Shalat khusyu’

Pernahkah kita merasakan shalat yang khusyu’ karena iman? Ataukah kita menangis saat shalat karena kesumpekan hati sebelum shalat?

Adakah khusyu’ yang kita rasakan itu karena pengaruh iman? Ataukah justru ia terhitung sebagai khusyu’un nifaq (khusyu’ munafiq)?

Adakah kita gemetar karena menyadari rendahnya diri saat mengucapkan takbir di hadapan Allah Ta’ala Yang Maha Besar?

Ataukah kita memang menghadirkan kesedihan yang mencabik-cabik perasaan sebelum shalat, sehingga tumpah airmata kita saat shalat?

Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jauhilah oleh kalian khusyu’ munafiq.”
Lalu beliau ditanya, “Apa yang dimaksud dengan khusyu’ munafiq?” Dia menjawab: “Engkau melihat jasadnya khusyu’ sementara hatinya tidak”.

Sungguh, tak sama khusyu’ karena iman dengan menangis saat shalat. Sebagaimana khusyu’, tak setiap airmata adalah keinsyafan.

Kadang ia menetes semata karena emosi yang tersulut oleh suasana. Mirip, tapi keduanya sangat berbeda.

Tak setiap tangis dengan menyebut nama-Nya membebaskan kita dari api neraka. Kadang airmata itu jatuh bukan karena takut kepada-Nya.

Tapi terbawa suasana yang mengaduk-aduk emosi (bukan nurani) akibat lengkingan musik amat keras disertai seruan-seruan yang memekakkan
Khusus terkait dengan tangis ini, mari kita bincang sejenak dalam tulisan saya bertajuk Airmata Kesaksian http://t.co/Qc9PJuYu5B

Kembali ke soal khusyu’un nifaq alias khusyu’-nya orang munafiq. Mari kita renungi sejenak peringatan dari Imam Ibnu Rajab:
“Barangsiapa menampakkan (seolah-olah) khusyu’ (padahal) berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya maka itu tidak lain adalah kemunafikan di atas kemunafikan,” Imam Ibnu Rajab. | Apakah yang dapat kita renungkan?

Terngiang-ngiang perkataan Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu yang menyerukan kita untuk menjauhi khusyu’un nifaq.

Betapa tergelincirnya kita kalau kita menyibukkan diri untuk berlatih seakan-akan khusyu’ yang sesungguhnya. Padahal bukan.

Alangkah terkelabuinya diri ini jika mengira tangisan kita penghapus dosa, padahal itu karena terbawa perasaan sebelum shalat.
Na’udzubillahi min dzaalik. Semoga kita terjauhkan dari seolah-olah khusyu’ sehingga kita bahkan yakin telah khusyu’. Padahal bukan.

Mari sejenak kita renungi do’a ini, “اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ > لاَ تَـشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يَسْـتَجَابُ لَهَا” HR. Muslim. | Do’a

“O Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusyu’,
dan dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari do’a yang tak terkabulkan.” HR. Muslim.

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s