Tentang Hijab dan Warnanya

# Hijabmu Duhai Ukhti,.. #

Seorang wanita tatkala ia mengenakan busana (berhijab) maka ia mempunyai 2 keadaan,

1. Wanita pertama, ia berhijab adalah dalam rangka “Li daf’in nazhor”, yakni untuk menutup aurat serta melindungi diri dari pandangan laki2 ajnabi (bukan mahram) sehingga ia tidak menjadi sumber fitnah dgn hijabnya.

2. Wanita kedua, ia berhijab adalah dalam rangka “Li jadbin nazhor”, yakni dalam rangka supaya menarik setiap mata yang memandang, tertarik siapapun yang melihat termasuk laki2 ajnabi dan ia bisa menjadi sumber fitnah dengan hijabnya tersebut.

=======

Yang pertama yaitu dengan memakai hijab syar’i, sederhana, tidak menggoda,

Yang kedua dengan memakai hijab modis/gaul, yg dihias-hiasi, berwarna menggoda, atau ketat memperlihatkan bentuk/lekuk tubuh, dan tidak memenuhi syarat-syarat hijab syar’i

****

Mengapa banyak yang berhijab warna hitam?

Salah satu warna hijab terbaik adalah hitam, karena merupakan warna hijab yang paling tidak menggoda dan tidak menimbulkan syahwat bagi yang melihat, dibanding warna-warna lain. Warna hitam juga memiliki dalil dari hadits-hadits sehingga salah besar orang yg melarang hijab hitam karena menganggap sama dgn yahudi atau syiah. Kalaupun syiah atau yahudi banyak yg memakai warna hitam juga maka itu tidak masalah, dan muslimah tetap tidak perlu menghindari warna hitam. Warna putih pun juga bisa sama dengan agama lain, begitu juga warna-warna lain.

Adapun warna hitam untuk (jilbab) para wanita maka telah datang dalam hadits Ummu Salamah –radhiallahu ‘anhaa- ia berkata

Tatkala turun firman Allah (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka) maka keluarlah para wanita dari kaum Anshoor, seakan-akan di atas kepala-kepala mereka ada pakaian seperti burung-burung gagak” (HR Abu Dawud)

Ummu Salamah menyamakan kain khimar yang ada di atas kepala-kepala para wanita yang dijadikan jilbab dengan burung-burung gagak dari sisi warna hitamnya.

Dalil lain yang menunjukan akan bolehnya warna hitam bagi para wanita adalah hadits Ummu Kholid, ia berkata

Nabi diberikan baju-baju, diantaranya ada khomiisoh kecil yang berwarna hitam. Maka nabipun berkata, “Menurut kalian kepada siapakah kita berikan kain ini?”. Orang-orang pada diam, lalu Nabi berkata, “Datangkanlah kepadaku Ummu Kholid !”, maka didatangkanlah Ummu Kholid dalam keadaan diangkat (karena masih kanak-kanak, lihat Umdatul Qoori 31/473-pent), lalu Nabipun mengambil kain tersebut dengan tangannya lalu memakaikannya kepada Ummu Kholid (HR Al-Bukhari)

catatan:

Jilbab syar’i tidak harus berwarna hitam. Yang penting adalah warna-warna yg secara umum tidak menggoda pria, tidak menimbulkan syahwat, dan tidak menarik perhatian (pamer keindahan).

Dan terkadang warna yang tidak menggoda di suatu daerah, namun bisa terlarang di daerah lain karena di daerah tersebut termasuk menggoda.

Jika pakaiannya berwarna-warni (berbagai macam warna dalam 1 pakaian), ditambah aksesoris bunga, dll , atau berwarna menggoda, yang ini menimbulkan godaan dan membuat lawan jenis jadi tertarik, maka jelas tidak dibolehkan.

Jika ada yang berkata: ada pria yg tetap tergoda (timbul syahwat) dgn hijab hitam, maka jawabannya: jumlahnya sangat kecil sekali dibanding yg tidak tergoda, yaitu jika hijabnya syar’i, apalagi bercadar. Jika jilbabnya tidak syar’i (ketat, sempit, modis, gaul, tabarruj, seksi, dihias-hias) maka tentu saja masih menggoda.

»»»»»

# Hijabmu Duhai Ukhti,.. #

Seorang wanita tatkala ia mengenakan busana (berhijab) maka ia mempunyai 2 keadaan,

1. Wanita pertama, ia berhijab adalah dalam rangka “Li daf’in nazhor”, yakni untuk menutup aurat serta melindungi diri dari pandangan laki2 ajnabi (bukan mahram) sehingga ia tidak menjadi sumber fitnah dgn hijabnya.

2. Wanita kedua, ia berhijab adalah dalam rangka “Li jadbin nazhor”, yakni dalam rangka supaya menarik setiap mata yang memandang, tertarik siapapun yang melihat termasuk laki2 ajnabi dan ia bisa menjadi sumber fitnah dengan hijabnya tersebut.

=======

Yang pertama yaitu dengan memakai hijab syar’i

Yang kedua dengan memakai hijab modis/gaul, yg dihias-hiasi, berwarna menggoda, atau ketat memperlihatkan bentuk/lekuk tubuh, dan tidak memenuhi syarat-syarat hijab syar’i

===================================

Syarat-Syarat Hijab (pakaian wanita saat terlihat lelaki yang bukan mahromnya):

Pertama;

Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nuur: 31)

Dan juga firman Allah Subhannahu wa Ta’ala,“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Al Ahzab :59).

Ke dua;

Hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal, tidak menampakkan warna kulit tubuh (transparan/tipis).

Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.

Hendaknya hijab tersebut tidak berwarna-warni dan tidak bermotif.

Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,“Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan (kebanggaan) di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian dibakar dengan Neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan).

Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfum atau wewangian berdasar-kan hadits dari Abu Musa Al-Asy’ary, dia berkata, Bahwa Rasulullah bersabda,“Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina” (H.R Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi, dan hadits ini Hasan)

Ke tiga; Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dan Rasulullah mengutuk seorang laki-laki yang mengenakan pakaian wanita dan mengutuk seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki. (H.R. Abu Dawud an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dan hadits ini sahih).

Catatan : Menutup wajah menurut syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitabnya Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah Fil Kitab Was Sunnah, adalah sunnah (tidak wajib), akan tetapi yang memakainya mendapat keutamaan.

Semoga tulisan ini memberi manfaat bagi seluruh kaum muslimin, terutama para wanita muslimah agar lebih mantap/teguh dalam menjaga hijab mereka.

http://www.alsofwah.or.id

syarat hijab syar’i:

http://rumaysho.com/hukum-islam/pakaian/1615-pakaian-yang-mesti-engkau-pakai-saudariku.html

http://majalahsakinah.com/2011/05/batasan-berjilbab/

http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/saudariku-berjilbablah-sesuai-ajaran-nabimu.html

http://almanhaj.or.id/content/2916/slash/0/mengapa-wanita-harus-berhijab/

Di Salin dari Status Timeline Photo
Page Nasehat Islami

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s