati Malwal Haana

قبلتي بيت الله صابر
علني يوما لكِ زائر

Qiblaati Baitullahi Saabir Al-Laani Yaumal-Laki Zaayeer

ياتُرى هل تراني ناظر
للكعبة وتغمرني بأمانا

Ya Turah Haltaraani Naazir Lilkaaba Tug Murnib Aamaana
Wa Tug Murnib Aamaana

نبينا أغلى أمنياتي
أزورك لو مرة بحياتي

Nabina Agla Um-Nniyaati
Azur-rak Lov Mar-Rab Hayaati

وبجوارك صلي صلاتي
وأذكر ربي وأتلو القرآنا

Wab-Jiwa-Rak Salli Salaati Wazkur Raab-bi-wat-lul Quraa’na
Wat-lul Quraa’na

بُشراكِ المدينة بشراكِ
بقدوم الهادي يا بشراكِ

Bushraki-il Madina Bushraki
Bi-Kudumil-Haadi Ya Bushraki

فهل لي مأوى في حماكِ
أتمنى فالنور سبانا
نوركم سبانا

Fa Haal-Li Maawa Fihi Maaki Ataman-Na Fan-Nooru Sabaana
Nooru-Kum Sabana

Yuk coba dengan versi audio visualnya:

Bagaimana? sudah jumpa perbedaannya kan?

Trus kenapa dikatakan punya Syiah?

Lagu Ya Tayba versi Hadad Alwi dari nuansa aura dan aromanya sudah tentu merupakan lagu Syiah yang sangat mengkultuskan Ali, Hasan dan Husein. Inilah video Ya Tayba asli dari Agama Syiah dan silahkan membandingkan dengan versi Hadad Alwi:

Ada batu karbala pada video clip Ya Tayba lainnya pada menit 2.49. Batu karbala adalah atribut yang digunakan oleh penganut Syiah dalam beribadah. Berikut video klipnya:

⚠Lalu kenapa terlarang?

Lagu Ya Tayba versi Syiah dan Hadad Alwi terkontaminasi dengan kesyirikan dan ghuluw. Syirik karena memuji Ali, Hasan dan Husein melebihi taraf normal sampai pada titik pengagungan laksana tuhan. Ghuluw karena sastra yang dibawa tidak seharusnya disandarkan kepada manusia.

👉Dimana letak penuhanannya ?
ada pada 3 kalimat berikut :
pertama :

يَا دَوَالْعيَا نَا
اِشْتَقْنَا لِكْ وَالْهَوَى نَادَانَا، وَالْهَوَى نَادَانَا

yaa dawal’ayanaa
wal hawaa nadaana, wal hawa nadaana

artinya :
wahai penyejuk mata kami. kami telah merindukanmu dan hawa itu telah memanggil kami, dan hawa itu telah memanggil kami

kedua pada kalimat ini

يَا عَلِىَّ يَاابْنَ اَ بِى طَا لِبْ
مِنْكُمُ مَصْدَرُ المَوَا هِبْ
yaa ‘aliy yaa ibna abi thalib
minkum mashdarul mawahib

artinya :
Wahai Ali wahai putera Abi Tholib darimulah sumber keutamaan

dan ketiga pada kalimat ini

يَا تُرَ ى هَلْ ءُرَى لِى حَاجِبْ
yaa tura hal ura liy haajib

artinya :
wahai engkau yang dilihat (maksudnya ‘Ali) apakah tirai menjadi penghalang bagiku (dari melihatmu).

🚫Sungguh jika dilihat pada tiga kalimat diatas nyatalah mereka kufur kepada Allah, tidak ada kerinduan mereka kepada Allah, mereka tidak ingat kepada Allah ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu. Seakan-akan semua hidup dan mati hanya dipersembahkan untuk keluarga ‘Ali dengan melupakan Allah.

👉Bagaimanapun, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah manusia biasa, bukan Tuhan. Di dalam nyanyian itu sampai disanjung sebegitu, dianggap, dari Ali lah sumber anugerah-anugerah atau bakat-bakat atau keutamaan-keutamaan. Ini sangat berlebih-lebihan alias ‘ghuluw.’

Artinya: “Jauhilah olehmu ghuluw (berlebih-lebihan), karena sesungguhnya rusaknya orang sebelum kalian itu hanyalah karena ghuluw –berlebih-lebihan– dalam agama.” (HR Ahmad, An-Nasaai, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, dari Ibnu Abbas, Shahih).

⚠Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri melarang kita Umatnya, agar jangan terlalu berlebihan Memuji dan memuja diri beliau. Pada diri beliau yang Mulia saja terlarang, apalagi pada diri Orang lain. tentu hal itu di Larang Keras.

“Janganlah kalian memuji / menyanjung aku secara berlebihan, sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah ‘hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al-Mu-hammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu.)

Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan berkata, aku mendengar Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhua bahwa dia mendengar ‘Umar radliallahu ‘anhum berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”).
(HR. Bukhari)

Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.” (HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.)

Ali Radhiyallahu ‘anhu sendiri pernah disikapi seperti itu. Abdullah bin Saba’, pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam, bekata kepada Ali: “Engkau lah Allah”. Maka Ali bermaksud membunuhnya, namun dilarang oleh Ibnu Abbas. Kemudian Ali cukup membuangnya ke Madain (Iran). Dalam riwayat lain, Abdullah bin Saba’ disuruh bertaubat namun tidak mau. Maka ia lalu dibakar oleh Ali (dalam suatu riwayat). (lihat Rijal Al-Kusyi, hal 106-108, 305; seperti dikutip KH Drs Moh Dawam Anwar, Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI Jakarta, cetakan II, 1998, hal 5-6).

Rupanya antek-antek Abdullah bin Saba’ kini berleluasa menyebarkan missinya. Kelompok yang oknum-oknumnya diakui sebagai para pendukung tersebarnya aliran sesat di Indonesia itu juga merupakan kelompok yang ghuluw dalam menyanjung Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya adalah nyanyian mereka dalam pengajian-pengajian yang dikenal dengan nyanyian Ya Robbi bil Mushtofaa yang juga salah satu lagunya Hadad Alwi.

============

⁉Adakah Fatwa Ulama tentang lagu ini?

Tentang lagu ini sudah dikomentari oleh Syaikh Sholih Ibn Sa’ad Al-Suhaimi dan Syaikh Ubad Al-Jabri yang dapat dibaca

👉FATWA ULAMA AHLUSSUNNAH TENTANG HUKUM NASYID “YAA THOYBAH YA DAWA’AL AYAANA”

Penerjemah*) : Al-Ustadz Abu Abdirrahman Rahmat Hidayat

Bismillahirrahmanirrahiim

Hukum nasyid (ياطيبة يادواءالعيانا) yang beredar di tengah manusia dengan bentuk yang tidak benar, sehingga kami mengharap agar disebarkan hukum nasyid tersebut di tengah manusia.

1. JAWABAN ASY-SYAIKH SHOLIH BIN SA’AD AS-SUHAIMI –SEMOGA ALLAH MENJAGA BELIAU-

* HATI-HATILAH DARI NASYID-NASYID KEKAFIRAN DAN BERBAU SHUFIYAH *

Soal : Berkata (penanya) : Disana ada nasyid-nasyid Islami yang berbunyi “Wahai Allah, dengan penglihatan dari mata yang pengasih, mengobati semua yang ada pada diriku berupa penyakit-penyakit” apakah dalam nasyid ini ada masalah?

Jawaban : Saya tidak mengetahui apakah dia memaksudkan dari kalimat : dari mata yang pengasih apakah dia maksudkan bahwa dia berdo’a kepada Allah agar Dia menguasakan kepada salah seorang dari makhluk-Nya atau dia memaksudkan Allah Ta’ala sendiri.

(Yang jelasnya) atas apapun yang dimaksudkan, walaupun dia memaksudkan Allah Ta’ala, tetap tidak boleh (berdo’a) dengan ibarat-ibarat seperti ini. (sebab) sifat-sifat tersebut tidak boleh berdo’a kepada sifat-sifat / dimintai darinya, memang benar Allah memiliki mata, Allah memiliki dua mata tentunya mata penglihatan yang sesuai dengan Kemuliaan-Nya dan Keagungan-Nya, akan tetapi jangan Anda berdo’a dengan mengatakan : Wahai mata penglihatan Allah, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan kalau dia berdo’a kepada sifat Allah maka dia kafir, jadi kalau dia berkata : Wahai kekuasaan Allah, Wahai Rahmat Allah, Wahai Tangan Allah, Wahai Ni’mat Allah, maka dia kafir sebagaimana disebutkan dari kebanyakan Ulama. Akan tetapi wahai saudaraku sekalian hendaknya engkau berdo’a dengan do’a-do’a yang jelas datangnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan tidak ada hajat engkau dengan lafadz-lafadz meragukan ini yang terkadang dapat menjerumuskan Anda kepada perbuatan bid’ah atau kesyirikan, berhati-hatilah dari bid’ah dan kesyirikan. Dan hendaknya Anda mengembalikan segala lafadz-lafadz kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Yang jelasnya, berkaitan dengan nasyid-nasyid ini, saya ingin memperingatkan kalian dengan sesuatu yang terlintas di benak saya sekarang ini, apa yang ada di sekitar Al-Haram (Masjid Nabawi) disana dijual kaset “Yaa Thaibah ….. Yaa Thaibah …..” ini adalah kesyirikan, merupakan bentuk kesyirikan dari asalnya karena berdo’a kepada Thaibah (nama lain kota Madinah) sama dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala! Juga lafadz “Wahai Penawar Derita” siapakah yang menyembuhkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Taibah?? Jadi, jika engkau berdo’a kepada Thaibah untuk kesembuhanmu maka engkau telah melakukan kesyirikan.

Inilah yang terjadi bahkan tersebar diantara anak-anak sekarang ini, tersebar di HP/telpon genggam, bahkan tersebar dimana-mana nasyid “Yaa Thaibah ….. Yaa Thaibah …..” disini di samping masjid Nabawi (di toko-toko) tasjilat, maka bertaqwalah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap diri Anda. Karena disana ada lafadz-lafadz yang dilantunkan sebagian manusia padahal lafadz-lafadz tersebut padanya kekufuran sementara dia tidak tahu, orang itu tidak tahu dan tidak menyadari bahwa lafadz- lafadz tersebut adalah kekafiran. Apakah dia mendapat udzur di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala atau tidak? Kita tidak tahu, akan tetapi lafadz tersebut adalah kesyirikan dan dia melakukan perbuatan syirik. Maka berhati-hatilah! Jangan kalian mendengar segala sesuatu. Saya memiliki suatu kaset kemungkinan di dalamnya ada ratusan kalimat yang sering dilantunkan sebagian manusia khususnya di negara – negara Arab, maka berhati-hatilah Anda terhadap perkara ini!

2. TRANSKRIP FATWA ASY-SYAIKH SHOLIH BIN SA’AD AS-SUHAIMI

Soal : Berkata (Penanya) semoga Allah berbuat baik untuk Anda – didapati permainan untuk anak-anak yang di dalamnya ada nasyid yang menyebutkan : “Yaa Thaibah ….. Yaa Dawa’al Ayana …..” apakah ini teranggap istigatsah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Jawaban : Ya, Nasyid ini “Yaa Thaibah ….. Yaa Dawa’al Ayana …..” di dalamnya terdapat bau kesyirikan dan terkadang menjadi bentuk kesyirikan secara nyata/terang-terangan. Dan sungguh telah ditanyakan kepada Masyaikh Kibar/Ulama Besar dimana waktu itu saya berada bersama mereka dua hari yang lalu, maka diantara mereka ada yang menyatakan dengan terang – terangan dan pasti bahwa hal itu adalah kesyirikan dan diantara mereka ada yang berkata bahwa itu di dalamnya terdapat bau kesyirikan, sebab hal itu adalah bentuk do’a dan panggilan. Dan panggilan dengan jenis ini adalah kesyirikan. Maka yang menyembuhkan penyakit adalah Allah Azza wa Jalla sebagaimana dalam ayat : (Nabi Ibrahim berkata : dan Apabila saya sakit maka Dialah (Allah) yang menyembuhkanku), jadi engkau memanggil/menyeru kepada Thaibah Al-Madinah – dan memang kita semua mencintai Thaibah/Kota Madinah, akan tetapi kecintaan kita tersebut tidak menjadikan kita beristighatsah dengannya atau dengan tanahnya atau dengan apa yang ada terdapat di dalamnya. Ini tidak boleh sama sekali. Bahkan hal ini – wal ‘iyadzu Billah – (dan Allah tempat berlindung) dikhawatirkan sebagai perbuatan syirik, maka kewajiban kita untuk menjauhi segala sesuatu yang di dalamnya terdapat kesyirikan atau hal – hal yang berbau syirik.

Dan nampak bagi saya bahwa hal tersebut adalah perbuatan syirik karena merupakan bentuk panggilan (meminta hajat) sebagaimana halnya (termasuk kesyirikan) jika Anda berkata (memanggil) : wahai Ali, wahai Muhammad, wahai ‘Amr, wahai Zaid apalagi kalau dikaitkan dengan meminta penawar derita orang sakit. Nasyid – nasyid ini yang kita dengar sekarang ini, banyak beredar di sekitar hotel – hotel (dekat masjid Nabawi) dan di toko – toko, semua itu wajib dihilangkan/dimusnahkan.

Sungguh merupakan kewajiban untuk dihilangkan karena dia merupakan kemungkaran dimana menjadi kewajiban atas mereka yang memiliki wewenang dalam hal ini untuk menghilangkannya/memusnahkannya.

Ya, demikian pula halnya dengan apa yang kebanyakan dikenal dengan nasyid – nasyid Islami yang isinya dari jenis (yang haram) ini. Kebanyakan dari nasyid – nasyid tersebut, tidak luput dari bentuk – bentuk do’a sepenuh hati dan istigatsah atau bentuk lagu/bernada, menyerupai nada kaum wanita atau yang semisal itu.

3. FATWA ASY – SYAIKH UBAID AL-JABIRI – SEMOGA ALLAH MENJAGANYA –

Soal : – Semoga Allah berbuat baik untuk Anda – penanya berkata : Akhir – akhir ini bermunculan nasyid – nasyid yang didalamnya terdapat sebagian lafadz – lafadz yang bermasalah, seperti perkataan : “Yaa Thaibah … Yaa Thaibah … Yaa Dawa’al Ayaana” apakah lafadz – lafadz ini merupakan kesyirikan? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban : Kebanyakan nasyid – nasyid semisal yang disebutkan dalam pertanyaan adalah bukan dari pantun ahli adab dan bahasa dari kalangan ahlussunnah, tetapi itu hanya pantun ahli adab dan bahasa yang bodoh bukan dari ahlussunnah, yang (dalam pantun tersebut) tidak ada aturan mengikat mereka dan ketentuan yang menjadi patokan mereka, mereka adalah orang – orang yang keliru atau dari orang – orang yang membuat khurafat/dongeng, ahli takhayul/dongeng/legenda, karena itu sungguh Anda akan mendengar dan membaca dari pantun – pantun itu terkadang terdapat kalimat kekafiran dan kesyirikan. Maka hukum yang minimal untuk dikatakan tentang qashidah ini adalah bid’ah bahkan yang nampak bagi saya sungguh dia bentuk – bentuk do’a, berdo’a kepada negeri wahai penawar derita, dan ini adalah do’a yang terlarang.

Selesai dengan Taufiq Allah Subhanahu wa Ta’ala

*) Penerjemah adalah Staf Pengajar di Ma’had Tahfidzul Qur’an “As-Sunnah” Kab. Sidrap, Sulsel.

http://alfirqatunnajiyyah.blogspot.com/2012/02/yaa-thoybah.html

🔒Hadad Alwi Syiah?

Berdasarkan info yang saya kutip, Hadad Alwi turut mengunjungi korban konflik sosial syiah di Sampang Madura 29 September 2012. Dia memberi motifasi dan dukungan kepada para pengungsi syiah.

Lagu-lagunya banyak mengandung unsur Syiah seperti Ya Tayba seperti yang kita jelaskan, Ya Rabbibil Mustafa, Ummiy dan bahkan dalam videonya terdapat batu karbala yang tradisi Syiah sebagai atribut ibadah seperti yang kita jelaskan.

Sudah ditak dapat dipungkiri ada misi propaganda penyebaran agama Syiah olenya. wallahualam.

http://www.zulfanafdhilla.com/2015/04/inilah-perbedaan-lagu-ya-tayba-versi.html?m=1

Rerey Niqabis China ( Rerey )

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Syafa’at bagi pelaku dosa besar ( bagian 3 )

.🌎 BimbinganIslam.com

Kamis, 10 Rabi’ul Akhir 1439 H / 28 Desember 2017 M

👤 Ustadz Dr. ‘Abdullāh Roy, M.A.

📘 Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir

🔊 Halaqah 66 | Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar ( Bagian 3)

⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-AR-S05-H66

____________________________
SYAFA’AT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR (BAGIAN 3)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-66 dari sisilah beriman kepada hari akhir adalah tentang syafa’at bagi para pelaku dosa besar bagian yang ketiga.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara umat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberikan syafa’at bagi dua dan tiga orang.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam  bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَشْفَعُ لِلرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ
“Sesungguhnya seseorang sungguh akan memberikan syafa’at bagi dua orang dan tiga orang. ”
(Hadits Shahih Riwayat Al Bazzar)
Para syuhada akan Allāh berikan kesempatan untuk memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
يَشْفَعُ الشَّهِيدُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Orang yang mati syahid akan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.”
(Hadits Shahih Riwayat Abu Daud)
Sebuah kebahagiaan yang luar biasa, seseorang memberikan syafaat untuk orang tua, anak-anak, istri dan saudara-saudaranya di saat mereka sangat membutuhkan. 
Ada di antara umat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberi syafa’at untuk orang banyak. 
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَكْثَرُ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ ” . قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ سِوَاكَ قَالَ ” سِوَاىَ ” 
“Akan masuk surga lebih dari jumlah Bani Tamīm dengan sebab syafa’at satu orang dari umatku.”
Dikatakan kepada beliau:
“Ya Rasūlullāh, apakah orang itu adalah selain dirimu?”
Beliau menjawab:
“Ya, dia adalah orang lain selain diriku.”
(Hadits shahih riwayat Tirmidzi)
Bani Tamīm adalah qabilah yang terkenal besar di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. 
Semakin besar iman seseorang, maka akan semakin besar harapan untuk bisa memberi syafa’at kepada orang lain. 
Orang yang banyak melaknat orang lain di dunia tidak bisa memberi syafa’at di hari kiamat.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ الّلَعَانِيْنَ لَا يَكُوْنُوْنَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafa’at di hari kiamat.”
(HR Muslim)
Anak-anak orang-orang yang beriman yang meninggal sebelum dewasa akan memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya. 
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Anak-anak kecil dari orang-orang yang beriman akan menjadi da’āmīsh surga.”
Arti da’āmīsh adalah jentik-jentik nyamuk yang senantiasa ada di kolam.
Maksud beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam  bahwasanya anak-anak kecil tersebut pasti akan masuk surga dan tidak akan meninggalkannya. 
Kemudian beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
“Salah seorang di antara mereka menemui ayahnya atau kedua orang tuanya kemudian memegang pakaian atau memegang tangannya seperti aku mengambil ujung pakaianmu ini. Maka dia tidak akan melepaskan pegangannya sampai Allāh memasukkan dia dan kedua orangtuanya ke dalam surga.”
(HR Muslim)
Ini adalah kabar gembira bagi setiap orang tua yang bersabar ketika diuji oleh Allāh dengan meninggalnya anak yang belum dewasa. 
Puasa dan Al Quran akan memberikan syafa’at.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Puasa dan Al Quran akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk seorang hamba.
Puasa berkata:
Wahai Rabb-ku aku telah menahannya dari makan dan syahwatnya di siang hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.
Al Qurān berkata:
Wahai Rabb-ku sesungguhnya aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.
Maka diterimalah syafa’at keduanya.”
(Hadits Shahih Riwayat Ahmad di dalam Musnad beliau)
Ini adalah dorongan bagi seseorang untuk berpuasa karena Allāh dan menjaga adab-adabnya. 
Dan dorongan untuk membaca Al Quran karena Allāh dan menunaikan hak-haknya. 
Demikianlah mereka akan memberikan syafa’at setelah diizinkan oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala, sebagai bentuk pemuliaan Allāh kepada mereka.
Orang-orang yang bertauhid sajalah yang akan mendapatkan syafa’at.
Adapun orang-orang musyrik, orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka mereka tidak akan mendapatkan syafa’at. 
Allāh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 
فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ
“Maka tidak akan bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberikan syafa’at.”
(QS Al Mudatsir : 48)
Orang-orang yang berdoa kepada Nabi atau Malaikat atau Orang-orang shāleh dengan alasan ingin mendapatkan syafa’at mereka, justru tidak mendapatkan syafa’at, karena mereka telah membatalkan iman mereka dengan menyekutukan Allāh Subhanahu wa Ta’ala di dalam beribadah.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
‘Abdullāh Roy, 

Di kota Al Madīnah

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BIAS

_______________________

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Syafaat bagi pelaku dosa besar ( bagian 2)

🌎 BimbinganIslam.com
Rabu, 09 Rabi’ul Akhir 1439 H / 27 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. ‘Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
🔊 Halaqah 65 | Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar ( Bagian 2)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-AR-S05-H65
______________________________

SYAFA’AT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR ( BAGIAN 2 )

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar (Bagian Kedua)”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan memberikan syafaat untuk umatnya, para pelaku dosa besar yang disiksa di dalam neraka.

Di dalam sebuah hadīts Anas bin Mālik Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, bahwasanya Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan meminta izin kepada Allāh untuk memberi syafaat dan beliau diizinkan.

Maka Allāh akan mengilhamkan kepada beliau pujian-pujian yang sebelumnya tidak pernah diajarkan kepada beliau di dunia.

Dan beliau bersujud, maka dikatakan kepada beliau:

“Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Berkatalah, engkau akan didengar perkataanmu. Mintalah, maka kamu akan diberi. Dan berikanlah syafaat, maka akan diterima syafaatmu.”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

“Pergilah kamu dan keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya ada iman sebesar biji gandum.”

Maka beliau pergi dan melakukannya. Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh Subhanahu Wa Ta’ala dan sujud kepada-Nya, maka dikatakan kepada beliau:

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Berkatalah, maka engkau akan didengar perkataanmu. Mintalah, maka kamu akan diberi. Dan berikanlah syafaat, maka akan diterima syafaatmu.”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Wahai Rābb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau:

“Pergilah kamu dan keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya ada iman sebesar zarrāh atau qārdalah yaitu biji sawi.”

Maka beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi dan melakukannya.

Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh dan sujud kepada-Nya, dikatakan kepada beliau:

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Berkatalah, niscaya akan didengar perkataanmu. Mintalah, niscaya akan diberi permintaanmu. Dan berikanlah syafaat, maka akan diterima syafaatmu.”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Wahai Rābb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau:

“Pergilah kamu dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman yang lebih kecil dan lebih kecil dari sebuah biji sawi.”

Maka beliau pergi dan melakukannya. Kemudian untuk keempat kalinya beliau datang dan kembali memuji dan sujud kepada Allāh, maka dikatakan kepada beliau:

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Berkatalah, niscaya akan didengar perkataanmu. Mintalah, maka kamu akan diberi. Dan berikanlah syafaat, niscaya akan diterima syafaatmu.”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Wahai Rābb-ku, izinkan aku untuk memberikan syafaat kepada setiap orang yang mengatakan ‘Lā ilāha illallāh’.”

Maka Allāh berkata:

“Demi keperkasaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku sungguh Aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengatakan ‘Lā ilāha illallāh.”

Maksudnya adalah orang yang mengatakan ‘Lā ilāha illallāh’ ikhlas dari hatinya dan tidak membatalkannya dengan kesyirikan.

Di dalam Shahīh Bukhāri disebutkan bahwasanya di antara amalan yang bisa menjadi sebab kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam di akhirat adalah membaca do’a setelah mendengar azan, yaitu:

للَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّة وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Dan di antara amalan tersebut adalah bersabar atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madīnah, kemudian meninggal di dalamnya. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوت إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah bersabar seseorang atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madīnah kemudian dia meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat untuknya atau pemberi saksi untuknya di hari kiamat, apabila dia adalah orang Islam.”

(HR Muslim)

Ada dua golongan dari umat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang tidak akan mendapatkan syafaat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي : إِمَامٌ ظَلُومٌ ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ

“Dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafaatku, pemimpin yang zhālim dan setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam agama.”

(Hadīts Hasan Riwayat At-Thābrāni di dalam Al-Mu’jamul Kabīr)

Kita memohon kepada Allāh, semoga Allāh Subhanahu Wa Ta’ala menerima syafaat Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

‘Abdullāh Roy,
Di kota Al Madīnah

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________________

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Lembut tapi Tak Mendidik

Lembut tapi Tak Mendidik

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada dua hal yang seolah bertentangan, padahal sebenarnya seiring sejalan. Keduanya harus ada dalam mendidik anak, sehingga kehadirannya tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Satu hilang, runyamlah pendidikan. Yang satu menguatkan jiwa, yang satu menguatkan pegangan anak pada nilai dan sikap yang jelas. Dua hal itu adalah kelembutan dan ketegasan. Keduanya perlu kita miliki dalam mendidik. Tidak bisa salah satunya saja. Memenangkan kelembutan saja, apalagi jika karena alasan lebih sesuai dengan teori parenting mutakhir, akan dapat menggelincirkan pada sikap meremehkan sunnah berkait dengan ketegasan. Salah-salah bukan hanya meremehkan. Lebih dari itu bersikap nyinyir mencibir atau bahkan merendahkan tuntunan karena dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
Menjadi orangtua adalah perjalanan untuk mengasah keduanya sekaligus dan kadangkala kita perlu melakukan keduanya secara bersamaan. Ini memerlukan usaha untuk melatih diri disertai ilmu. Tanpa mengilmu, maksud hati berlemah-lembut kepada anak, tetapi akibatnya justru tak mendidik. Seolah lembut, padahal yang tersisa hanyalah kelemahan. Hal yang sama juga berlaku untuk ketegasan. Betapa sering ingin menunjukkan sikap tegas, tetapi tanpa takaran yang tepat, terlebih jika tidak disertai ilmu, yang kita maksudkan sebagai ketegasan itu justru menjelma sebagai sikap keras lagi kasar.
Sungguh, sangat berbeda antara keras (apalagi kasar) dengan tegas. Banyak orang keras dan kasar, tetapi tak ada ketegasan pada dirinya. Mereka mudah marah, tetapi keputusannya dengan cepat berubah. Sikapnya beralih karena keadaan atau merasa sedikit terdesak. Saat anak meminta es krim, dengan kasar orangtua menolak. Ketika anak merengek, semakin kasar orangtua menampik permintaan anak. Tetapi begitu ada tamu datang, buru-buru permintaan anak dikabulkan, meskipun dengan cara yang tetap kasar. Uang disodorkan, padahal tadinya menyampaikan kepada anak kalau tak ada uang.

Ini merupakan contoh sederhana bagaimana keras dan kasar itu sama sekali berbeda dengan tegas. Pada kasus tersebut, orangtua bahkan bukan sekedar kasar. Orangtua juga menunjukkan kebohongan yang besar kepada anak. Padahal, ada tuntunan khusus komunikasi orangtua kepada anak di dalam AL-Qur’anul Kariim, yakni berbicara dengan qaulan sadiidan (perkataan yang benar).
Ketegasan itu sangat diperlukan oleh anak. Ia memerlukan keyakinan dan pijakan yang kokoh. Ketegasan mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya bersikap konsisten terhadap aturan, keyakinan dan agama. Komitmen tidak bernilai tanpa konsistensi. Anak tak dapat belajar memiliki komitmen ketika melihat bagaimana perkataan mudah diciderai. Sebaliknya, anak sulit untuk belajar konsisten manakala yang tampak seolah tegas itu identik dengan keras dan kasar.

Keras itu adakalanya diperlukan sejauh takarannya pas. Orangtua memiliki ilmu yang memadai untuk menakar maslahat – madharatnya, pun waktu serta cakupan masalah yang perlu disikapi. Ini berarti, orangtua harus mengilmui agar sikap tersebut tidak rancu dengan kasar, tidak pula membuat anak lari dari dirinya, lebih-lebih dari agama. Cara mendidik inilah yang kita dapati pada diri Asaduddin Syirkuh, paman dari Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi. Menghadapi keponakannya yang cengeng, Asaduddin mendidiknya dengan keras beriring tulusnya kasih-sayang seraya menunjukkan besarnya tanggung-jawab yang kelak harus dipikul oleh Yusuf. Sikap keras itu menghilang seiring terbentuknya kepribadian Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi yang kian kokoh. Kelak kita mengenal Yusuf sebagai pembebas Masjid Al-Aqsha yang sangat dihormati, teguh pendirian, kuat tekadnya dan ia mendapat sebutan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Keras berbeda dengan kasar. Orangtua yang mendidik anaknya dengan keras tetap dapat menunjukkan kelembutan dan kasih-sayang. Sementara sikap kasar menandakan tercabutnya kelembutan dan itu berarti menjauh dari kebaikan. Sikap keras kerap dianggap sama dengan tegas, padahal sama sekali berbeda. Jika kita mendidik anak dengan keras tanpa mengilmui, yang terjadi adalah pola asuh yang keras dan bahkan kasar, tanpa ada ketegasan. Tanpa empati dan kasih-sayang.
Hal yang perlu diwaspadai oleh mereka yang cenderung keras adalah mengendalikan emosi. Cara mendidik yang cenderung keras hanya akan baik apabila dilakukan oleh mereka yang kendali emosinya sangat kuat. Bukan reaktif yang lebih dekat dengan gegabah dan ceroboh. Tanpa mengilmui dan kemampuan mengendalikan emosi, cara mendidik yang keras akan melahirkan permusuhan. Tak ada kepedulian antar saudara, tak ada empati kepada orang lain, termasuk kepada teman sebaya.
Lembut tapi Tak Mendidik
Kelembutan itu membaguskan segala sesuatu yang ia melekat kepadanya. Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali ia akan membaguskannya. Dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu, kecuali akan membawa kepada keburukan. Maka pada sikap tegas, kelembutan itu harus ada. Ketika untuk menegakkan pendidikan kadang harus keras, kelembutan itu harus ada. Tanpa kelembutan, kerasnya sikap menjadi tindakan gegabah dan kasar. 
Begitu pentingnya kelembutan sehingga kita perlu mengilmui agar tak keliru. Jangan sampai mengira sebagai kelembutan, padahal ia sesungguhnya telah menjatuhkan kita kepada sikap yang lemah. Jangan pula karena ingin bersikap lembut, anak justru tidak memiliki keyakinan kokoh dan sikap yang jelas sehingga ketika memasuki usia remaja, terombang-ambinglah dirinya. Ia mengalami krisis. Tanpa mengilmui, sikap lembut hamper-hampir tak ada bedanya dengan sikap tak peduli.
Kelembutan itu menghiasi segala sesuatu. Artinya, sesuatu itu harus ada. Mengasuh mendidik anak harus disertai kelembutan. Ini berarti lembut saja tidak cukup. Jika orangtua melimpahi anak dengan kelembutan tanpa menegakkan tugasnya mengasuh, maka anak akan menuai masalah. Anak kecil belajar mencoba berbagai hal; kadang ia benar, kadang ia salah. Tugas kita membimbing dan memberi respon dengan baik disertai kelembutan sehingga ia dapat belajar dari berbagai kegiatannya. Hanya memberinya kelembutan, tanpa menunjukkan respon yang memadai, anak tak dapat belajar. Jangankan untuk hal-hal yang pelik, sekedar mengucap kata dan berbicara pun, anak perlu rangsang dan respon yang mencukupi, Bukan hanya sering mendengar suara orang berbicara. Rangsang itu antara lain berupa perkataan yang suaranya memang ditujukan kepadanya (shooting voice). Tanpa itu, riuh rendah suara orangtua berbicara maupun bercanda dengan orang lain akan menjadi sekedar kebisingan (noise).
Ada orangtua yang begitu cinta kepada anak. Ia ingin mengasuh dengan lembut. Tetapi yang terjadi, ia hanya menganugerahi anak dengan kelembutan yang tak habis-habis, sementara lisannya tertahan tak bicara. Tak pula sigap ketika anak melakukan sesuatu. Menggeleng dan memberi isyarat dengan jemari memang dapat memahamkan anak tentang maksud kita, tetapi tidak menawarkan pengalaman yang utuh kepada anak. Ia juga kesulitan untuk menirukan bahasa sehingga berdampak sulit memproduksi kata-kata.

Ini hanyalah sekedar contoh. Banyak sekali kasus anak bermasalah bukan karena orangtua kasar. Orangtuanya bahkan sangat lembut. Tetapi manakala tidak diletakkan pada sikap yang ngemong (nurturing) dan responsif, kelembutan itu justru menjadi kelemahan.
Ringkasnya, sikap apa pun perlu kita ilmui. Inilah PR besar sebagai orangtua. Saya pun masih harus terus belajar dan bahkan perlu lebih banyak lagi. Dalam hal ini, peran istri sangat besar untuk senantiasa mengingatkan dan berhenti belajar, termasuk belajar mengendalikan diri.
Catatan:

Tulisan ini sebelumnya saya posting dalam bentuk catatan, tetapi banyak yang lebih menyukai dalam bentuk status FB semacam ini karena dapat langsung dibaca. Lebih mudah. Atas sebab itu, tulisan ini saya posting ulang.
Setelah tulisan ini, insya Allah segera menyusul tulisan lain yang berkait dengan kelembutan. Tulisan berikutnya tentang kelembutan lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai ar-rifq. Sesudah itu, baru membahas tentang al-hilm di dalam tulisan yang berbeda. Semoga ini memudahkan kita dalam mengamalkan mendidik anak.

Sumber Mohammad Fauzil Adzim Page on FB 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Saat Ramadhan Mulai Berkemas

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 18 Ramadhan 1437 H / 23 Juni 2016 M
👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud
📔 Materi Tematik | Saat Ramadhan Mulai Berkemas
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UAA-01
📺 Video Source: https://yufid.tv/12895-kultum-ramadhan-saat-ramadhan-mulai-berkemas-ustadz-afifi-abdul-wadud.html
———————————-

SAAT RAMADHAN MULAI BERKEMAS

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه  ومن والاه

Kita berada dipenghujung bulan Ramadhān. Dan Ramadhān telah mulai berkemas untuk meninggalkan kita, kaum muslimin.

Maka, tidak ada yang lebih baik yang kita lakukan melebihi selalu muhasabah, apa yang telah kita lakukan selama hari-hari yang telah berlalu.

Lihatlah dan perhatikanlah. Apa yang telah Anda lakukan berkaitan dengan puasa Anda?

Berkualitaskah, ataukah sekedar tidak makan, tidak minum tetapi tidak meninggalkan segala perkara yang diharāmkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga hanya mendapatkan puasa yang sia-sia?

√ Lihatlah tentang qiyamul lail Anda, apakah Anda mendapatkan keutamaannya ataukah mendapatkan capeknya saja?

√ Lihatlah tentang shadaqah Anda, berapakah yang telah anda keluarkan dan bagaimana kualitas shadaqah yang Anda keluarkan?

√ Lihatlah tentang bacaan Qurān Anda, telah sampai mana Anda telah menelusuri ayat-ayat Al Qurān yang Anda baca secara lafazh dan sejauh mana Anda mendapatkan faedah dari ayat Al Qurānul Karim?

√ Lihatlah tentang kebaikkan Anda secara umum, jangan sampai Anda menyesal Ramadhān lewat dan Anda belum mengumpulkan sesuatu yang bermakna dalam bulan yang mulia ini.

Saat Ramadhān sudah mulai berkemas….

Maka Anda perhatikan apa yang telah Anda dapatkan dari tarbiyah Ramadhān ?

√ Sejauh mana anda telah belajar ikhlas?

√ Sejauh mana anda telah belajar ittiba’ mengikuti detail-detail dari sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ?

√ Apa yang telah anda dapatkan dari pelajaran kembali kepada Al Qurān, semangat untuk kembali kepada Al Qurān?

√ Apa yang telah Anda dapatkan dari pelajaran muraqabah, perasaan selalu dalam pengawasan Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

√ Dan, apa yang telah anda dapatkan dari pelajaran akhlak yang sangat agung yang dididik selama bulan Ramadhān?

√ Dan apa yang telah anda dapatkan dari semangat untuk menahan hawa nafsu Anda?

Saat Ramadhān telah berkemas….

Maka, sisa waktu yang ada perhatikanlah.

Jangan sampai Anda digulung waktu dan anda hanya bengong tidak melakukan sesuatu yang bermakna.

Seandainya hari anda yang telah lewat kurang bermakna maka gunakan sisa waktu yang ada untuk memaksimalkan amal anda.

Kejarlah kekurangan Anda:

√ Dalam menegakan qiyamul lail,
√ Dalam menjalankan puasa di siang hari
√ Dalam membaca Al Qur’anul karim
√ Dalam memperbaiki akhlak-akhlak harian
√ Dalam menanamkan rasa keimānan kita berkaitan dengan muraqabah,
memaksimalkan  waktu yang ada.

Siapkan mental Anda, benar-benar memiliki mental yang bersemangat tinggi karena sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dikatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ.

“Adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam benar-benar bersungguh-sungguh di sepuluh malam yang terakhir, yang tidak Beliau lakukan pada malam-malam yang lainnya (pada hari-hari yang lainnya).”

(Hadīts Riwayat Muslim no. 1175)

Nabi tentu telah bersungguh sungguh dalam semua waktu yang dimilikinya, akan tetapi kesungguhan di sepuluh hari yang terakhir Beliau maksimalkan.

Beliau tingkatkan tensi amalnya karena hari-hari yang terakhir (sepuluh hari terakhir) di sana ada malam yang lebih baik dari   1000 bulan, lebih dari 83 tahun.

Maka benar perkataan Nabi:

فمَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Barang siapa yang dia diharāmkan dari kebaikan malam itu, sungguh dia telah diharāmkan dikebaikan yang sangat banyak.”

Saat Ramadhān telah berkemas….

Maka, telitihlah kembali apa yang telah Anda raih dari ampunan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bagaimana Allāh yang telah membuka lebar-lebar pintu ampunan Allāh. Mana pintu yang telah anda lalui?

Dengan anda meraih lipat gandanya pahala amal anda, dengan anda telah bertobat dari segala dosa dan maksiat anda, dengan anda telah mengharapkan pembebasan Allāh dari neraka.

Maka sungguh perhatikan diri Anda.

Saat Ramadhān telah berkemas…

Jangan sampai anda menyesal.

Belum tentu Anda masih berjumpa dengan Ramadhān di tahun yang akan datang.

Perhatikan, bagaimana Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan resep bagaimana kita meningkatkan kualitas amal kita,

صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Shalātlah anda  sebagaimana shalātnya orang yang mau mati.”

Bayangkan seandainya Anda yakin bahwasanya ini adalah kesempatan terakhir melakukan shalāt dan tidak ada kesempatan lain kecuali ini.

Maka sungguh anda akan mengusahakan sesempurna mungkin apa yang harus dilakukan.

Demikian pula bayangkan seandainya Ramadhān anda sekarang Ramadhān yang terakhir, maka anda akan berusaha untuk memaksimalkan apa yang harus anda lakukan saat bulan Ramadhān.

Demikian kata Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, “Tingkatkan kualitas amal anda menjadi amal yang paling utama dengan mewarnai, dengan banyak berdzikir kepada Allāh dalam segala amal yang anda lakukan”.

Ketika Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya:

“Yā Rasūlullāh, puasa orang yang bagaimana yang paling berkualitas (utama).”

Maka Nabi katakan:

“Puasa yang paling berkualitas adalah puasa orang yang paling banyak ingatnya (saat berpuasa) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Boleh jadi kita merasakan dan mengetahui berapa banyak orang yang shalāt semenjak takbir mulai kemasukkan berbagai macam pikiran. (Pikiran duniawi, pekerjaan dia, kesibukan dia, masalah dia) sehingga shalātnya dari awal sampai akhir tidak ada dzikirnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bukankah demikian yang sering terjadi pada seseorang?

Maka, setiap ibadah yang paling berkualitas adalah ibadah yang paling banyak di warnai dzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Saat Ramadhān telah berkemas meninggalkan kita….

Maka telitilah, merenunglah, siapkan diri anda , gunakan sisa waktu yang ada. Benar-benar waktu yang sangat bermakna.

Jadikan akhir Ramadhān anda adalah akhir yang husnul khatimah, karena sesungguhnya Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengatakan:

َإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ.

“Sesungguhnya amal itu ditentukan pada akhir amal tersebut.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri no. 6607)

Ramadhān yang telah berlalu, biarlah berlalu. Seandainya anda sekarang baru tumbuh semangatnya, peliharalah dan tuntunlah jiwa anda, dan arahkan jiwa anda. Bersemangatlah untuk menggapai, meraih keutamaan. Jangan sampai Anda sia-siakan.

Ketahuilah, anda tidak mengetahui kapan anda meninggal. Kematian datang mendadak. Tidak ada jaminan dia masih jauh dari kematiannya.

Ketahuilah, kita diintai kematian di mana saja. Dan kematian tidak mengenal umur tua atau muda. Kematian ketika datang tidak akan bisa diundurkan.

Mudah-mudahan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita meniti akhir Ramadhān dengan memaksimalkan amal, memanfaatkan waktu.

Sehingga keluar Ramadhān benar-benar menggapai ampunan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jangan sampai kita mendapatkan do’anya Jibrīl :

“Celaka (sengsara) dan celaka, orang yang bertemu Ramadhān dan Ramadhān meninggalkan dia dalam keadaan tidak diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلّم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
___________________________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar