Pemakaman sesuai syari’ah

Pertama, Pemakaman Sesuai Syariah
By Mohammad Fauzil Adhim
Unlike·Comment
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Inilah kubur orang-orang mulia, tempat para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dimakamkan. Ini pula kubur kaum muslimin yang wafat di kemudian hari hingga kini. Kalaulah bukan untuk keamanan area pemakaman yang sangat luas itu, niscaya tak ada satu pun tembok yang dapat kita lihat di sana. Tetapi itu bukan tembok pekuburan, melainkan tembok yang memagari area sangat luas demi menghindarkan fitnah. Selebihnya, tak ada kubur yang ditinggikan, tidak pula dibangun dengan pualam.

Area pekuburan itu adalah Baqi’. Tak seorang pun menyangkal kemuliaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in yang dimakamkan di sana kecuali yang rusak aqidahnya. Inilah kesederhanaan makam mereka. Tak seorang pun yang mengingini makamnya ditinggikan, dibangun atas kuburnya kemegahan, kecuali karena ada masalah dalam imannya. Tapi kita perlu bedakan dengan mereka yang tak mengingini kemegahan atas kuburnya, hanya saja orang-orang di belakangnya yang berlebihan.

Teringatlah kita pesan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu tentang pengurusan jenazah apabila beliau wafat. Ia bertutur:

“(أَلْحِدُو ا لِي لَحْدًا, وَانْصِبُوا عَلَىَّ اللَّبِنَ نُصْبًا, كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ (صلى الله عليه وسلم”

“Letakkan aku di lahad dan tegakkan batu bata di atas (jasad)ku sebagaimana dilakukan hal itu terhadap (jenazah) Rasulullah (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam).” (HR. Muslim).

Inilah pemakaman yang dicontohkan oleh seorang sahabat Nabi. Sebuah pelajaran betapa kemuliaan itu bukan terletak pada megahnya kubur. Bukan pula dipengaruhi oleh rindangnya taman yang mengelilingi.

Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا”

“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (HR. Muslim).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya (penghiasan dan kesombongan). Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin maupun Anshar ditembok.”

Membaguskan kubur dan menghiasinya dengan taman, tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada yang dikubur. Ini justru menyelisihi tuntunan. Adapun bagusnya kuburan tidak meringankan siksa bagi penghuninya jika ia seorang pendosa. Justru khawatirlah terjatuh pada bentuk kesombongan.

Jika engkau ingin memuliakan orangtua yang telah meninggal dunia, perhatikanlah tuntunan agar tak terjatuh pada sikap meremehkan sunnah.

Sungguh telah berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

“أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ”

“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.”

Berpijak pada perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagaimana riwayat Muslim ini, menegaskan tak ada keutamaan hiasi kubur. Tak ada pula keutamaan meninggikan, kecuali sekedar sejengkal (sebagaimana dalam riwayat lainnya) semata sebagai tanda bahwa itu kubur. Yang demikian ini hanyalah agar manusia tak menghinakan kubur, tidak pula duduk di atasnya. Ini serupa dengan batu sebagai penanda kubur. Itu saja.

Maka, jika ingin muliakan orangtua yang sudah meninggal dunia, lakukanlah dengan perbanyak mendo’akannya. Bukan membangun kuburnya. Apalagi jika untuk membangun kuburnya, justru menjatuhkan pada hutang piutang ribawi yang memerlukan waktu lama untuk melunasi.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Semoga tidak terjadi fitnah syubhat seakan keasrian pekuburan pengaruhi kebahagiaan si mayit.Semoga pula catatan ini dapat menjawab pertanyaan, meski amat ringkas. Mudah-mudahan kita dapat menetapi syari’ah dengan baik.

Dan sungguh, jika kita bertanya tentang pekuburan yang sesuai syari’ah, maka contoh terbaik adalah kubur dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in yang ketika wafat bahkan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan memberi tuntunan pengurusan jenazah hingga dikuburkan. Makam mereka inilah yang sungguh-sungguh merupakan contohnya sebenarnya pemakaman sesuai syariah. Bukan di tempat lain.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : https://m.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/pertama-pemakaman-sesuai-syariah/521888887860244?_rdr#like_521888887860244

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s