Sifat penghuni surga dan sifat penghuni neraka

Ibnu Wahb mengatakan : Aku mendengar Ibnu Zaid Berkata :

” Allah Subhanahu wataala Mensifati Penduduk Surga Dengan Rasa Takut, Rasa sedih, Banyak menangis, Serta Rasa Kasihan ketika hidup didunia, Maka Karna Itulah Allah Memberikan kepada mereka Kenikmatan Dan Juga kebahagiaan Di akhirat.
Kemudian Ia membaca Firman Allah – azza wajalla- :

قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab).
(Surat Ath-Thur, Ayat 26)

Kemudian ia Berkata : Dan Allah Azza wajalla Mensifati Penduduk Neraka Dengan Kebahagiaan, Sering Tertawa dan Berbagai macam Kesenangan Didunia.

Kemudian ia membacakan Firman Allah Azza wajalla :

إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا
Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).
(Surat Al-Insyiqaq, Ayat 13)
إِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ
Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).
(Surat Al-Insyiqaq, Ayat 14)

📝Sumber : At-tdzakirah bi akhwalil mauta wa umuuril Akhira

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Doa agar anak terhindar dari zina

Doanya Adalah :

اللهم اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ .

Allahummaghfir zanbahu watohhir qalbahu wahassin farjahu .

Artinya : Ya Allah ampunkan dosanya ,sucikanlah hatinya (dari memikirkan sesuatu maksiat) ,dan jagalah kemaluannya (dari melakukan zina).

#copas dari ceramah Ustadz Zainudin Al Banjari

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hukum Flek coklat sebelum haid

KUPAS TUNTAS HUKUM FLEK COKLAT KETIKA HAID

👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗

👤 Fatwa Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullah

📬 Pertanyaan:
Di permulaan siklus haid yang saya alami keluar flek kekuningan dan yang dominan warna kecoklatan. Flek ini terus keluar sejak hari pertama sampai hari kedua atau ketiga. Setelah itu keluar darah haid sebenarnya. Apakah flek coklat yang keluar di hari tersebut dianggap sebagai haid ataukah bukan? Dan diakhir flek tersebut keluar darah hitam, apakah termasuk haid ataukah bukan?

📨 Jawaban:
Alhamdulillah,

👉 Kondisi pertama:
Flek coklat yang keluar sebelum haid
Jika flek ini:

☑ Keluar di masa haid yang menjadi kebiasaannya atau keluar selang sebentar sebelum masa haid,
☑ Disertai rasa sakit dan nyeri haid,
☑ Bersambung dengan darah haid maksudnya setelah keluar flek coklat lalu keluar darah haid,
maka flek ini bagian dari darah haid yang menjadi kebiasaannya. Wanita tersebut dilarang mengerjakan shalat dan puasa.

👉Demikian juga jika flek coklat keluar selama satu atau dua hari, diiringi rasa sakit haid kemudian di hari ketiga baru keluar darah haid sebenarnya maka seluruhnya dihitung sebagai haid.

Pendapat inilah yang dipilih Syaikh Ibn Baz rahimahullah akan tetapi beliau hanya memberi syarat flek tersebut bersambung dengan darah haid saja. Beliau tidak mensyaratkan adanya rasa nyeri haid. Syarat harus ada nyeri haid ini merupakan pendapat lama Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Adapun pendapat beliau yang terbaru, sama sekali tidak menganggap flek coklat sebagai haid.

💠• Dalam Tsmaratut Tadwin’An Ibn ‘Utsaimin hal.24, didalamnya Syaikh Ibn Ustaimin menyatakan:
“Yang nampak bagiku dan yang membuat tenang jiwaku kepadanya bahwasanya haid hanyalah darah yang keluar. Adapun flek kekuningan atau kecoklatan bukan termasuk haid meskipun keduanya keluar sebelum keluarnya cairan putih. Allahua’lam.”

💠• Di dalam kitab yang sama disebutkan:
“Seorang wanita mengeluarkan flek coklat selama tujuh hari. Kemudian setelah itu keluar darah haid sebenarnya selama sisa bulan itu. Kemudian bersih (tidak haid) terkadang sampai tiga bulan. Apa hukum darah dan flek coklat tersebut?

👉 Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:
“Semua darah tersebut termasuk haid. Adapun flek keruh kecoklatan tidak dianggap haid sama sekali.”
(Tsamaratut Tadwin hal. 24-25)

🌸 Adapun yang menguatkan pendapat yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa flek coklat keruh yang keluar sebelum haid termasuk haid jika keluar di masa haid, keluar bersambung dengan darah haid serta diiringi rasa nyeri haid adalah dikarenakan flek coklat dan kekuningan termasuk salah satu warna-warna darah menurut pendapat mayoritas ulama pakar fikih.

Haid adalah pecahnya dinding rahim yang terdapat darah dan kotoran didalamnya. Sehingga darah keluar dengan warna yang berbeda-beda dan berdegradasi. Dimulai dengan darah hitam pekat atau kehitam-hitaman kemudian memudar menjadi warna keruh kecoklatan atau kekuningan. Dan terkadang yang terjadi sebaliknya. Darah haid dimulai dengan warna kekuningan atau keruh kecoklatan kemudian keluar darah. Nanti akan ada penjelasan hadits’Aisyah radhiyallahu ta’ala’anha yang menunjukkan bahwa cairan kekuningan dan keruh sebelum suci termasuk haid.

👉 Sebenarnya tidak ada perbedaan flek kekuningan atau kecoklatan yang keluar sebelum suci dengan flek yang keluar di masa haid sebelum keluar darah haid yang disertai dengan tanda-tanda haid seperti sakit dan nyeri.

Jika ada yang berkata, tidak ada syarat kecuali hanya bersambung dengan darah haid sungguh ini juga merupakan pendapat yang kuat. Sebagaimana pendapat yang disampaikan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dengan catatan flek tersebut keluar dimasa haid.

👤 Ulama pakar fikih madzab Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa flek coklat dan kekuningan yang keluar di masa haid termasuk haid. Flek disini mencakup flek yang keluar di permulaan haid. Wallahua’lam.

👤 **Ulama madzab Malikiyyah dan Syafi’iyyah berpendapat flek coklat keruh dan kekuningan termasuk haid secara mutlak atau di waktu yang memungkinkan (keluar flek coklat). Tentunya hal ini mencakup jenis flek yang keluar sebelum darah haid. Sebagaimana hal ini bukan rahasia lagi.**

Sebagai tambahan, silahkan lihat ‘Mausu’ah Ahkamu At-Toharah’ karangan Syaikh Abu Umar Ad-Dubayyan hafizahullah, (6/281-299). Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, (1/296), Al-Mughni (1/202), Al-Majmu’ (2/422).

👉 Kondisi Kedua:
Flek coklat dan kekuningan keluar setelah darah haid

💉 Flek coklat keruh dan kekuningan yang keluar setelah darah haid dan sebelum suci maka termasuk haid. Berdasarkan sebuah riwayat Malik dalam Al Muwaththa’ No.130 dari Ummu’Alqamah beliau berkata:

كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدُّرْجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنْ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَ

“Dahulu para wanita mengirimkan kepada ‘Aisyah, ibunda kaum mukminin radhiyallahu’anha dengan membawa wadah yang berisi kapas yang terdapat flek kekuningan karena darah haid. Mereka bertanya hukum shalat ketika keluar flek tersebut. Maka’Aisyah radhiyallahu’anha menjawab untuk mereka:
‘Janganlah kalian tergesa-gesa sampai kalian melihat cairan putih sebagai tanda berhenti dari haid.”
[Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil No. 198) dan diriwayatkan Imam Bukhari secara mu’allaq (Kitabul Haid]

👉 Kondisi Ketiga :
Flek coklat keruh dan flek kekuningan yang keluar setelah suci dari haid.

🌺🏷Flek yang keluar setelah suci dari haid tidak lagi dianggap sebagai haid.
Berdasarkan hadits Ummu’Athiyab radhiyallahu’anha:

كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الطهر شيئا

“ Dahulu kami sama sekali tidak menganggap sebagai haid flek keruh dan kekuningan yang keluar setelah suci.
[HR. Bukhari No. 320, Abu Dawud No. 307, An Nasai No. 368 dan Ibnu Majah No. 647 dan lafal hadits diatas milik Abu Dawud]

🌍 Sumber: http://islamqa.info/ar/179069
📂 Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitasalihahCom

🔰 @Manhaj_salaf1

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Standar kebaikan disisi ALlah

Standar Kebaikan Seseorang Di Sisi Allah

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
Takhrij singkat hadits

Hadits ini shahih. Dikeluarkan oleh al-Bukhari (71) dan Muslim (1037, 98).
Penjelasan hadits

Al-Imam an-Nawawi (676 H) di dalam kitabnya Riyadhush Shalihin menyebutkan empat ayat yang berkenaan dengan keutamaan ilmu dan ahlinya. Ayat-ayat yang beliau bawakan adalah:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“…dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaha: 114).

Dan firman-Nya:

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9).

Dan juga firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dan firman-Nya pula:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang berilmu)…” (QS.
Fathir: 28).

Yang dimaksud dengan ilmu, yang telah diterangkan di dalam dalil-dalil tentang keutamaan, pahala, dan ketinggian derajat orang-orang yang menuntutnya serta merupakan warisan para Nabi; adalah ilmu syariat, baik yang berkenaan dengan akidah (keyakinan) maupun amal (praktek ibadah). Inilah ilmu yang penuntut dan orang yang mempelajari dan mengajarkannya terpuji di sisi Allah. Bukan ilmu yang berkaitan dengan dunia, seperti ilmu perhitungan, ilmu teknologi dan yang sejenisnya. Dan menuntut ilmu merupakan jihad fi sabilillah dan setara dengannya, sebagaimana diterangkan dalam kitabullah. Hal itu disebabkan; orang yang tidak berilmu (tidak mengetahui) tidak mungkin baginya untuk beramal ibadah sesuai dengan apa yang dimaksud dalam syariat. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS. At-Taubah: 122).

Maksud ayat ini; mengapakah sebagian dari kaum mukminin tidak pergi berjihad ke medan perang di jalan Allah, dan sebagian yang lainnya tetap tinggal guna memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada yang lainnya sepulang mereka kembali dari medan perang?

Sehingga, dalam ayat ini Allah setarakan antara tafaqquh fid din (mempelajari agama) dan jihad fi sabilillah. Bahkan belajar agama lebih utama daripada berperang di jalan Allah. Karena tidak mungkin seorang mujahid dapat berjihad, seorang yang shalat dapat melakukan shalat dengan benar, seorang pembayar zakat membayar zakatnya dengan tepat, orang yang berpuasa dapat berpuasa dengan baik, seorang yang berhaji dan umrah melaksanakan ibadahnya; melainkan apabila ia berilmu dan memahami tata cara ibadah-ibadah tersebut dengan benar. Bahkan tidak mungkin orang yang makan, minum, tidur, dan bangun kembali melaksanakan semua aktifitas tersebut dengan baik dan benar melainkan dengan ilmu pula. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa ilmu merupakan dasar dan landasan segala sesuatu. Oleh sebab itulah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Tidak ada perbedaan antara mujahid yang membawa persenjataannya dan penuntut ilmu yang berusaha membahas permasalahan ilmu dari kitab-kitab induk agama Islam, karena masing-masing dari mereka beramal dan bekerja di jalan Allah. Orang yang pertama berjihad menegakkan dan membela agama Allah, sedangkan yang kedua berusaha menjelaskan syariat Allah kepada seluruh hamba Allah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin, meletakkan Bab Ilmu setelah Bab Jihad; sebagai penjelasan bahwa ilmu semisal dengan jihad. Bahkan, sebagian ulama lebih mengutamakan Ilmu di atas jihad fi sabilillah. Namun pendapat yang benar adalah dengan perincian dan dengan mempertimbangkan keadaan; di antara kaum Muslimin ada yang jihad lebih sesuai dan utama baginya, dan di antara mereka ada yang menuntut ilmu lebih baik baginya. Maka, jika seorang Muslim memiliki kekuatan dan keberanian yang unggul, akan tetapi di dalam ilmu ia sangat kurang atau pas-pasan saja, sedikit hafalan ilmunya, sulit memahami ketika mempelajari ilmu, maka di sini kita katakan, berjihad (berperang di jalan Allah) lebih utama baginya. Namun jika keadaan seorang Muslim sebaliknya, ia tidak memiliki kekuatan tubuh yang prima, atau tidak memiliki keberanian hati yang kokoh, akan tetapi ia memiliki kekuatan hafalan, pemahaman dan kesungguhan yang baik dalam menuntut ilmu; maka menuntut ilmu lebih utama baginya. Namun jika kedua sisinya sama, maka di antara ulama ada yang tetap lebih mengutamakan menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan dasar dan landasan utama setiap Muslim. Juga, dengan ilmu semua orang dapat merasakan manfaatnya, orang yang jauh maupun yang dekat, orang yang hidup saat itu dan orang yang dilahirkan kemudian. Bahkan akan bermanfaat bagi penuntutnya di masa hidupnya dan setelah matinya. Sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا مات الإنسانُ انقطع عنه عملُه إلا من ثلاثةٍ : إلا من صدقةٍ جاريةٍ . أو علمٍ ينتفعُ به . أو ولدٍ صالحٍ يدعو له

“Jika manusia meninggal dunia terputuslah darinya seluruh amalannya, kecuali tiga hal; sedekah yang terus menerus, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim (1631) (14)).

Semua orang membutuhkan ilmu, baik mereka para Nabi ataupun bukan. Semua orang membutuhkan ilmu. Oleh karena itu Allah perintahkan Nabi-Nya untuk mengucapkan:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“…dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”” (QS. Thaha: 114).

Para Rasul membutuhkan ilmu dan pertambahannya. Sebagaimana mereka pun berdoa dengan memohon kepada Allah agar Allah menambahkannya. Maka, jika keadaan para Nabi dan Rasul saja demikian terhadap ilmu, tentunya orang-orang selain Nabi dan Rasul lebih membutuhkan lagi.

Sudah sepantasnya seorang hamba meminta kepada Allah agar ditambahkan ilmu kepadanya. Dengan demikian, wajib baginya berusaha mencari ilmu. Adapun jika sekedar berdoa saja dengan mengatakan, “Ya Allah tambahkan ilmu kepadaku”, namun tanpa ada usaha dengan melakukan sebab bertambahnya ilmu, maka ini jelas tidak dibenarkan sama sekali dan bukan sikap yang bijaksana. Orang yang demikian, sama halnya dengan orang yang berdoa, “Ya Allah, berikan rizki seorang anak kepadaku”, namun ia tidak mau menikah sama sekali. Maka, dari mana ia akan memperoleh anak? Jadi, harus dengan usaha melakukan sebabnya, karena Allah itu Maha Bijaksana. Ayat ini juga merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu. Pada ayat ini Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku harta” Bahkan Allah berfirman pula kepada Nabi-Nya:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari
mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih
baik dan lebih kekal” (QS. Thaha: 131).
Klasifikasi Ilmu Syar’i Ditinjau Dari Sisi Hukumnya

Ilmu Syar’i terbagi menjadi dua bagian; pertama bagian yang berhukum fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Dan bagian kedua adalah fardhu kifayah, yaitu ilmu yang jika sebagian orang telah mempelajarinya, maka orang lain yang tidak mempelajarinya tidak berdosa. Dan ada pula bagian yang ketiga, namun sebenarnya itu merupakan bagian dari yang kedua, yaitu yang berhukum sunnah, maksudnya; ilmu yang jika sebagian orang dalam jumlah tertentu telah mempelajarinya, maka orang-orang yang tidak mempelajarinya tetap disunnahkan untuk mempelajarinya.

Adapun bagian yang pertama, maka yang dimaksud adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan perkara-perkara yang wajib dipelajari setiap Muslim dalam agamanya. Seperti ilmu tauhid dan mempelajari segala perkara yang dapat membatalkannya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Juga seperti shalat, karena shalat ini wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama ia masih berakal sehat. Wajib baginya mempelajari tentang shalat sebagaimana wajib pula mempelajari hal-hal yang merupakan syarat keabsahan shalatnya, seperti bersuci dan segala hal yang berkenaan dengannya. Itu semua agar ia beribadah kepada Allah di atas kebenaran.

Adapun zakat, maka ini tidak wajib bagi setiap orang untuk mempelajarinya. Orang-orang yang berharta sajalah yang wajib mempelajarinya agar ia mengetahui dan memahami nishab (ukuran zakat) dan berapa yang wajib dikeluarkannya, juga kepada siapa disalurkan zakatnya tersebut.

Shaum (berpuasa), ini wajib dipelajari oleh setiap Muslim. Ia wajib mempelajari hal-hal yang membatalkan puasa, dan segala sesuatu yang mengurangi keutamannya, dan seterusnya. Haji, ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Yang wajib mempelajarinya adalah orang yang telah mampu untuk melaksanakan ibadah haji ini, agar ia berhaji dengan benar sesuai tuntunan syariat.

Jual-beli, hukum-hukum yang berkenaan dengan jual beli ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Akan tetapi ilmu ini wajib diketahui oleh orang yang berniaga, berbisnis dan berjual-beli. Wajib baginya untuk mempelajari apa saja jual-beli yang diharamkan dan apa saja yang dibolehkan secara syariat. Itu semua, demi kebenaran jual-belinya agar di atas petunjuk yang benar. Dan begitulah seterusnya.

Adakah Sesuatu Yang Lebih Mulia Dari Ilmu? Baca selengkapnya di website kami. Klik

https://muslim.or.id/27492-standar-kebaikan-seseorang-di-sisi-allah.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Parenting is A Journey

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Banyak yang ingin menjadi orangtua ideal, tetapi yang dilakukan saat mengasuh mendidik anak justru sering bikin kesal. Orangtua belajar banyak hal, tetapi rasanya jauh sekali dari kenyataan. Apa yang ditulis orang maupun uraian para pakar seolah tertinggal di awang-awang, tanpa mampu diterapkan. Ingin sekali sabar, tetapi yang kerap keluar justru ekspresi gusar. Ingin sekali lembut, tetapi yang dirasakan oleh anak justru orangtua yang kerap bikin cemberut.

Jika sekiranya kita termasuk yang mengalami kondisi tersebut, mari kita buka buku Parent-Child Relations: A Guide to Raising Children (2013) karya Hisham Attalib dan kawan-kawan. Buku ini menyarankan agar orangtua lebih sering bertemu dan berbagi dengan orangtua lain yang lebih berpengalaman. Belajar dari orangtua sukses yang berpengalaman sangat bermanfaat untuk memberi gambaran kepada kita bagaimana menerapkan ilmu yang sudah kita miliki di dalam mengasuh anak setiap hari. Pengalaman dan cara pandang kita bukan ada yang berbeda, dan itu sangat wajar, tetapi pengalaman mereka sangat bermanfaat bagi upaya kita untuk berubah. Jika ada komunitas kecil yang dapat dipercaya, saling terbuka dalam hal mendidik anak terhadap sesame anggota komunitas dan sekaligus saling menjaga rahasia dengan tidak menceritakan kepada orang lain, akan lebih bagus lagi.

Menjadi orangtua ideal memang luar biasa hebat. Tetapi banyak dari kita yang tidak bisa tiba-tiba ideal. Kita melakukan kesalahan, bahkan yang sangat tidak kita harapkan, dalam mengasuh anak-anak. Itu merupakan hal yang lumrah. Yang paling penting, hati kita harus tetap jernih; berusaha untuk senantiasa berbenah. Ingatlah perkataan yang ditulis oleh Hisham Attalib dan kawan-kawan tersebut, “Keep parenting lighthearted. Tell yourself that although we may commit “stupid” mistakes innocently, you cannot spell “STUPID” without U & I.”

Kerapkali kita mendengar nasehat baik yang kadang bikin orangtua justru serasa berputus asa; menguburkan cita-cita memiliki anak yang bahagia berlimpah kebaikan. Kita mendengar nasehat bijak yang mengatakan, “Kalau ingin mempunyai anak yang rakus membaca, kita sendiri yang lebih dulu harus rakus membaca. Kalau kita ingin mempunyai anak hafal Al-Qur’an, kita sendiri harus hafal Al-Qur’an. Kalau kita ingin mempunyai anak yang hebat, maka kita harus memantaskan diri dengan menjadi orangtua yang hebat.” Ini maksudnya barangkali untuk memotivasi orangtua. Tetapi adakalanya justru membuat ciut nyali. Padahal kita melihat betapa banyak anak-anak hebat yang lahir dari keluarga buta huruf. Kita mendengar betapa banyak anak-anak yang sangat tinggi keluhurannya, padahal salah satu atau kedua orangtuanya memiliki masa lalu yang kelam. Lalu mengapa bisa demikian? Teladan berupa semangat, kecintaan serta dorongan kepada kebaikan itu sama pentingnya dan bahkan bisa lebih penting daripada kebaikan itu sendiri, sebagaimana niat lebih menentukan dibandingkan amal kita. Keinginan kuat orangtua kepada kebaikan, kemuliaan dan kecemerlangan beserta kerinduan untuk berbenah dapat memberi pengaruh yang lebih besar dibandingkan kebaikan itu sendiri. Inilah pelajaran lain yang dapat kita petik dari Parent-Child Relations karya Hisham Attalib dan kawan-kawan.

Jadi, kalau hari ini kita masih teramat jauh dari kriteria minimal sebagai orangtua yang baik, itu bukanlah pertanda kiamat. Ingatlah mengasuh anak merupakan perjalanan panjang. Parenting is a journey, not travelling. Anda sama dengan saya: sama-sama masih jauh dari seharusnya. Boleh jadi Anda jauh lebih baik daripada saya. Dan itu berarti, kita berada pada titik untuk berubah, berbenah dan menunjukkan kepada anak keinginan kita untuk berbenah tersebut. Semoga anak-anak terinspirasi untuk senantiasa berbenah.

Jika ada yang mengatakan, sekali berbuat salah selamanya tidak dapat kita perbaiki, maka ingatlah bahwa dia bukan Tuhan. Kita bukan ingin memudah-mudahkan diri berbuat salah. Bukan pula meremehkan kesalahan. Tetapi kita perlu ingat bahwa jika Tuhan senantiasa membuka pintu kesempatan untuk berbenah bertaubat, maka apa hak manusia untuk menutup pintu perbaikan? Mengapa kita harus berputus asa?

Di salin dari ;

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1125469247502202&id=183316298384173

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Link Bacaan bermanfaat

*📡 FLASH INFO WEBSITE WWW.BIMBINGANISLAM.COM*
_🗓 5 Ramadhan 1439H / 21 Mei 2018M_

*1⃣ BiASQA*

🌐 Judul : Sutrahnya Makmum Ketika Shalat Berjamaah
Penulis : Ustadz Abul Aswad Al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/sutrahnya-makmum-ketika-shalat-berjamaah/

🌐 Judul : Hukum Menerima Infak dari Harta Haram dan Donatur Non Muslim
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/hukum-menerima-infak-dari-harta-haram-dan-donatur-non-muslim/

🌐 Judul : Nama dan Sifat Allah Tergolong Ayat Mutasyabihat
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/nama-dan-sifat-allah-tergolong-ayat-mutasyabihat/

🌐 Judul : Bersabar Menghadapi Ancaman Orang Tua dalam Mempertahankan Prinsip Agama
Penulis : Ustadz Abul Aswad Al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/bersabar-menghadapi-ancaman-orangtua-dalam-mempertahankan-prinsip-beragama/

🌐 Judul : Larangan Berpuasa Setelah Pertengahan Bulan Syaban
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/larangan-berpuasa-setelah-pertengahan-bulan-syaban/

🌐 Judul : SHolat Sunnah 2 Rakaat Sebelum dan Setelah Keluar Rumah
Penulis : Ustadz Abul Aswad al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/sholat-sunnah-dua-rakaat-sebelum-dan-setelah-keluar-rumah/

🌐 Judul : Hukum Hijrah dari Negeri Kafir
Penulis : Ustadz Abul Aswad al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/hukum-hijrah-dari-negeri-kafir/

🌐 Judul : Datang ke Candi dalam Rangka Bertugas
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/datang-ke-candi-dalam-rangka-bertugas/

🌐 Judul : Hukum Pengojek Menunggu Penumpang di Masjid
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/hukum-pengojek-menunggu-penumpang-di-masjid/

🌐 Judul : Menggunakan Video untuk Berdakwah di Media Sosial
Penulis : Ustadz Abul Aswad Al-Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/menggunakan-video-untuk-berdakwah-di-media-sosial/

🌐 Judul : Cara Menyikapi Berbagai Masalah yang Menimpa Umat Islam
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/cara-menyikapi-berbagai-masalah-yang-menimpa-umat-islam/

🌐 Judul : Membantu Memfotokopikan Buku Agama Lain
Penulis : Ustadz Abul Aswad al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/membantu-memfotokopikan-buku-agama-lain/

🌐 Judul : Catatan Bagian yang Tinggal Serumah dengan Orang Tua (Mertua)
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah,
Link : https://bimbinganislam.com/catatan-bagi-yang-tinggal-serumah-dengan-orangtua-mertua/

*2⃣ Artikel*

🌐 Judul : Empat Dampak Maksiat yang Sering Diremehkan
Penulis : Ustadz Iskandar Albahr
Link : https://bimbinganislam.com/empat-dampak-maksiat-yang-sering-diremehkan/

🌐 Judul : Empat Amalan Ringan Pelebur Dosa
Penulis : Ustadz Iskandar Albahr
Link : https://bimbinganislam.com/empat-amalan-ringan-pelebur-dosa/

🌐 Judul : Keberkahan dalam Sahur
Penulis : Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA
Link : https://bimbinganislam.com/keberkahan-dalam-sahur/

🌐 Judul : Merasakan Kenikmatan Ibadah kepada Allah
Penulis : Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H
Link : https://bimbinganislam.com/merasakan-kenikmatan-ibadah-kepada-allah/

🌐 Judul : Adab dalam Menjalani Puasa Lanjutan
Penulis : Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.
Link : https://bimbinganislam.com/adab-dalam-menjalani-puasa-lanjutan/

🌐 Judul : Lima Alasan Lelaki Harus Mengerti Wanita
Penulis : Ustadz Rusli Evendi,
Link : https://bimbinganislam.com/lima-alasan-lelaki-harus-mengerti-wanita/

🌐 Judul : Adab Sahur dan Berbuka Puasa
Penulis : Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.
Link : https://bimbinganislam.com/adab-sahur-dan-berbuka-puasa/

*3⃣ Sahabat BiAS*

🌐 Judul : Peduli Sahabat BIAS an Farid
Link :https://bimbinganislam.com/peduli-sahabat-bias-an-farid/

*🏦 Donasi Operasional Dakwah dapat disalurkan melalui :*

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 *Pendaftaran* Donatur Rutin & Konfirmasi Transfer *Hanya via WhatsApp ke ; 0878-8145-8000*

_SWIFT CODE : BSMDIDJA_

*▪ Format Donasi :* _Operasional BIAS#Nama#Nominal#Tanggal_

*📝 Cantumkan Kode 511* di akhir nominal transfer anda..

_*Contoh : 100.511*_

_Demikian disampaikan, kami ucapkan jazakumullah khairan_
———————————–

🌐www.bimbinganislam.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Inspiring story

JUST FOCUS ON ALLAH! UTANG 3 MILYAR LUNAS DAN KEAJAIBAN TERUS BERDATANGAN..

Madinah waktu subuh..
Saya dan mas Munawar keluar dari hotel berdua menuju masjid Nabawi. Sampai persis di depan Hotel sebuah taksi pas juga berhenti di depan kami. Sesosok tinggi besar keluar dari taksi langsung menyapa mas Munawar dalam bahasa arab yang saya tidak mengerti, saya hanya menjawab salamnya lalu ikut menyalaminya.

“Mas Saptu, Saya antar beliau dulu ke kamar hotel ya, nanti ketemu di Nabawi..” kata Mas Munawar.

Usai sholat subuh kami bertemu di halaman masjid Nabi yang penuh manusia itu.

Mas Munawar melanjutkan,
“Tadi itu Sheikh Sholeh Al Rajhi mas, salah satu kerabat Sulaiman Al Rajhi, pemilik bank tanpa riba terbesar di Saudi. Beliau ada kerjasama dengan kami untuk bisnis umroh. Nah nanti siang kita diajak beliau bertemu dengan Shaikh Abdurahman Al Sudais, imam besar Masjidil Haram.. kebetulan Shaikh Sudais sedang ada tugas di Madinah… ”

Saya langsung bengong….

***
Teringat 1 Juni 2016 lalu ketika saya mengisi satu sesi seminar “Pengusaha Tanpa Riba” di Jakarta, saya bertanya kepada para peserta seminar siapakah yang tidak punya utang di bank?
Hanya 1 orang yang angkat tangan! Wow!
Saya inget orangnya, yang ketika sesi istirahat mengenalkan diri dan memberi sebuah buku pada saya..

“Saya Rendy ReZha Mas, ini buku karya saya PPA (Pola Pertolongan Allah), kami punya training untuk orang-orang yang ingin merubah hidupnya, alumni kami sudah 9000 orang lebih di Indonesia..”

Itulah awal perkenalan saya dengan komunitas PPA ini, Rendy di usianya yang masih muda, 26 tahun menjadi inspirasi ribuan orang menemukan ujung pangkal masalah mereka dan bisa menghadirkan banyak solusi keajaiban penyelesaiannya..

“Just Focus On Allah..” hanya itu mas ilmunya, ketika Allah ridho maka masalah apapun akan beres!

Sejak itu buku “Pola Pertolongan Allah” ikut masuk daftar yang dijual di Jogist bookstore milik saya, laris dan diburu banyak orang karena tidak dijual di toko buku konvensional.

Bulan Oktober tahun lalu Rendy mengajak saya untuk bikin program umroh bareng Saptuari dan Rendy, Alhamdulillah ada 175 jamaah yang berangkat bulan April ini, selama umroh inilah saya mengenal mas Munawar dengan banyak cerita ajaibnya..

Ketika berangkat di bandara Soekarno Hatta, Rendy mengenalkan saya dengan mas Munawar..
“Beliau otak dibalik PPA Tour and Training mas, untuk perjalanan umroh dan fasilitasnya beliau ini jaringannya di Saudi banyak sekali..”

Ketika mau masuk pesawat mas Munawar berkata.
“Mas maaf saya di depan ya, gak tau nih tadi dapat bonusan dari Emirates, saya dikasih kursi di kelas bisnis. Padahal kalo upgrade bayar 40 juta/seat, ini gratis aja dikasih..”

Rejeki nomplok itu namanya, atau keberuntungan yang bisa diundang?

Di Madinah kami satu kamar, obrolan kami ngalor ngidul, dan saya menjadi pendengar yang baik untuk kisah hidupnya. Ternyata dia selama ini jadi silent reader di group facebook ini. Jadi saya lebih mudah membongkar jeroan ceritanya..

Saya inget ketika Rendy cerita bulan September 2015 sedang mengadakan training PPA di Pekalongan, ada orang yang menunggu acara dengan gontai di lobby hotel. Wajahnya suram dan penuh masalah.. ternyata dia itu orangnya!

Bagaimana ceritanya dia bisa merubah total hidupnya dalam 1,5 tahun ini??

“Saya terjebak utang riba 3 milyar mas, usaha batubara saya rugi besar, bangkrut meninggalkan banyak utang. Waktu itu saya belum tau hukumnya main terjang aja, yang haram pun saya sikat. Buyer saya di Singapura, kalo pas ketemu disana saya harus melayani dan menjamunya. Dari urusan makan sampai hiburan, dalam hati saya menolak maksiat ini, tapi bagaimana lagi.. ini seperti lingkaran yang ada di bisnis ini. Dan bener ketika ALLAH tidak ridho maka ALLAH jungkalkan bisnis saya. Pusing minta ampun.. produksi berhenti, dan saya tidak bisa membayar utang usaha itu..”
Cerita mas Munawar berlanjut di kamar

Terus?
“Setelah ikut training PPA saya baru sadar banyak sekali kesalahan saya dalam bisnis yang saya langgar. Pantas jika ALLAH habiskan semua. Sejak itu saya taubat minta ampun pada ALLAH dan berusaha keras membersihkan semua harta saya dari yang haram. Beraaaat, tapi saya harus lakukan, saya tidak mau masih ada harta haram yang nempel di badan saya, akhirnya saya rembukan dengan istri dan kami sepakat mengembalikan semua harta yang kami dapatkan dengan riba.. rugi gakpapa yang penting segera diri kami bersih di mata ALLAH. Rumah KPR kami kembalikan ke developer, dua mobil yang kami punyai pun kami kembalikan ke leasing, semua kartu kredit saya tutup tanpa ampun, saya harus bergerak cepat untuk melunasi utang saya lainnya. Sampai ada tawaran untuk kerjasama bisnis di Saudi, dengan uang yang tersisa saya niatkan waktu itu berangkat kesini..”

Mas Munawar menyelesaikan S1 dan S2 nya di Yordania, pantes bahasa arabnya
Cas cis cusss faseh! Jadi modal untuknya membuka jaringan di tanah Arabia..

Langsung mulus? Tidaaak…

“Saya mencari tiket pesawat murah menuju Saudi, transit di Colombo Srilangka. Malam hari menginap di hotel dekat bandara, uang modal usaha saya simpan di tas yang saya letakkan di samping tempat tidur. Pagi harinya saya kaget uang itu sudah raib dari tas, lemes sudah.. di negeri orang baru setengah perjalanan, uangpun hilang. Saya berusaha membaca pesan cinta dari ALLAH, kenapa ini terjadi. Baru saya sadar, kalo uang itu memang saya dapatkan dari jalan yang tidak sepenuhnya halal, jadi ALLAH seperti tidak mengijinkan uang itu masuk ke tanah suci, saya bisa lanjut terbang lagi dari Colombo ke Saudi hanya dengan modal yakin dan iman!”

Mmm… makin seru

“Sampai Saudi saya ke Mekah, sempatkan untuk umroh sambil menahan lapar. Ketika saya duduk di halaman luar Masjidil Haram ada penjual swawarma yang harum baunya, lapar makin terasa padahal uang gak punya.
Dalam kondisi seperti itu apa yang bisa saya andalkan selain ALLAH? Saya langsung minta begini… ya ALLAH Engkau tau pasti tau kalau hambamu ini lapar ya ALLAH, berilah hambamu ini makanan ya ALLAH..
Dan masya ALLAH mas, ketika saya beranjak berjalan beberapa langkah kaki saya menyandung tas kresek, saya buka… derrrr!! isinya swawarma yang masih anget gak tau dari mana datangnya.. sambil nangis-nangis saya makan dengan lahapnya..”

Masya ALLAH…

“Kisah berlanjut, saya bertemu orang Indonesia yang mengerti kesulitan saya saat itu, saya diajak ke Sekolah Republik Indonesia Mekah, dengan modal S2 saya ditawari untuk menjadi guru disana, dari SD hingga SMP. Tanpa banyak pertimbangan saya langsung menerima. Alhamdulillah tiap bulan saya dapat gaji dan saya bertemu dengan jaringan yang luas di Arab Saudi. Pintu-pintu kemudahan seperti ALLAH bukakan lewat jalan ini, sampai akhirnya saya mengundurkan diri dan ingin fokus di bisnis trading dan ekspor dari Indonesia. Saya namakan PT. BEJO (BEyond Java Overseas), biar rejekinya juga bejo (beruntung) terus..”

Hehe.. boleh boleh boleh!
Silahkan dibaca dengan intonasi Upin Ipin..

“Dan ALLAH kalau sudah menghadirkan rejeki itu banyak dari jalan yang tidak terduga! Pas pulang ke Indonesia di pesawat ada seorang ibu yang pulang umroh tidak mau duduk di kursinya karena takut sebelahan dengan orang yang posturnya tinggi besar. Saya menawarkan untuk bertukar kursi, sepanjang jalan saya ngobrol dengan orang itu, ternyata dia dari Maroko dan mau ke Indonesia mencari suplyer kertas, saya inget punya kawan yang punya pabrik kertas, langsung saya tawarkan untuk membeli kesana, saya jadi makelarnya. Sampai di Indonesia dia melihat barangnya dan dia setuju, gak tanggung-tanggung dia pesan 7 kontainer. Satu kontainer saya untung 30 juta, total saya dapat 210 juta mas dari ekspor kertas itu. Masya ALLAH.. perlahan saya bisa melunasi utang-utang saya, dan dari trading lainnya pun pesanan terus berdatangan.. Alhamdulillah”

Allahuakbar..
Terus pertemuan dengan Syaikh Sholeh Al Raji itu bagaimana?

“Beliau orang yang sangat sederhana, padahal dari keluarga kaya raya, seperti Sulaiman Al Rajhi yang mewakafkan sebagian besar hartanya. Kemarin pas kita ketemu kan dia naik taksi dari Mekah, gak pakai mobil pribadi. Nah pas negosiasi dulu saya sering ke kantornya, saya lihat ini kantor terlalu sederhana, handle pintunya rusak gak diperbaiki, temboknya pada nglotok catnya. Sampai satu ketika beliau sedang keluar kota, diam-diam saya manggil tukang dan saya minta perbaiki semuanya saya yang bayar. Ketika. Saikh Soleh datang hari berikutnya saya kaget ditelpon dengan suara keras diminta datang ke kantornya.. saya dah mikir bakal dimarahi nih karena lancang mengotak-atik kantornya. Sampai disana saya malah kaget tiba-tiba beliau memeluk dan bilang, ini bukan kantor saya, ini kantor kita! Dan sejak saat itu hubungan kami sangat dekat, dan deal dengan Al Rajhi invest 10.000 seat tiket pesawat untuk jamaah PPA Tour & Training. Sehingga seat tahun depan sudah ada ditangan dengan harga yang jauh lebih murah, PPA bisa menjual paket umroh yang lebih murah dibanding lainnya.. ”

Masya ALLAH… gitu ya jalan mendekatkan hubungan bisnis, kadang dengan cara yang sederhana tapi kena di hati.

“Besok dari Mekah saya ke Jeddah dulu satu hari mas, MOU dengan klien lain yang juga ALLAH hadirkan. Dengan Al Rajhi juga MOU pembangunan lounge khusus jamaah umroh di bandara Soekarno Hatta, dan juga investasi untuk proyek rumah tanpa riba di Indonesia..” lanjut mas Munawar

Saya geleng-geleng kepala, takjub dengan skenario ALLAH. Ternyata janji ALLAH itu benar bagi orang-orang yang percaya. Ayat ini tak terbantahkan!

“Barangsiapa berhijrah di jalan ALLAH, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak..” [QS An Nisa:100]

***
Bertemu Syaikh Abdurahman Sudais…
Kami berlima mengikuti langkah kaki Syaikh Sholeh menuju depan pintu 26 masjid Nabawi, disana sudah ada mobil listrik yang menjemput kami dengan petugas yang tegap badannya seperti tentara.

Kami naik mobil listrik itu melintasi halaman Masjid Nabawi dari selatan ke utara, dilihat ribuan mata yang mungkin berpikir siapa orang-orang berkulit coklat yang dijemput seperti tamu negara. Kami dibawa ke gedung di utara persis Masjid Nabawi, lantai satu sudah ada beberapa penjaga di depannya, naik lantai 5 langsung bertemu penjaga dengan pakaian tentara. Ketat sekali..

Kami diminta menunggu di ruangan khusus, lalu ada protokoler masih muda-muda dengan pakaian arab yang menjelaskan tentang waktu pertemuan dengan Syaikh Sudais..

Lima menit kemudian kami diminta masuk ke ruangan yang lebih besar, dan langsung disambut dengan senyuman Shaikh Abdurahman Al Sudais..
“Ahlan Wa Sahlan” kata beliau dengan suara lembutnya..

Inilah imam besar Masjidil Haram.. Pimpinan para imam di dua masjid suci, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram..
Hafal Al Quran di usia 12 tahun, dan sudah menjadi imam di Masjidil Haram di usia 24 tahun hingga saat ini beliau berusia 57 tahun..
Dulu waktu kecil bandel, sampai ibunya jengkel dan keluar doa “semoga engkau jadi imam Al Haram!” Alhamdulillah doa positif yang keluar dari mulut ibunya dan jadi kenyataan!

Wajahnya bersiiih dan bercahaya… selama ini saya hanya melihat di internet dan mendengar suaranya di aplikasi Quran di HP saja. Gemetar juga bisa menjabat tangannya dan mencium pipi beliau..

Selama 15 menit pertemuan itu Shaikh Sudais mengatakan sangat senang dengan jamaah Indonesia yang baik dan santun, serta mudah diatur. Beliau juga berkeinginan untuk datang lagi ke Indonesia secepatnya.

Ketika beliau mempersilahkan kami bertanya, Rendy di samping saya bertanya dengan air mata bercucuran, mas Munawar yang mengartikan dalam bahasa Arab.

“Hanya satu pertanyaan Shaikh, bagaimana caranya agar kami bisa bertemu ALLAH dan rasulnya..” kata Rendy.

Jawab Syaikh Sudais,
“Masya ALLAH, pelajarilah Islam dengan benar, belajarlah.. ikuti semua perintah ALLAH dan jauhi semua laranganNya, jika itu kita lakukan kelak kita akan dipertemukan dengan ALLAH dan Rasulnya..”

Singkat tapi makjleb mengena!

Pertemuan itu diakhiri dengan pemberian kenangan dari Shaikh Sudais, dan foto bersama. Melintasi Masjid Nabawi siang itu kami seperti dijamu oleh ALLAH dengan luarrrr biasa. Hanya ALLAH yang bisa mengatur pertemuan itu, dan kami yang beruntung mendapatkan kesempatan yang langka dari ratusan ribu jamaah di luar sana.

Sepanjang perjalanan Madinah-Mekah 430 kilometer saya banyak merenung. Betapa banyak kisah-kisah orang yang berhijrah dengan ribuan keajaiban yang ALLAH berikan.

Orang-orang itu seperti ALLAH hadirkan di depan saya, dan saya seperti mendapatkan tugas untuk terus bercerita dengan tulisan agar inspirasinya menyebar ke seluruh dunia..

Semoga ini jadi pahala kita bersama, menjadi saksi syiar perjalanan hijrah orang-orang hebat yang takhluk pada Tuhannya…

@Saptuari

————————————-
Buku PPA (Pola Pertolongan Allah) bisa didapatkan di JOGIST bookstore ⇨ 081804100900 via SMS & WA. Buku dikirim ke seluruh Indonesia, tidak dijual di toko buku biasa.

Disalin dari https://m.facebook.com/groups/109438006059782?view=permalink&id=486583935011852

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar