Setiap Unsur dakwah penting

Setiap Unsur Dakwah Sangat Penting.
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sejenak merenungi do’a di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 250:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Saksikanlah. Di saat menghadapi musuh yang amat perkasa, yang dipinta sepenuh kesungguhan adalah kesabaran. Bukan kekuatan untuk mampu melumpuhkan. Sesungguhnya dalam kesabaran ada kesediaan untuk menanggung beban, kesulitan dan rasa sakit dalam berjuang.

Kekuatan tanpa kesediaan menanggung kesulitan dan kerelaan bersakit-sakit, justru mudah runtuh. Mudah patah saat sedang berjuang. Kekuatan dan keperkasaan dapat mematahkan serangan bertubi. Tapi ia justru mudah runtuh di hadapan lawan yang penuh kesabaran. Tanpa kesabaran, sosok atau pasukan yang sangat kuat dapat terkalahkan oleh rasa frustrasinya sendiri. Langkah perjuangannya tak kokoh lagi.

Tugas kita bukan memilih peran-peran strategis. Tugas kita bersungguh-sungguh dengan apa yang kita mampu untuk menolong agama ini. Sesungguhnya setiap elemen perjuangan ini sangat penting. Bahkan hingga skrup-skrupnya yang paling kecil pun tak dapat diabaikan. Semua mempunyai peranan penting.

Salah satu perkara yang mudah menjadi ghurur  (terkelabui) adalah menganggap kontribusi besar perjuangan hanya terletak pada posisi tertentu. Akibatnya, yang tak merasa berharga mudah menyerah, yang merasa strategis merasa paling berhak mendapatkan penghormatan elitis.

Adapun yang merasa telah berpayah-payah antarkan gerbong perjuangan atau satu sosok strategis ke gerbang kemenangan, mudah futur ketika merasa perjuangannya sia-sia. Ia berkeringat tapi tak diingat, tak juga turut memperoleh manfaat.  Mereka pun mengambil jalan lain. Apalagi jika bahasa perjuangan telah berubah menjadi bahasa pendapatan, justru dari lisan sosok yang kepadanya ditumpahkan pembelaan.

Jika lalai membenahi diri dan membersihkan niat, kecewanya hati karena bergesernya arah sosok panutan, dapat menjatuhkan pada tana’um (bergaya hidup mewah, bernikmat-nikmat, kemewahan sebagai kebanggaan dan impian). Agama tak lagi ditekuni dan diperjuangkan. Kalau pun kalimat perjuangan itu masih ada, ruh dan jalannya sudah berbeda. Bahkan bisa terjadi, agama hanya menjadi alat perjuangan saja. Bukan yang diperjuangkan dengan keringat dan airmata. Tak ada lagi iltizam (komitmen) terhadap Islam; iltizam terhadap sunnah.

Dislain dari Page Bapak Mohammad Fauzil Adzim

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s