Do’a memohon rasa takut

Do’a Memohon Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Inilah do’a yang Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya, di antara keberuntungan seseorang adalah tertanam kuatnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya di antara kerugian manusia dalah kecintaan kepada dunia dan menjadikannya sebagai cita-cita tertinggi, sehingga amal akhirat pun untuk meraih dunia.

Sejenak, marilah kita tundukkan hati dan merenungi do’a ini:

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami” (HR Tirmidzi dan Hakim).

Lalu, dimanakah tempat kita kelak jika rasa takut itu nyaris tak ada atau bahkan sama sekali tidak ada dalam diri kita? Dengan siapakah kita kelak akan dikumpukan jika sekarang kita merasa berbangga-bangga dengan amal yang sedikit. Dan bahkan merasa terlalu banyak beramal sehingga meminta sebagian pahalanya di dunia, dan menyisakan sebagiannya untuk akhirat. Bukankah ini pertanda persangkaan yang buruk kepada-Nya dan tidak adanya keyakinan yang kuat kepada-Nya?

Betapa jauhnya kita dengan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in? ‘Ibadah dan ‘amal shalih mereka sangat luar biasa. Tapi mereka sangat khawatir amalnya tak diterima.

Do’a Sederhana Seorang Hamba

Inilah do’a yang dipanjatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu tatkala manusia memujinya. Salah satu dari 10 shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in yang dijamin masuk surga ini bukan menunjukkan kegembiraan, bukan juga membalas dengan memberi pujan yang bertubi-tubi. Tetapi beliau memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dengan berdo’a:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman

Betapa berbedanya dengan kita sekarang ini. Jika dulu para salafush-shahih berhati-hati menerima pujian, bahkan tidak suka dengannnya, hari ini betapa banyak di antara kita yang bahkan tak sabar menunggu pujian orang sehingga ia memberi julukan yang memuji diri sendiri. Ia meninggikan diri dengan sebutan-sebutan yang andaikata disematkan orang lain pun, kita tak pantas menerimanya.

Jika Imam Nawawi rahimahullah menolak diberi gelar Muhyiddin, padahal ia memiliki kepantasan untuk menyandang gelar itu, mari kita ini kita dapati orang-orang di zaman kita memberi julukan yang sangat tinggi, bersebab mereka mengikuti ajaran NAM melalui NLP dan sejenisnya.

Nah. Apakah yang dapat kita renungkan?

Disalin dari FP Mohammad Fauzil Adhim Notes

Tentang Auliyanti

Simple person, manusia bodoh yg sedang belajar dan terus memperbaiki diri
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s