Saat Ramadhan Mulai Berkemas

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 18 Ramadhan 1437 H / 23 Juni 2016 M
👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud
📔 Materi Tematik | Saat Ramadhan Mulai Berkemas
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UAA-01
📺 Video Source: https://yufid.tv/12895-kultum-ramadhan-saat-ramadhan-mulai-berkemas-ustadz-afifi-abdul-wadud.html
———————————-

SAAT RAMADHAN MULAI BERKEMAS

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه  ومن والاه

Kita berada dipenghujung bulan Ramadhān. Dan Ramadhān telah mulai berkemas untuk meninggalkan kita, kaum muslimin.

Maka, tidak ada yang lebih baik yang kita lakukan melebihi selalu muhasabah, apa yang telah kita lakukan selama hari-hari yang telah berlalu.

Lihatlah dan perhatikanlah. Apa yang telah Anda lakukan berkaitan dengan puasa Anda?

Berkualitaskah, ataukah sekedar tidak makan, tidak minum tetapi tidak meninggalkan segala perkara yang diharāmkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga hanya mendapatkan puasa yang sia-sia?

√ Lihatlah tentang qiyamul lail Anda, apakah Anda mendapatkan keutamaannya ataukah mendapatkan capeknya saja?

√ Lihatlah tentang shadaqah Anda, berapakah yang telah anda keluarkan dan bagaimana kualitas shadaqah yang Anda keluarkan?

√ Lihatlah tentang bacaan Qurān Anda, telah sampai mana Anda telah menelusuri ayat-ayat Al Qurān yang Anda baca secara lafazh dan sejauh mana Anda mendapatkan faedah dari ayat Al Qurānul Karim?

√ Lihatlah tentang kebaikkan Anda secara umum, jangan sampai Anda menyesal Ramadhān lewat dan Anda belum mengumpulkan sesuatu yang bermakna dalam bulan yang mulia ini.

Saat Ramadhān sudah mulai berkemas….

Maka Anda perhatikan apa yang telah Anda dapatkan dari tarbiyah Ramadhān ?

√ Sejauh mana anda telah belajar ikhlas?

√ Sejauh mana anda telah belajar ittiba’ mengikuti detail-detail dari sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ?

√ Apa yang telah anda dapatkan dari pelajaran kembali kepada Al Qurān, semangat untuk kembali kepada Al Qurān?

√ Apa yang telah Anda dapatkan dari pelajaran muraqabah, perasaan selalu dalam pengawasan Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

√ Dan, apa yang telah anda dapatkan dari pelajaran akhlak yang sangat agung yang dididik selama bulan Ramadhān?

√ Dan apa yang telah anda dapatkan dari semangat untuk menahan hawa nafsu Anda?

Saat Ramadhān telah berkemas….

Maka, sisa waktu yang ada perhatikanlah.

Jangan sampai Anda digulung waktu dan anda hanya bengong tidak melakukan sesuatu yang bermakna.

Seandainya hari anda yang telah lewat kurang bermakna maka gunakan sisa waktu yang ada untuk memaksimalkan amal anda.

Kejarlah kekurangan Anda:

√ Dalam menegakan qiyamul lail,
√ Dalam menjalankan puasa di siang hari
√ Dalam membaca Al Qur’anul karim
√ Dalam memperbaiki akhlak-akhlak harian
√ Dalam menanamkan rasa keimānan kita berkaitan dengan muraqabah,
memaksimalkan  waktu yang ada.

Siapkan mental Anda, benar-benar memiliki mental yang bersemangat tinggi karena sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dikatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ.

“Adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam benar-benar bersungguh-sungguh di sepuluh malam yang terakhir, yang tidak Beliau lakukan pada malam-malam yang lainnya (pada hari-hari yang lainnya).”

(Hadīts Riwayat Muslim no. 1175)

Nabi tentu telah bersungguh sungguh dalam semua waktu yang dimilikinya, akan tetapi kesungguhan di sepuluh hari yang terakhir Beliau maksimalkan.

Beliau tingkatkan tensi amalnya karena hari-hari yang terakhir (sepuluh hari terakhir) di sana ada malam yang lebih baik dari   1000 bulan, lebih dari 83 tahun.

Maka benar perkataan Nabi:

فمَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Barang siapa yang dia diharāmkan dari kebaikan malam itu, sungguh dia telah diharāmkan dikebaikan yang sangat banyak.”

Saat Ramadhān telah berkemas….

Maka, telitihlah kembali apa yang telah Anda raih dari ampunan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bagaimana Allāh yang telah membuka lebar-lebar pintu ampunan Allāh. Mana pintu yang telah anda lalui?

Dengan anda meraih lipat gandanya pahala amal anda, dengan anda telah bertobat dari segala dosa dan maksiat anda, dengan anda telah mengharapkan pembebasan Allāh dari neraka.

Maka sungguh perhatikan diri Anda.

Saat Ramadhān telah berkemas…

Jangan sampai anda menyesal.

Belum tentu Anda masih berjumpa dengan Ramadhān di tahun yang akan datang.

Perhatikan, bagaimana Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan resep bagaimana kita meningkatkan kualitas amal kita,

صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Shalātlah anda  sebagaimana shalātnya orang yang mau mati.”

Bayangkan seandainya Anda yakin bahwasanya ini adalah kesempatan terakhir melakukan shalāt dan tidak ada kesempatan lain kecuali ini.

Maka sungguh anda akan mengusahakan sesempurna mungkin apa yang harus dilakukan.

Demikian pula bayangkan seandainya Ramadhān anda sekarang Ramadhān yang terakhir, maka anda akan berusaha untuk memaksimalkan apa yang harus anda lakukan saat bulan Ramadhān.

Demikian kata Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, “Tingkatkan kualitas amal anda menjadi amal yang paling utama dengan mewarnai, dengan banyak berdzikir kepada Allāh dalam segala amal yang anda lakukan”.

Ketika Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya:

“Yā Rasūlullāh, puasa orang yang bagaimana yang paling berkualitas (utama).”

Maka Nabi katakan:

“Puasa yang paling berkualitas adalah puasa orang yang paling banyak ingatnya (saat berpuasa) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Boleh jadi kita merasakan dan mengetahui berapa banyak orang yang shalāt semenjak takbir mulai kemasukkan berbagai macam pikiran. (Pikiran duniawi, pekerjaan dia, kesibukan dia, masalah dia) sehingga shalātnya dari awal sampai akhir tidak ada dzikirnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bukankah demikian yang sering terjadi pada seseorang?

Maka, setiap ibadah yang paling berkualitas adalah ibadah yang paling banyak di warnai dzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Saat Ramadhān telah berkemas meninggalkan kita….

Maka telitilah, merenunglah, siapkan diri anda , gunakan sisa waktu yang ada. Benar-benar waktu yang sangat bermakna.

Jadikan akhir Ramadhān anda adalah akhir yang husnul khatimah, karena sesungguhnya Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengatakan:

َإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ.

“Sesungguhnya amal itu ditentukan pada akhir amal tersebut.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri no. 6607)

Ramadhān yang telah berlalu, biarlah berlalu. Seandainya anda sekarang baru tumbuh semangatnya, peliharalah dan tuntunlah jiwa anda, dan arahkan jiwa anda. Bersemangatlah untuk menggapai, meraih keutamaan. Jangan sampai Anda sia-siakan.

Ketahuilah, anda tidak mengetahui kapan anda meninggal. Kematian datang mendadak. Tidak ada jaminan dia masih jauh dari kematiannya.

Ketahuilah, kita diintai kematian di mana saja. Dan kematian tidak mengenal umur tua atau muda. Kematian ketika datang tidak akan bisa diundurkan.

Mudah-mudahan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita meniti akhir Ramadhān dengan memaksimalkan amal, memanfaatkan waktu.

Sehingga keluar Ramadhān benar-benar menggapai ampunan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jangan sampai kita mendapatkan do’anya Jibrīl :

“Celaka (sengsara) dan celaka, orang yang bertemu Ramadhān dan Ramadhān meninggalkan dia dalam keadaan tidak diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلّم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
___________________________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ramadhan Melatih Kesabaran bagian 2

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 11 Ramadhan 1437 H / 16 Juni 2016 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📔 Materi Tematik | Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran (Bagian 2)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UFA-03
📺 Video Source: https://yufid.tv/1754-ramadhan-bulan-untuk-melatih-kesabaran.html
———————————-

MELATIH KESABARAN (BAG 2)

Kemudian, tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdakwah, di awal dakwah beliau seluruh orang mendustakannya.

Akan tetapi istri beliau, Khadījah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā membantu suaminya dengan penuh pengorbanan, dengan seluruh hartanya.

Disaat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat butuh dengan bantuan sang kekasih, bantuan istrinya Khadījah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla memanggil Khadījah, mencabut nyawa Khadījah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā.

Sehingga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala itu sangat bersedih. Sangatlah bersedih dengan meninggalnya istrinya yang sangat dia cintai yang selama ini membantunya dengan seluruh harta, dengan seluruh perasaan, dan seluruh kasih sayang dari sang istri.

Kemudian setelah itu paman beliau yang bernama Abū Thalib, yang selama ini membela Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sang paman tidak membiarkan seorang pun dari kāfir Quraishy untuk mengganggu sang keponakan (Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam) akhirnya sang pamanpun. meninggal dunia.

Sehingga tatkala itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun sangat bersedih, ditinggal oleh Khadījah dan juga pamannya, Abū Thalib.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun berjalan dengan linglung, tidak sadar, tiba-tiba Beliau sudah berada di suatu tempat.

Kenapa beliau sampai linglung?

Karena kesedihan yang amat sangat, sehingga para ulamā tatkala itu menamakan tahun tersebut sebagai tahun kesedihan yang dialami Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Setelah itu beliau pergi ke Tha’if untuk berdakwah, ditemani oleh Zaid bin Haritsah. Namun Beliau akhirnya diusir oleh penduduk Tha’if, bahkan tatkala beliau keluar dari kota Tha’if disambut dengan dua barisan.

Dengan dua barisan, buat apa?

Untuk menyambut Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan lemparan batu. Anak-anak, orang-orang gila, dikumpulkan, untuk apa? Untuk melempar Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, untuk menghinakan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Maka merekapun melempari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan kerikil-kerikil, dan Zaid bin Haritsah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berusaha untuk menangkis batu-batu tersebut. Akan tetapi beliau tidak mampu, sehingga masih banyak kerikil yang melukai Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan menumpahkan darah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kalau kita bicara tentang anak-anak, kita tahu betapa sedihnya seorang ayah yang kehilangan anaknya. Seorang ibu yang kehilangan satu orang anaknya sangat sedih, akan tetapi Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam seluruh anaknya.

⇛Beliau memiliki tujuh orang putra dan putri. Enamnya meninggal tatkala beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup  kecuali Fathimah.
⇛Fathimah meninggal setelah wafatnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, enam bulan setelah wafat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇛Putra Beliau, Abdullāh dan Qashim meninggal di hadapan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇛Kemudian putri-putri beliau Ummu Kaltsum, Ruqayyah, Zainab, seluruhnya meninggal di hadapan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇛Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengkafankan dan menguburkan putri-putrinya.

Bisa kita bayangkan bagaimana sedihnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇛Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dianugrahi seorang putra yang bernama Ibrāhim, maka Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun bergembira, mengabarkan kepada para shahābat bahwasanya Beliau telah dianugrahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla seorang putra yang Beliau namakan Ibrāhim.

Akan tetapi ternyata kegembiraan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak bertahan lama.

⇛Tatkala sang putra berumur dua tahun, sang putra sakit keras. Dan berada di pangkuan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sang putra yang sangat dicintai meninggal. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat bersedih. Sampai akhirnya Beliau pun mengeluarkan (meneteskan) air mata.

Beliau berkata:

إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ

“Sungguh mata meneteskan air mata, dan sesungguhnya hati sangat bersedih, akan tetapi kami tidak mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhāan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan kami sesungguhnya sangat bersedih dengan kepergian engkau, wahai putraku, Ibrāhim.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri no 1303)

Inilah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam betapa banyak ujian yang dihadapi oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. 

Belum lagi ujian dalam dakwah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

√ Beliau dituduh dengan orang gila
√ Beliau dicap dengan tuduhan-tuduhan yang sangat buruk
√ Beliau dikatakan sebagai orang gila
√ Beliau dikatakan sebagai dukun
√ Beliau dikatakan sebagai penyair
√ Beliau dikatakan sebagai orang sinting.

Ini tidak mudah sebagaimana yang kita bayangkan.

Ujian yang sangat berat yang dihadapi oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdakwah dimusuhi oleh orang yang paling dekat dengan dia, pamannya sendiri (saudara ayahnya) Abū Lahab.

Tatkala musim haji, orang-orang berdatangan di Mina, maka Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin mendakwahi mereka.

Sampai-sampai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam merendahkan dirinya, mengatakan:

أَلاَ رَجُلٌ يَحْمِلُنِي إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّي

“Apakah ada orang yang mau mengajakku untuk berdakwah di kaumnya ? Sesungguhnya orang-orang Quraishy melarangku untuk menyampaikan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(HR Tirmidzi nomor 2849, versi Maktabatu AlMa’arif Riyadh nomor 2925)

Sampai-sampai Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam merendahkan dirinya, dan mengharap ada orang yang mengantarkannya untuk berdakwah di kabilah-kabilah Arab.

Maka pergilah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke setiap kabilah yang datang di Mina untuk berhaji. Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendakwahkan Islām kepada mereka. Akan tetapi ternyata sang paman, Abū Lahab laknatullāh alaih, senantiasa mengekor Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Begitu Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdakwah menyampaikan Islām, sang paman pun berdiri dan mengatakan, “Jangan kalian ikuti keponakanku, yang telah keluar dari adat nenek moyangnya.”

Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun tidak memperdulikan sang paman. Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi ke kabilah yang lain, akan tetapi sang paman, Abū Lahab, tetap mengekor dan menguntit.

Setiap Nabi berdakwah, maka diapun mengucapkan kalimat yang sama.

Inilah ujian yang dihadapi, yang sebagian kecil yang dihadapi Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Karenanya, tatkala seorang hamba diuji dengan berbagai ujian, ingatlah bahwasanya sosok yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga pernah diuji.

Maka ini akan memberikan tasliyah, akan menghibur dirinya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam besabda dalam suatu hadīts :

أَشَدُّ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Orang yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shālih , kemudian yang berikutnya, dan yang berikutnya.

Seseorang diuji berdasarkan ukuran kadar keimānannya. Kalau ternyata keimānannya sangat kuat, maka Allāh tambah ujiannya.

Jika dia tegar tatkala menghadapi ujian, Allāh tambah ujiannya dan tatkala imānnya lemah, maka Allāh akan ringankan ujiannya.”

(Hadīts Riwayat Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh dalam Shahīh At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadīts ini shahīh)

Karenanya, jika ujian menimpa, jika musibah menerpa, maka bersabarlah, sesungguhnya demikianlah orang-orang berimān, dia akan diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ibarat pohon yang semakin tinggi, maka semakin akan kuat angin yang menerpanya, akan tetapi pohon tersebut semakin tegar, dan semakin kuat, menangkis angin yang kencang tersebut.

Oleh karenanya, kita senantiasa berhusnuzhān kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jika ada ujian yang menimpa kita, kita katakan sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bisa jadi engkau membenci sesuatu, akan tetapi itu yang terbaik bagimu, dan bisa jadi engkau mencintai sesuatu, akan tetapi itu buruk bagimu, Allāh yang lebih mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”

(QS Al Baqarah : 216)

Semoga puasa Ramadhān ini melatih kita untuk senantiasa bersabar, sehingga membentuk jiwa kita yang kuat. Dan bersabar dalam menghadapi segala ujian dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلّم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
___________________________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ramadhan Bulan melatih kesabaran bagian 1

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 10 Ramadhan 1437 H / 15 Juni 2016 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📔 Materi Tematik | Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran (Bagian 1)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UFA-02
📺 Video Source: https://yufid.tv/1754-ramadhan-bulan-untuk-melatih-kesabaran.html
———————————-

MELATIH KESABARAN (BAG.1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Alhamdulillāh, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam senantiasa semoga tercurahkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
 
Bulan suci Ramadhān merupakan bulan yang penuh dengan kemuliaan. Bulan yang mengajarkan kita banyak nilai-nilai ibadah. Diantaranya mengajarkan kita untuk bersabar.

Seorang yang berpuasa, dia harus menyabarkan dirinya untuk meninggalkan perkara-perkara yang dia syahwatkan. Dia harus meninggalkan minuman, makanan, bahkan berhubungan dengan istrinya harus dia tinggalkan, semuanya demi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Latihan ini melatih seorang muslim untuk bersabar tatkala menghadapi hal-hal yang mungkin tidak disukai oleh syahwatnya, atau tidak disukai oleh nafsunya.

Oleh karenanya, jikalau kita ditimpa dengan musibah-musibah yang tidak kita sukai hendaknya kita bersabar.

Dan kita yakin bahwasanya segalanya telah ditakdirkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Bukankah diantara rukun imān yang enam yaitu berimān kepada taqdir, baik taqdir yang baik maupun taqdir yang buruk.

Tatkala seseorang ditimpa dengan musibah, maka hendaknya dia ingat bahwasanya seluruhnya telah ditakdirkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan tatkala Allāh menakdirkan musibah baginya, tentunya ada hikmah yang sangat mulia dibalik musibah tersebut.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menjanjikan untuk menguji kaum yang beriman, kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian (orang-orang yang berimān) dengan sedikit ketakutan, dan rasa lapar, dan kekurangan (kekurangan harta, maupun kekurangan jiwa, maupun kekurangan hasil tumbuh-tumbuhan) kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.”

(QS Al Baqarah :155)

Allāh tidak menguji kita dengan ujian yang terlalu berat yang tidak mampu kita hadapi, tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidaklah menguji hambanya kecuali yang mampu untuk dipikul oleh sang hamba.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tatkala kita ditimpa dengan ujian, tatkala kita ditimpa dengan musibah, maka mari kita ingatlah sosok suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau telah diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan banyak ujian. Ditimpa dengan berbagai macam musibah :

√ Rasa lapar
√ Rasa takut
√ Kekurangan harta
√ Kekurangan jiwa
√ Hilangnya kekasih-kekasih yang beliau cintai

Semuanya pernah dialami oleh Rasūl kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇛Adapun rasa takut, sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah hendak dibunuh, atau hendak ingin dibunuh oleh orang-orang kāfir Quraishy.

Orang-orang Kafir Quraishy mereka mengumpulkan seluruh para pemuda dari berbagai macam kabilah.

Sekitar 50 orang pemuda dari berbagai macam kabilah, dari berbagai macam suku, ingin membunuh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam secara serentak. Mereka bermaksud mengumpulkan kabilah yang banyak ini, agar jika Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam terbunuh, maka darahnya tersebar di kabilah-kabilah ini. Sehingga kabilah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sallam, suku Nabi, tidak bisa menuntut balas dendam.

Akhirnya terkumpulkanlah 50 orang pemuda, yang setiap pemuda tersebut menghunuskan pedang siap untuk menumpahkan darah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Maka datanglah mereka beramai-ramai mengepung rumah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ini adalah perkara yang sangat menakutkan, 50 orang pemuda dengan pedang yang terhunus, dan ingin mengeroyok Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam , dan ingin serentak membunuh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Akan tetapi Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menghadapi tantangan tersebut dengan tenang. Sehingga akhirnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menolong Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

(Tafsir Ibnu Katsir, Al Anfal ayat 30)

⇛Rasa takut yang lain yang pernah ditimpa oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahābatnya, Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu
tatkala Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Bakar ingin pula dibunuh oleh orang-orang kāfir Quraishy.

Bahkan orang-orang kāfir Quraishy memberikan tawaran hadiah yang besar bagi siapa saja yang bisa membunuh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam atau Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu

Maka Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Bakar harus keluar dari kota Mekkah, berhijrah menuju kota Madīnah.

Dan orang-orang Kāfir Quraishy terus berlomba-lomba untuk bisa membunuh Nabi dan Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.

Akhirnya, Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Bakar harus sembunyi di sebuah gua, yang dikenal dengan gua Tsur, di jabal Tsur.

Tatkala itu pasukan orang-orang kāfir Quraishy sudah tiba di mulut gua, di jabal Tsur, di gunung Tsur. Maka tatkala itu Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu pun takut, karena orang-orang Quraishy sudah berada di mulut gua.

Apa kata Abu Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu ? “Kalau saja salah seorang diantara mereka melihat kearah kaki mereka maka mereka akan melihat kita”.

(HR Bukhari nomor 3380, versi Fathul Bari nomor 3653 dan Muslim nomor 4389, versi Syarh Muslim nomor 2381)

Rasa takut yang meliputi hati Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menghadapi semuanya dengan tenang, dengan berkata:

“Wahai Abū Bakar, bagaimana menurutmu dengan dua orang yang Allāh adalah ketiganya? Tentunya Allāh akan menolong mereka,” kata Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Jangan engkau sedih, sesungguhnya Allāh bersama kita.”

Lihatlah, inilah rasa takut yang pernah dialami oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga pernah diuji dengan rasa lapar. Suatu saat  Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam keluar rumahnya karena lapar, mencari makanan, tiba-tiba Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Abū Bakar, ternyata Abū Bakar juga keluar karena mencari makan. Tiba-tiba Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bertemu dengan Umar bin Khaththab, ternyata ketiga-tiganya keluar karena kelaparan.

Inilah yang pernah dialami oleh Nabi kita Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Oleh karenanya, ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā pernah mengatakan:

Aisyah radhiallahu ‘anhaa:

إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ فَقُلْتُ يَا خَالَةُ مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ

“Kami melihat hilal, kami melihat hilal, kami melihat hilal, tiga hilal dalam dua bulan, dan tidak ada suatu pun yang dimasak, tidak ada api yang dinyalakan dirumah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Rasūlullāh hanya makan butiran kurma dan minum air putih.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri no 2567 dan Muslim no 2972)

Bagaimana rasa lapar yang dialami oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ?

Suatu saat, tatkala Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam perang Khandaq, Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggali parit bersama para shahābat. Parit yang sulit untuk digali. Kita tahu bagaimana tanah kota Madīnah yang begitu keras.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam harus menggali parit Khandaq yang jaraknya empat meter dan dalamnya empat meter dengan jarak yang jauh sekali dengan panjang sangat jauh.

Tatkala itu para shahābat kelaparan, tidak ada makanan. Maka para shahābat pun mengikatkan sebutir batu di perut-perut mereka untuk menahan rasa lapar yang mereka rasakan.

Merekapun mengadu kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang rasa lapar yang mereka dapati. Kemudian Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam membuka perutnya, ternyata Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga sedang mengikat perutnya dengan batu, bahkan dua butir batu. Dia ikatkan diperutnya dalam rangka untuk menahan rasa lapar.

Oleh karenanya, Abdurrahmān bin Auf Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu pernah menangis tatkala dihidangkan sebuah roti, sebuah roti yang terbuat dari gandum.

Maka diapun menangis. Orang-orang disekeliling Abdurrahmān bin Auf Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata:

و ما يبكيك

“Apa yang membuat engkau menangis wahai Abdurrahmān?”

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيْرِ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ رَسُوْلُ اللهِ ص البخارى و مسلم

“Sesungguhnya Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah kenyang karena makan roti ini, demikian juga keluarga Muhammad tidak pernah kenyang karena roti ini.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim, Fathul Bari juz 7, halaman 397)

Inilah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang pernah diuji dengan rasa lapar.

Adapun mengenai kesedihan, tentang hilangnya kekasih yang dicintainya, sanak keluarganya, maka sering dialami oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇛Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diuji sejak kecil. Telah diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla lahir dalam keadaan tidak berayah. Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, tidak memiliki ayah.

⇛Kemudian ibunya meninggal tatkala Beliau berumur enam tahun. Tatkala beliau pulang dari bersafar bersama ibunya dari kota Mekkah ke kota Madīnah , tatkala di suatu tempat yang namanya Abwa’, maka sang ibupun (Aminah) kemudian sakit parah, dan sang anak yang masih kecil Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, melihat bagaimana sakitnya sang Ibu, melihat bagaimana ibunya yang sekarat, dan menghadapi sakaratul maut, seluruhnya dilihat oleh dua mata Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bagaimana kita bisa bayangkan kesedihan seorang anak kecil, melihat ibunya meninggal di hadapan matanya.

___________________________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Penghayatan Ramadhan

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 09 Ramadhan 1437 H / 14 Juni 2016 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📔 Materi Tematik | Penghayatan Ramadhan
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UFA-01
📺 Video Source: https://youtu.be/a3XnpWg49Dc
———————————-

PENGHAYATAN RAMADHAN

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه  ومن والاه

Ada beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh saudara-saudara kita dari Singapura yang berkaitan dengan ibadah yang sangat agung, yaitu ibadah puasa.

*(1) Soal yang pertama:*

Apakah perlu melafalkan niat untuk berpuasa?

Jawabannya:

Kita berusaha berpuasa sebagaimana puasanya Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam dan para shahabat.

Dan tidak kita dapati bahwa Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam dan para shahabat  pernah mengucapkan niat tatkala hendak melaksanakan ibadah puasa, meskpun sekali.

Dari sini kita berusaha untuk mengikuti petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam.

Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ (صلى الله عليه وسلم)

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam.”

Tatkala tidak kita dapati Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam melafalkan niat untuk berpuasa, maka kita mencontoh Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam dengan tidak pula melafalkan niat.

*(2) Pertanyaan yang kedua:*

Apakah amalan-amalan yang seharusnya dilakukan tatkala berpuasa?

Jawabannya:

Sesungguhnya seorang tatkala berpuasa, dia tidak hanya berpuasa dari makanan dan minum, tetapi perkara yang penting pula yaitu dia menjaga dirinya:

– menjaga mulutnya agar tidak bermaksiat,
– menjaga pandangannya agar tidak melihat yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena tujuan berpuasa sebagaimana Allāh sebutkan yaitu: “Agar kalian bertaqwa.”

Jika seorang berpuasa kemudian dia tidak bertaqwa maka apa fungsi puasanya?
Bahkan dia bermaksiat tatkala berpuasa.

Ingat sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ والعطش

“Banyak orang yang berpuasa dan dia tidak meraih dari puasanya kecuali hanya rasa lapar dan rasa dahaga.”

(HR Ahmad nomor 8501)

Dalam hadits yang lain, Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam berkata:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang berpuasa dan dia tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allāh tidak butuh dengan lapar dan dahaganya.”

(HR Bukhari nomor 1770, versi Fathul Bari nomor 1903)

Adapun amalan-amalan yang harus kita perhatikan tatkala melakukan ibadah puasa, bahwasannya kita tahu Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik, dan lebih lagi menjadi orang yang sangat baik tatkala di bulan Ramadhan.”

(HR Bukhari nomor 3290, versi Fathul Bari nomor 3554)

Oleh karenanya, kita tingkatkan ibadah kita tatkala di bulan Ramadhan. Ibadah-ibadah yang mulia seperti membaca Al Qurān, bersedekah, shalat malam (qiyamul lail, shalat tarawih), membantu saudara sesama muslim.

Bulan Ramadhan hanya singkat dan itulah musim yang Allāh siapkan untuk memperbanyak pahala. Tidak setiap orang mendapatkan musim ini. Tidak setiap tahun akan terulang bagi seseorang.

Tatkala kita dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk bertemu dengan bulan yang mulia ini maka kita manfaatkan musim tersebut sebaik-baiknya.

*(3) Pertanyaan ketiga*

Apa bedanya qiyamul lail dan tarawih?

Jawabannya:

Qiyamul lail adalah shalat malam, adapun tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan di bulan Ramadhan.

Sebenarnya tidak ada bedanya, karena para ulama menyebutkan bahwa qiyamul lail boleh dikerjakan sejak selesai shalat isya’ sampai sebelum adzan subuh. Tentunya yang terbaik adalah sepertiga malam terakhir.

Akan tetapi kita ketahui bahwasanya di jaman para sahabat dan juga di jaman Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam, tatkala bulan Ramadhan mereka melaksanakan qiyamul lail secara berjamaah.

Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam pernah beberapa hari salat terawih berjamaah bersama-sama para shahabat. Kemudian dilanjutkan oleh ‘Umar bin Kaththab radhiyallāhu ‘anhu.

Adapun Abu Bakar, belum sempat melaksanakan atau menghidupkan shalat tarawih karena masa kekuasaan beliau hanya 2 tahu dan beliau sangat sibuk untuk mengembalikan stabilitas keamanan (diantara) munculnya Musailama Al Kadzab (nabi palsu), sehingga terjadi banyak peperangan.

Pada hakikatnya tidak ada bedanya antara qiyamul lail dengan tarawih, hanya saja qiyamul lail lebih umum dan shalat tarawih lebih khusus.

Shalat tarawih adalah qiyamul lail yang dikerjakan secara berjamah di bulan Ramadhan.

*(4) Pertanyaan keempat*

Adakah doa untuk berbuka puasa?

Jawabannya:

Merupakan sunnah yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat adalah berdoa tatkala berbuka.

Diantara kenikmatan yang Allāh berikan kepada orang yang berpuasa adalah doanya dikabulkan tatkala sedang berbuka.

Kalau kita di Madinah, kita lihat di masjid Nabawi atau masjidil Haram, tatkala menjelang berbuka, 5 menit sebelum berbuka, seluruh jamaah masjid menengadahkan kedua tangan mereka meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena mereka tahu bahwa itulah saat dikabulkannya doa.

Ini adalah sunnah yang ditinggalkan oleh masyarakat kita yang tatkala menjelang berbuka mereka justru disibukkan dengan berbicara, disibukkan dengan mengumpulkan makanan sehingga lupa untuk berdoa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan tatkala memakan makanan disunnnah berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam:

ذهب الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allāh.”

“Telah hilang dahaga dan kerongkongan sudah menjadi basah dan tetap ada ganjaran dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, insya Allāhu Ta’āla.”

(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih Al Jami’: 4/209, no. 4678)

Inilah doa yang disunnahkan oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam.

Semoga kita diberi taufiq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla unutk bisa berpuasa dan diampuni dosa­­­­­­­­­­­­­­­-dosa kita karena kata Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap dari Allāh maka diampuni yang telah lalu.”

(HR Bukhari nomor 37, versi Fathul Bari nomor 38)

Terlalu banyak dosa yang kita lakukan tatkala masuk bulan Ramadhan, lalu keluar Ramadahan dengan dosa-dosa yang telah diampuni, tidak ada yang tersisa sedikitpun dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Demikian saja apa yang bisa saya sampaikan.

وَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
___________________________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Fiqih Ramadhan bagian 12

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 08 Ramadhān 1437 H / 13 Juni 2016 M
👤 Ustadz Zaid Susanto, Lc
📔 Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 12)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UZS-12
⬇ Download Materi Fiqih Ramadhan Lengkap : bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UZS
📺 Video Source: https://youtu.be/48pgv9ZUnCc
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 12)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita kembali melanjutkan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān). Kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin rahimahullāh mengatakan :

والْمفط ِّرات سبعة أنواع

Pembatal-pembatal puasa itu ada 7:

*⑸ Keluarnya darah*

Keluarnya darah karena sebab berbekam. 

Ini ada khilaf di kalangan para ulamā, akan tapi Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin mengatakan bahwasanya orang yang dibekam itu batal puasanya.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

“Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya.”

(Hadīts ini juga dikeluarkan oleh Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 931 mengatakan bahwa hadīts ini shahīh)

Kata Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin dalam masalah batal dibekam dan membekam:

هذا مذهب الإمام أحمد وأكثر فقهاء الحديث

“Ini adalah pendapatnya Imām Ahmad, dan kebanyakan ulamā hadīts.”

Jadi, untuk masalah dibekam dan membekam sebaiknya dihindari, walaupun sebagian ulamā memperinci bahwa kalau memang yang dibekam itu kuat tidak menyebabkan dia lemah maka dia boleh berbekam, kalau memang dibutuhkan.

Dan bekam itu sebuah pengobatan yang sangat efektif. Berdasarkan testimoni, kanker bisa diobati dengan dibekam, māsyā Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menurunkan pengobatan untuk umat ini diantaranya adalah dengan bekam.

Kemudian juga ada type pengobatan yang sama yaitu dengan fasdu.

⇛Fasdu itu adalah pengobatan dengan memutuskan sebagian pembuluh darah sehingga darah akan keluar. Ini pengobatan di Arab.

⇛Jadi diputuskan sebagian urat darahnya sehingga darah mengucur, seperti kran mampet dibocorin kemudian air yang kotor keluar, setelah itu di tutup lagi, jadi yang kotor biar keluar terlebih dahulu.

Yang seperti ini tidak membatalkan puasa. Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawwab

*⑹ Muntah dengan sengaja (التقيؤ عمدا)*

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَليَقْضِ

“Barangsiapa yang muntah, tidak sengaja maka dia tidak wajib untuk mengqadha’ (artinya puasanya tidak batal) tapi orang yang sengaja memuntahkan diri, maka dia harus mengqadha’ puasanya.”

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd 2/310, Tirmidzi 3/79, Ibnu Mājah 1/536, Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, sanadnya shahīh)

Atau dengan perkara-perkara lain, misalnya sengaja perutnya di tekan-tekan, dia tahu bila ditekan akan muntah (sengaja) atau dengan menunggingkan kepala, dia tahu bahwa menunggingkan kepala akan muntah, maka batal puasanya.

Segala perkara yang menyebabkan muntah dengan sengaja maka itu membatalkan puasa.

*⑺ Keluarnya darah hāidh dan nifas*

Wanita, bila tiba-tiba keluar darah hāidh maka harus membatalkan puasanya dan tidak sah puasanya, meskipun kurang 5 menit lagi berbuka.

Selesai dalam masalah: مُفَطِرَاتٍ الصَّوم , pembatal-pembatal puasa.

Sekarang timbul pertanyaan:

“Ustadz, apakah setiap pembatal itu, apabila dilakukan pasti membatalkan puasa?

Misalnya seseorang tiba-tiba makan dan minum, apakah pasti dia batal?”

Tidak, ada syaratnya.

Maka dalam majelis ke lima belas Syaikh mengatakan: Syarat-syarat sehingga pembatal puasa itu betul-betul membatalkan.

Kalau hāidh dan nifas pasti batal, karena hāidh dan nifas keluar dengan sendirinya, baik disengaja ataupun tidak.

Singkat kata kata Beliau bahwa pembatal-pembatal puasa itu tidak akan membatalkan kecuali dengan 3 (tiga) syarat :

①  أن يكون عالما

Orang ini tahu bahwa hal itu benar-benar membatalkan.

Maka kalau ada orang jāhil, tidak tahu kalau perkara itu dapat membatalkan maka tidak batal.

Dia berpuasa tapi makan dan minum, ditanya: “Kamu puasa?”
“Iya ,saya puasa”
“Lah, kok makan dan minum?”
“Lho, memang kenapa?”
“Lho, yang namanya puasa itu tidak boleh makan dan minum bisa batal puasa nya.”
” Oh ,iya tah? Dalīl nya apa?”

Baru kemudian disebutkan (dibacakan) surat Al Baqarah.

“Oh, saya tidak tahu, betul-betul baru tahu sekarang yang namanya puasa tidak boleh makan dan minum.”

Berarti puasanya batal atau tidak?

Tidak.

Mana dalīlnya?

Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Yā Allāh, mudah-mudahan engkau tidak menghukum kami, sesuatu yang tidak atau kami lupa atau kami salah.”

(QS Al Baqarah: 286)

Termasuk di dalamnya adalah ketidaktahuan.

Atau misalnya orang yang memang tidak tahu hukumnya syar’i, betul-betul tidak tahu hukum syar’i.

أن يظن أن هذا الشيء غير مفطر فيفعله، أو جاهلا  بالحال أي بالوقت

“Jadi dia tidak tahu bahwa hal itu membatalkan atau dia tidak tahu kalau dia sedang puasa”.

Misalnya dia tidak tahu bahwasanya waktu saat itu dia sudah wajib berpuasa.

⇛Misalnya ada seseorang menyangka bahwa waktu fajar belum tiba (misalnya karena jamnya mati), kemudian dia makan terus, padahal fajar sudah tiba. Maka yang seperti ini tidak membatalkan puasa, karena tidak tahu.

② أن يكون ذاكرا

Ingat kalau dia sedang puasa.

Kalau dia lupa maka pembatal-pembatal tersebut tidak membatalkan dan tidak mengqadha’.

⇛Contoh seorang makan dan minum karena lupa, termasuk di dalamnya (maaf) suami istri melakukan jima’ karena lupa kalau keduanya sedang puasa.

Wallāhu Ta’āla a’lam bishawab

③ أن يكون مختارا

Melakukannya dengan sukarela.

Jadi tidak dipaksa, makanya bila ada wanita sedang puasa kemudian suaminya pulang dari safar memaksa istrinya (untuk jimak) maka yang seperti ini istrinya tetap tidak batal.

‘Alā kulli hal, yang jelas kalau seseorang melakukannya karena terpaksa maka tidak batal.

Demikian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan hari ini, mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat dan masih banyak tentunya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan puasa, tetapi saya cukupkan sampai disini.

Demikian.

وصلى الله على نبينا محمد
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
___________________________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Fiqih Ramadhan bagian 11

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 06 Ramadhān 1437 H / 11 Juni 2016 M
👤 Ustadz Zaid Susanto, Lc
📔 Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 11)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UZS-11
📺 Video Source: https://youtu.be/48pgv9ZUnCc
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 11)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kaum Muslimin dan Muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita kembali melanjutkan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān), kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin rahimahullāh mengatakan:

وال ْمفتطِّرات سبعة أنواع

Jadi Pembatal-pembatal puasa itu ada 7

الأكل أو الشرب

(3) Makan atau Minum

Yaitu masuknya makanan atau minuman ke dalam rongga tubuh dari (lewat) mulut atau hidung, makanan apa saja.

⇛Sehingga kalau seorang sengaja menelan batu, padahal batu bukan makanan, tapi dia maksudkan untuk makan, maka batal puasanya.

▪Bagaimana hukumnya kalau hanya sekedar mencium bau makanan?

Maka tidak batal.

√ Demikian juga kalau mencicipi makanan, maka tidak batal.

→ Maksud mencicipi makanan adalah hanya sekedar rasa di lidah setelah itu dikeluarkan (kalau bisa) tapi terkadang sulit (jadi tidak mengapa).

→ Dicicipi saja sudah terasa dan tidak harus ditelan, karena mencicipi makanan itu letak rasanya di lidah. Syaraf (indra) perasa itu letaknya di lidah, karena itu jika makanan sudah ditelan hilang rasanya.

⇛ Jadi kalau sekedar mencicipi tidak masalah dan tidak membatalkan puasa.

▪Ustadz, bagaimana kalau ada orang memakai tetes mata kemudian terasa pahit ditenggorokan (karena memang ada jalur saraf dari mata ke tenggorokan), apakah membatalkan puasa?

Jawabannya: Tidak !

√ Sebagaimana orang yang kentut di dalam air, kalaupun air betul-betul masuk lewat dubur maka tidak membatalkan puasa.

√ Karena mata, telinga kemudian dubur dan anggota tubuh yang lainnya bukan tempat masuknya makanan atau minuman. Tempat masuknya makanan dan minuman adalah mulut atau hidung.

Sampai dicontohkan oleh ulama:

Seandainya ada orang yang sedang masak sayur, menggunakan panci/belanga yang besar sekali, mau berbuka puasa bersama. Terus, mau mencicipi atau mau mengaduk kemudian dicari sendok besar yang digunakan untuk mengaduk tapi tidak ada, sehingga memakai kakinya. Ketika mengaduk terasa gurih di tenggorokannya maka puasanya tidak batal.

⇛Mengapa?

Karena kaki bukan tempat masuknya makanan.

ما كان بمعنى الأكل والشراب

(4) Sesuatu yang seperti makanan dan minuman

Ada 2 macam sesuatu yang seperti (bermakna sama) dengan makanan dan minuman:

حقن الدم في الصائم

① Donor darah yang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang sedang berpuasa.

Misal:

Seorang yang lagi berpuasa kemudian mengalami pendarahan, فيحقن به دم , kemudian darah itu didonorkan kepada dia (ada donor ada penerima.

⇛Bagaimana orang yang berpuasa kemudian menerima donor darah?

Kata Syaikh, فيفطر بذل , maka puasanya batal.

لأن الدم هو غاية الغذاء بالطعام والشراب

“Karena darah itulah tujuan dari makanan dan minuman.”

الإبر المغذ ِّية
② Infus

التي يكتفى بها عن الأكل والشرب فإذا تناولها أفطر

“Infus ini apabila dia mewakili makanan dan minuman maka yang seperti ini membatalkan puasa.”

⇛Walaupun infus bukan makanan dan minuman akan tetapi maknanya sama, dia menguatkan.

▪Ustadz, bagaimana kalau suntikan obat, misalkan suntikan anti biotik?

Misalnya:

Lagi puasa digigit anjing rabies, نعوذ بالله من ذالك , maka harus disuntik anti rabies, maka yang seperti itu tidak menbatalkan puasa.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab

[insyā Allāh, bersambung ke bagian 12]
_________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Fiqih Ramadhan bagian 10

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 05 Ramadhān 1437 H / 10 Juni 2016 M
👤 Ustadz Zaid Susanto, Lc
📔 Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 10)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UZS-10
📺 Video Source: https://youtu.be/48pgv9ZUnCc
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 10)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita kembali melanjutkan pembahasan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān). Kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin rahimahullāh mengatakan:

وال ْمفتطِّرات سبعة أنواع

Pembatal-pembatal puasa itu ada 7:

⑴ Al jima’ | Hubungan suami istri

Baik itu halal maupun harām.

⇛Yang halal bagaimana? Yaitu hubungan suami istri (pada umumnya).

⇛Yang harām bagaimana?

√ Hubungan suami istri ketika hāidh.
√ Hubungan suami istri (maaf) tidak lewat kemaluannya tapi lewat dubur, ini kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah perbuatan homoseksual shaghir (menyerupai kaumnya Nabi Luth).

√ Masih pacaran (ini banyak sekali sekarang), belum resmi. Terkadang orang itu inginnya cepet yang enak-enak saja tidak mau melalui suatu proses yang sebetulnya mudah sekali.

Agama islam itu mudah dan memudahkan, menjadikan sesuatu yang harām menjadi halal.

Maka segala bentuk jima’, entah itu yang halal atau yang harām, (yaitu) masuknya kemaluan laki-laki kedalam kemaluan perempuan maka ini membatalkan puasa.

Kata Syaikh:

Dan ini adalah pembatal puasa yang paling besar dosanya.

Puasanya batal dan dia juga berdosa.

Maka, kapan saja kalau ada orang yang berpuasa kemudian berhubungan suami istri, maka puasanya batal, baik puasa wajib maupun puasa sunnah.

Lalu bagaimana apabila ini dilakukan?

Maka wajib bagi orang yang melakukannya mengqadha’ untuk hari itu dan ditambah kafarah mughaladhah (denda yang berlipat-lipat besar).

Apa itu kafarahnya?

Kafarah yang pertama membebaskan budak, kemudian kalau tidak bisa membebaskan budak maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut, tidak boleh batal disela-selanya kecuali ada udzur syar’i.

⇛Misalnya terpotong oleh dua hari raya atau hari tasyrik atau mungkin sakit yang memang menghalangi dia dari puasa, atau safar sehingga mengakibatkan dia untuk berbuka, atau hāidh, dan lain-lain. Ini adalah udzur-udzur syar’i.

Demikian, Wallāhu Ta’āla A’lam.

⑵ Keluarnya air mani

Keluarnya air mani karena sengaja, baik karena dia mencium, menyentuh, meraba atau onani (masturbasi).

Bahkan sebagian ulama mengatakan, kalau mikir (menghayal) kemudian sampai keluar air mani maka puasanya batal.

Kalau melihat kemudian dia menundukan pandangan mata, kemudian melihat lagi sampai keluar air mani maka batal puasanya.

Makanya ada pembahasan masalah seperti itu berarti kemungkinan besar ada (terjadi). Sampai pernah bercerita kepada saya tentang kejadian itu, melihat kemudian keluar air mani, karena kuatnya syahwat.

Sebagian ulamā ada yang mengatakan, kalau melihat pertama kemudian keluar air mani maka tidak batal puasanya, tapi kalau dia melihat pertama kemudian diulang lagi kemudian keluar air mani, maka batal puasanya, kenapa?

Karena dia mengulang-ulang melihatnya.

Dalam hadīts dikatakan:

“Pandangan pertama itu jatahmu (tidak sengaja) dan pandangan kedua ini tanggung jawabmu.”

~~
Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu:

يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ

“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama, dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).”

(HR At Tirmidzi nomor 2701, versi Maktabatu Ma’arif Riyadh nomor 2777)
~~~

Maka, kalau tidak sengaja kemudian keluar air mani maka tidak batal.

Allāhu Ta’āla A’lam bish Shawwab.

Adapun yang berpikir (kemudian keluar mani) yang saya sampaikan tadi sebetulnya tidak batal karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampunkan dari umatku sesuatu yang hanya merupakan bisikan-bisikan dalam hatinya.”

(HR Bukhari nomor 4864, versi Fathul Bari nomor 5249)

Jadi kalau mikir kemudian keluar mani maka tidak batal.

Wallāhu Ta’āla  A’lam bish Shawab

Tapi kalau keluar mani dengan sengaja, dengan mencium atau memegang atau onani dan yang lainnya maka yang seperti ini adalah membatalkan puasa.

Karena puasa itu hakikatnya adalah meninggalkan hawa nafsu sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts qudsi:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي

“Dia meninggalkan makannnya, minumannya, dan nafsu syahwatnya, karena puasa untuk-Ku.”

(HR Bukhari nomor 1761, versi Tathul Bari nomor 1894)

Kalau mencium boleh tidak?

Kalau dia orang yang kuat
syahwatnya dan yakin dengan mencium akan keluar air mani maka tidak boleh mencium, dan anda lebih tahu tentang diri anda.

Apabila suaminya tidak mengapa bila mencium, maka tidak mengapa.

Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawwab.

[insyā Allāh, bersambung ke bagian 11]
_________
🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

1. Tebar Ifthar Ramadhan
2. Program I’tikaf Ramadhan
3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 http://www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar