Kisah Al Mubarak #Buruh Mulia

Disalin dr tweets Ustadz @salimafillah

Ini setutur tentang #buruh , di zaman ketika para pekerja mau mencerdaskan diri & para majikan sudi mendengar suaranya.

Dia Mubarak. Namanya nan berkah mengalir jadi doa untuk kebun anggur yang dia jaga. Panen berlimpah sejak bulan pertama tugasnya.

Maka di bulan ketiga, si majikan meninjau kebun itu. “Mubarak!”, panggil sang tuan, “Ambilkan untukku setangkai anggur terbaik!”

Bergegas Mubarak memilih di antara sulur-sulur anggur; dipetiknya setangkai yang buahnya tampak paling kokoh, liat, & mengkilat.

Diserahkannya anggur pilihannya itu pada sang majikan. Mengernyit sejenak, si tuan mencicipi sebutir. Benar! Masam teramat sangat!

“Mubarak!”, bentaknya, “Apa ini? Anggurnya masam sekali! Apa kau sengaja membuatku marah pagi-pagi? Cari lagi! Pilih yang betul!”

Bergegas Mubarak ke sesuluran. Kalau yang tadi keliru, berarti cari sifat sebaliknya: dipilihnya yang lembek, berair, & kusam.

Begitu diserahkan, murkalah sang majikan. “Dungu! Yang tadi masih mentah, yang sekarang busuk! Tak tahukah kau mana anggur bagus?”

“Tidak, Tuan!”, jawab Mubarak polos. “Celaka! Tiga bulan kau jaga kebun ini dan kau tak tahu yang mana anggur bagus? Apa kerjamu?”

“Maaf Tuan”, Mubarak berkaca-kaca, “Saya tak tahu, sebab tugas yang Tuan embankan ialah menjaga kebun, bukan mencicipi buahnya.”

Ganti sang majikan terperangah. Dia tak menyangka Mubarak akan menjawab demikian. Alangkah jujur, amanah, zuhud,dan wara’-nya.

Sejak itu, hubungan mereka jadi demikian dekat. Penuh kepercayaan, sang majikan memberi tugas-tugas nan kian berat pada Mubarak.

Pun dalam hal-hal pribadi; sang majikan mulai banyak meminta masukan & pertimbangan Mubarak. Satu hari, dia dipusingkan putrinya.

Banyak sekali yang berminat menyunting si cantik semata wayang. Pilihan-pilihan sungguh tak mudah, sulit sekali menjawab lamaran.

“Dengan siapa baiknya kunikahkan putriku satu-satunya itu ya Mubarak? Bantu aku! Berikan pertimbanganmu!”, ujarnya amat sungguh.

Mubarak berkata santun, “Tuan, kudapati kaum yang menikahkan putrinya dengan pertimbangan nasab semata adalah musyrikin Quraisy.

Dan kudapati, menikahkan anak perempuan dengan pertimbangan paras & rupa di zaman ini, dilakukan sebagian orang-orang Nasrani.

Kudapati pula, yang sering menikahkan putri mereka dengan pertimbangan kekayaan ialah sebagian Ahli Kitab dari kalangan Yahudi.

Maka bagimu yang adalah seorang mukmin; yang harus kau pertimbangkan soal calon menantu hanyalah agamanya, imannya, akhlaqnya!”

“Kalau begitu”, senyum si tuan, “Aku tak punya pilihan lain. Bersiaplah hai Mubarak, hari ini kunikahkan engkau dengan putriku!”

Dari pernikahan Mubarak & putri majikannya, kelak lahir ‘Abdullah ibn Al Mubarak; pemuka para tabi’in, ‘alim, zahid, & mujahid.

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s