Masihkah dunia membuat lupa?

( SEJARAH ) JEJAK PENGHABISAN ISTANA QORUN KONGOMERAT MESIR KUNO YG KUFUR NIKMAT – Al Quran menerangkan tentang penampilan Qarun suka mempamerkan kebesaran dan kekayaannya. Kebiasaannya ia dilakukan tiada motif tertentu kecuali ia merupakan strategi menarik perhatian ramai agar ia dikagumi sebagai idola. Dengan mempamerkan kekayaannya juga bermaksud memberikan pesan bahawa ia mampu melakukan segala-gala, mengupah, membeli dan membiayai apa saja dan berapa saja.Dalam penceritaan selanjutnya al-Quran menyebut tentang adanya kelompok yang memang mengagumi Qarun, iaitu golongan material yang terlalu ghairah untuk menjadi kaya dengan cara apa saja. Mereka ingin menjadi Qarun, kerana ia adalah lambang kejayaan seorang usahawan, kejayaan yang hanya diukur dari jumlah yang tertimbun, tanpa mengambil kira dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Kerana itu Qarun mengakhiri hayatnya dengan nasib yang sangat tragik, hancur luluh ditelah bumi.al-Quran memberikan gambaran, bagaimana Qarun terbenam ke dalam bumi bersama rumah dan isinya sekalian .

Orang yang lemah iman dan cinta dunia, ia akan terpesona dengan kemewahan hidup orang-orang kafir, hingga berangan-angan bisa merengkuhnya dan hidup bersama mereka, manakala menyaksikan kondisi mereka yang selalu terpenuhi dengan fasilitas duniawi yang serba mewah. Seperti yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para pengikut Qarun yang melihatnya dalam kemegahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. [al Qashash/28 : 79].

Itulah gambaran orang yang orientasi hidupnya ditujukan kepada dunia, tidak memikirkan bahwa dunia ini akan musnah. Apalagi bila sempat mencicipi hidup dalam komunitas sosial di negeri kafir, yang lahirnya terlihat asri, hijau, bersih, dengan pemandangan memikat.

Adapun orang yang kuat imannya, ia tidak akan terpana dengannya. Sebab ia membaca pesan-pesan Allah, seperti pada ayat di atas dan pada ayat lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal. [Thaha/20 : 131].

Seseorang yang kuat imannya, akan mengetahui dengan yakin pula, kemewahan yang dinikmati tersebut tidak akan menjadi kebaikan bagi mereka. Sebab ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak; sebenarnya mereka tidak sadar. [al Mukminun/23 : 56].

Bagaimana mungkin merupakan kebaikan bagi mereka, kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala justru akan menjadikannya sebagai sumber bencana bagi? Allah berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. [at Taubah/9 : 55]

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan. [ِAli Imran/3 : 178].

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Janganlah kalian melihat berbagai kenikmatan, kebahagian dan kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di sana, sebagai istidraj semata. Semua yang mereka miliki hanyalah (kesenangan sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.

Imam al Bukhari rahimahullah dan Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan kisah ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu yang memasuki rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjumpai beliau. Ia sangat prihatin dengan keadaan dan sedikitnya harta yang beliau miliki. Umar bercerita : Aku menjumpai beliau. Ternyata beliau sedang berbaring di gelaran di atas pasir tanpa ada (dasar) kasurnya. Kerikil-kerikil membekas pada sisi tubuh beliau. Beliau bersandar pada sebuah bantal terbuat dari kulit yang berisi serabut pohon kurma. Aku pun melontarkan salam kepada beliau…aku duduk ketika melihat beliau tersenyum. Begitu pandangan aku arahkan ke (isi) rumah, demi Allah, aku tidak melihat adanya sesuatu yang memikat pandangan, kecuali tiga kulit samakan. Aku pun berkata:

ادْعُ اللَّهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لَا يَعْبُدُونَ اللَّهَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ لِي

“Mintalah kepada Allah agar memudahkan (kehidupan) umatmu. Sesungguhnya bangsa Persia dan Rumawi, mereka mendapatkan kemudahan (dalam hidup), dan diberi kenikmatan dunia, padahal mereka tidak menyembah Allah”. Sebelumnya beliau bersandar (kemudian duduk), setelah itu berkata: “Apakah engkau masih ragu wahai putra al Khaththab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kenikmatan mereka di dunia in,i” aku (pun) berkata,”Wahai Rasulullah, mintakan ampunan bagiku.”

Lantaran dunia itu bernilai rendah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikannya kepada orang kafir juga. Pemberian di dunia tidak menunjukkan penghormatan bagi yang menerimanya. Sebaliknya, demikian pula dengan terhalanginya seseorang dari rizki, bukan berarti sebagai indikasi penghinaan terhadapnya. Seorang muslim tidak berasumsi demikian.

Disalin dari Yusuf Mansur Network

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s