Betapa miskinnya nabi kita

Betapa Miskinnya Nabi Kita

“Tidaklah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan pada kalian kalau dibentangkan dunia pada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka lakukan lalu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. al-Bukhori: 3791 dan Muslim: 2961).

Inilah hadis shahih tentang kemiskinan dan kekayaan. Inilah hadis yang membuat ‘Abdurrahman bin Auf menangis tatkala ia menikmati roti yang lembut. Maka, masihkah engkau bersandar pada hadis kadal (Kadal fakru ayakuuna kufran, “Hampir-hampir kefakiran itu mendekati kekafiran”) yang sama sekali tidak dapat dijadikan sandaran? Diriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas, sebagaimana riwayat Abu Bakr ath-Thoritsi dalam Musalsalat-nya: 127-131 dan hadisnya adalah maudhu’ (palsu). Syaikh Al-Albany men-dho’if-kannya dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr.

Maka sesudah mengetahui rusaknya hadis ini sebagai dalil, tidak patut bagimu untuk berhujjah dengan hadis ini dan menyebarkannya kepada manusia agar bergegas memburu kekayaan. Jika kita menyebarkannya karena tidak tahu, maka kita termasuk orang yang bodoh (semoga Allah Ta’ala ampuni kita). Tetapi jika kita telah mengetahui dan secara sengaja menyebarkannya, sungguh ini merupakan tindakan yang sangat berani dan menistakan kemuliaan nabi.

Sama kejinya dengan orang-orang yang berdusta atas nama ‘Ali bin Abi Thalib ra. tatkala menisbahkan perkataan ini kepadanya, “Seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, niscaya aku yang akan membunuhnya.”

Jika engkau bertanya, bukankah Nabi saw. sangat kaya raya? Maka izinkan pula aku bertanya, apa yang bisa engkau katakan tentang keadaan manusia mulia ini tatkala wafat? Bukankah tatkala wafat baju perang beliau masih tergadai kepada seorang Yahudi demi memperoleh 30 sha’ gandum? Maka apakah engkau akan menyembunyikan sejarah hanya karena ingin meraup harta yang banyak dari mereka yang terpukau kepadamu?

Mari kita kenang sejenak penuturan Zaid bin Tsabit, “Anas bin Malik, pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras yang di patri dengan besi, lalu Anas berkata, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah.’” (HR. Tirmidzi) “Dengan gelas kayu itulah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu, dan susu.” (HR. Tirmidzi) dari Anas bin Malik.

Kita merindukan sosok semacam ‘Abdurrahman bin ‘Auf maupun Utsman bin ‘Affan yang kaya raya. Tetapi mereka bukanlah orang yang haus harta dan sangat bersyahwat terhadap dunia. Mereka kaya sebagai akibat. Bukan tujuan. Ataukah kita sebut-sebut mereka hanya sebagai pembenar terhadap syahwat kita kepada kekayaan? Kita menyebut nama mereka, tetapi tidak meneladani kehidupan mereka. Kita berbincang apa yang bisa kita lakukan jika kaya rasa, tetapi itu hanya sebagai pelengkap betapa manisnya kekayaan. Bukan karena merindukan amal shalih mereka. Pertanyaannya, bukankah ini pula yang telah menggelincirkan Tsa’labah?

Disalin dr FP Bapak Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s