Sebaik – sebaik teman

Sebaik-baik Teman.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sejenak merenungi hadis shahih riwayat Imam Muslim sembari menelisik diri sendiri. Inilah hadis qudsi rasa amat mendesak untuk kita hayati maknanya. Allah Ta’ala berfirman,

“يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا”

“Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah haramkan kezaliman atas diri-Ku & Aku haramkan juga di antara kamu, maka janganlah kamu saling menzalimi.” (HR. Muslim).

Sesungguhnya kekuasaan dan kemuliaan hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Apa pun kedudukan kita hari ini, tak ada kepantasan sedikit pun bagi diri kita untuk merendahkan sesama manusia. Siapa pun orangtua kita, bangsawan atau jelata, lahir dalam keadaan yang sama dan kelak dikuburkan pada tempat yang sama, yakni tanah. Jika suatu ketika ada sebagian manusia merunduk di hadapanmu, maka ketahuilah bahwa sanjungan yang mereka berikan tak akan menjadikan kita mulia di hadapan Allah Ta’ala jika iman kita lemah dan akhlak kita buruk.

Betapa banyak peringatan yang Allah Jalla wa ‘Ala berikan kepada kita. Seburuk apa pun kita, jalan hidayah senantiasa terbuka, kecuali jika kita berbuat zalim. Kezaliman terbesar adalah mempersekutukan Allah Ta’ala dengan apa-apa yang kita anggap agung, mulia atau kuasa. Mungkin kita mencintai Allah Ta’ala, tetapi jika sebesar itu pula kecintaan kita kepada yang selainnya, maka kita perlu bertanya, jangan-jangan kita termasuk yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah, 2: 165).

Mari sejenak kita renungi pula firman Allah subhanahu wa ta’ala:

كَيْفَ يَهْدِى ٱللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا۟ بَعْدَ إِيمَٰنِهِمْ وَشَهِدُوٓا۟ أَنَّ ٱلرَّسُولَ حَقٌّ وَجَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.” (QS. ‘Ali `Imran, 3: 86).

Termasuk perbuatan zalim adalah menindas orang lain, menganiaya sesama manusia, menelantarkan anak dan istri, serta berbuat semena-mena dalam berbagai bentuknya. Sebagian kita boleh jadi bertindak zalim tanpa sadar bahwa tindakan tersebut sudah sangat-sangat menzalimi orang lain. Maka jika kita terjatuh pada tindakan yang demikian, berterima-kasihlah jika ada yang mengingatkan dan ringankan hatimu untuk meminta maaf secara tulus kepadanya. Sungguh, orang yang berkenan mengingatkan pada hakekatnya membukakan pintu hidayah bagi kita setelah nyaris tertutup atau bahkan telah tertutup rapat. Bukankah sangat banyak ayat yang menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tak akan memberi hidayah kepada orang-orang yang zalim?

Ingatlah sejenak ketika Allah Ta’ala berfirman:

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَٱنْهَارَ بِهِۦ فِى نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah, 9: 109).

Semoga Allah Ta’ala selamatkan kita dari sifat munafik. Semoga pula kita terhindar dari menyuburkan kemunafikan, tidak pula menebar benihnya tanpa sadar.

Masih banyak ayat yang menegaskan betapa Allah Ta’ala tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang zalim dengan berbagai bentuk kezaliman yang dimaksudkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ada kezaliman kepada Allah Ta’ala, antara lain syirik; ada kezaliman kepada sesama dan ada juga perbuatan menzalimi diri sendiri.

Sekecil apa pun perbuatan zalim itu, ia dapat menjadi perintang hidayah. Ia juga menjadi kegelapan di Yaumil-Qiyamah. Maka kepada siapa pun yang merasa pernah saya zalimi, maafkanlah saya. Ingatkanlah saya. Semoga kita dapat saling berbenah. Semoga Allah Ta’ala limpahi kita hidayah.

Selebihnya, marilah kita belajar melapangkan hati dan jernih menilai. Tak mudah kecewa ketika ada yang menegur kita, tak terlena saat ada yang memuji dan memberi penghormatan luar biasa. Marilah kita belajar mendidik diri sendiri sembari mengingat bahwa jika hati ini kita biarkan pada kecenderungan untuk menyukai teman yang selalu memuji dan membenarkan ucapan kita, meski ia tahu kita salah, maka justru kita akan dapat tergelincir oleh puji-pujian yang berlimpah. Mereka datang membenarkan apapun ucapan dan tindakanmu sehingga melalaikan dari memeriksa adanya kesalahan langkah pada diri ini.

Sungguh, jika kita hanya menyukai orang yang memuji, maka diri ini akan risih bahkan membenci orang yang mengingatkan dan menegur kita setulus hati. Yang tulus kita jauhi, sementara yang melemahkan jiwa justru kita dekati.

Sesungguhnya, ada teman yang menginginkan kita senantiasa benar dan baik. Ia tak segan menegur bahkan di saat kita ingin acungan jempol. Ada pula teman yang selalu resah saat kita berbuat dosa, mengingatkan kita meski ia tahu kita tak suka mendengar tegurannya. Dan inilah sebaik-baik teman; teman yang menjauhkan kita dari kezaliman dan dosa.

Sumber : https://m.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/sebaik-baik-teman/503670303015436?lul&_rdr#s_14aa9869ff9a8fbc46d48b7c27225b59

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s