Bersetia karena iman

Oleh Muhammad Fauzil Adzim

Bacalah dan renungi ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (QS. Al-Mumtahanah, 60: 1).

Sebagaimana shalat dan puasa, kita harus memiliki wala’ wal bara’ yang jelas dan kuat. Jika keduanya tak ada dalam diri kita, kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Benarkah kita masih beriman kepada Allah Ta’ala dengan sesungguh-sungguh iman? Adakah kita bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa?”

Wala’ wal bara’ dasarnya adalah iman Islam. Bukan fanatisme golongan. Kita bergandengan tangan karena seaqidah, bukan sekadar karena sama-sama satu harakah. Satu kelompok.Dimanapun kita berkiprah dan terlibat dalam kemaslahatan bersama, kita harus berjuang menghindari ashabiyah sehingga tak ada yang lebih penting daripada tegaknya Islam. Bukan sekadar berkibarnya bendera organisasi tempat kita berkiprah.

Jika tak berhati-hati, ashabiyah dapat menggerogoti iman kita. Tampaknya kita makin bersemangat terhadap Islam, tapi makin buta terhadap kekeliruan dan bahkan penyimpangan yang terjadi pada organisasi atau guru-guru kita. Bahkan boleh jadi kita justru mengabaikan kesalahan.

Bersebab ashabiyah, kita dapat memusuhi saudara seiman yang tak sepaham, tapi berjabat erat dengan yang tak seiman. Na’udzubillah min dzalik. Jika ini terjadi, kita bukannya menjadi pendukung dakwah. Justru sebaliknya, menjadi perintang terdepan tanpa merasa bersalah. Di beberapa daerah pusat pemurtadan, penolong orang-orang yang memurtadkan itu justru kaum muslimin yang merasa kepentingannya terganggu. Tetapi yang lebih mendasar lagi, itu bermula dari ashabiyah (fanatisme kelompok) yang dibiarkan tumbuh dalam dirinya.

Inilah yang perlu kita renungi di hari-hari ini. Inilah yang perlu kita pikirkan agar kita tak terjatuh pada kebanggaan terhadap firqah-firqah (kelompok-kelompok), sedemikian rupa sehingga kepentingan agama ini justru tersisihkan.

Maka, jika ada saudaramu yang tak sependapat denganmu, janganlah engkau menyeringai kepadanya seakan engkau tak pernah bersalah sekali pun. Sekiranya ada perbedaan pendapat, berlapanglah dada menerimanya. Ada penyimpangan pendapat karena bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ingatkanlah. Penyimpangan memang tak dapat kita toleransi. Tapi ini kadang terjadi bersebab ketiadaan ilmu atau terhentinya amru bil makruf dan nahy munkar. Maka ingatkanlah mereka, luruskan dan bahkan bila perlu berilah peringatan. Tetapi jangan tergesa-gesa menghakimi mereka. Sungguh amat berat konsekuensi dari tafsiq (menuduh seseorang sebagai fasiq), tabdi’ (menghakimi seseorang sebagai ahlul bid’ah), takfir (memvonis kafir), tadhlil (menghukumi sebagai sesat) ataupun melaknati seseorang atau kelompok. Bukan berarti kita tidak boleh tegas. Bukan. Bahkan kita harus tegas. Tetapi janganlah itu menjatuhkan kita pada sikap tergesa-gesa.

Mari kita ingat sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan renungi:

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Lelaki mana saja yang mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim), ‘Wahai kafir!’, maka perkataan itu akan kembali ke salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ini bermakna, jika kita asal menuduh atau tergesa-gesa menjatuhkan vonis, boleh jadi justru tuduhan itu kembalinya kepada kita. Na’udzubillahi min dzaalik.

Disalin dari : http://t.co/lmoy5R8T9T

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s