Airmata Kesaksian

Tak setiap airmata adalah keinsyafan. Kadang ia menetes semata karena emosi yang tersulut oleh suasana. Mirip, tapi keduanya sangat berbeda. Tak setiap tangis dengan menyebut nama-Nya membebaskan kita dari api neraka. Kadang airmata itu jatuh bukan karena takut kepada-Nya. Tapi terbawa suasana yang mengaduk-aduk emosi (bukan nurani) akibat lengkingan musik yang amat keras disertai seruan-seruan yang memekakkan.
 
Tak setiap airmata adalah pembersih dosa. Seakan-akan dekat dengan-Nya itu sangat berbeda dengan taqarrub ilaLlah (mendekat kepada Allah Ta’ala). Sangat berbeda. Ingatlah nasehat Imam Hasan al-Basri rahimahullah, “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuanmu menangis pada saat ini!”
 
Inilah peringatan yang disampaikan ketika ada yang menangis saat mendengarkan nasehat beliau. Sungguh, seorang guru ruhani (ustadz, murabbi) berkewajiban meluruskan. Sungguh, seorang guru bertanggung-jawab mendidik orang-orang yang belajar kepadanya agar tak keliru dalam bersikap kepada Allah Ta’ala. Seorang guru harus mendidik iman muridnya. Bukan berbangga ketika banyak yang menangis saat ia bicara atau mensyahdu-syahdukan do’a.
 
Gemetarlah ketika mengingat perkataan Imam Hasan al-Basri rahimahullah tentang orang yang menangis di majelis dengan suara keras. Gemetarlah. Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sekarang setan telah membuat orang ini menangis.”
 
Maka, jangan takjub jika mendengar tangisan bergemuruh memenuhi ruangan yang gelap temaram bersebab musik yang mengaduk-aduk emosi. Ingat kembali nasehat Imam Hasan al-Basri rahimahullah, “Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan KEBENARAN atau KEDUSTAAN dia.”
 
Kepala yang menunduk akan mudah menangis. Ini bukanlah tangisan karena nurani yang bersih, tapi semata karena bergejolaknya emosi. Ingatlah nasehat Imam Fudhail bin ‘Iyyadh rahimahullah, “Menangis itu bukanlah dengan tangisan mata (saja). Tapi dengan menangisnya hati. Sungguh, ada seseorang yang terkadang kedua matanya menangis sementara hatinya mengeras. Karena tangisan seorang munafiq adalah dengan kepalanya bukan dengan hatinya.”
 
Maka, termasuk yang manakah tangis kita?
 
Jika kita mudah menangis saat ada iringan musik menyayat hati, sementara ayat suci atau hadis shahih sulit sekali kita resapi, khawatirlah.
 
Andaikata ada airmata kita yang jatuh, benar-benar karena takut kepada Allah Ta’ala, maka sungguh ia akan menjadi pembebas dari api neraka. Renungilah hadis riwayat At-Tirmidzi tentang airmata takwa ini:
 
 
عَيْنَانِ لاَ تَمُسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
 
 
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api Neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah; mata yang bermalam dalam keadaan berjaga di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).
 
Renungi pula sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu di jalan Allâh tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad dan al-Hakim).
 
Dan lihatlah, betapa berbeda airmata itu.
 
Maka, khawatirilah dirimu jika mudah menangis dengan menyebut nama-Nya bersebab sesuatu yang dibenci-Nya. Dan bukan karena apa yang dicintai-Nya.
 
Renungi sejenak:
 
 
قل آمنوا به أو لا تؤمنوا إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجدا
 
 
Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al-Israa’, 17: 107).
 
 
Bersebab takutnya kepada Allah Ta’ala, mereka menyungkurkan kening seraya menangis. Bukan menyuruh mereka menyungkurkan kening, memperdengarkan kepada mereka musik yang keras atau menyeru mereka dengan suara yang mencabik-cabik emosi agar mereka menangis. Yang pertama, tersentuh hati lalu menyungkurkan kening. Sementara yang kedua, menyungkurkan kening (atau disuruh menyungkurkan kening) agar mudah menangis. Sungguh, sangat berbeda.
 
Ataukah ini yang dimaksud tangisan kepala dan bukan tangisan hati? Termasuk yang manakah tangisan kita? Tangisan orang munafiqkah? Mari kita bertanya pada diri sendiri.

Disalin : http://m.facebook.com/note.php?note_id=472279136154553

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s