Bahasa Arab dan Pengaruhnya Terhadap Dunia

Bahasa Arab dan Pengaruhnya Terhadap Dunia

Oleh : Raidah Athirah

****

Tulisan ini untuk mengungkap fakta bahwa orang-orang yang berteriak anti Arab sedang mempermalukan diri sendiri .

Mengapa kalimat pembuka saya demikian ?

Betapa konyol orang-orang yang mengkampanyekan anti Arab disaat bersamaan ada fakta sejarah yang tidak bisa diubah yakni betapa berpengaruhnya Arab dan peradabannya terhadap dunia .

Salah satu contoh nyata adalah bahasa .Bahasa Arab merupakan bahasa tertua yang mempengaruhi bahasa-bahasa di dunia.

Sarah Grey Thomason salah satu pakar linguistic dari Universitas Michigan yang juga dikenal sebagai pembicara di forum dunia menulis jurnal dengan judul

“Arabic in contact with other languages ”

Ia menjelaskan dengan detail termasuk mengkategorikan bahasa -bahasa di dunia yang mengambil bahasa Arab secara utuh dalam hal ini termasuk bahasa Indonesia .

Bahkan Ia menyebutkan bahasa Indonesia merupakan bahasa yang paling dominan mengambil,menyerap dan menggunakan bahasa Arab.Masih ingat dengan buku-buku dan tulisan orang tua dulu yang biasa dikenal dengan ‘Tulisan Arab Melayu ‘ ?

Itu bukti bahwa nenek moyang kita yang membangun peradaban mengakui pengaruh ( bahasa ) Arab dalam budaya Indonesia .

Perlu kita pahami bahwa kebanyakan budaya di dunia tidak berdiri sendiri melainkan merupakan campuran dari unsur-unsur budaya lain termasuk peradaban besar yang sering kita agungkan yakni peradaban Eropa .

Kalau Anda generasi hari ini yang berteriak anti Arab tanpa pernah membaca fakta sejarah , maka belajarlah merendah untuk mengakui sebuah kebenaran.Hanya orang-orang sombong yang tidak mengakui kebenaran.Dan Tuhan benci kepada orang-orang yang sombong.

*****

Bukti ini belum cukup ? Fakta yang saya tulis berdasarkan uraian pakar-pakar sejarah bahasa mengenai betapa Arab dan bahasanya sangat berpengaruh akan membuat Anda menyesal telah meneriakkan kekonyolan ( kalau tidak mau dibilang kebodohan ) yang meneriakkan Anti Arab .

Kemanapun Anda pergi tidak akan lepas dari (bahasa ) Arab . Karena sekali lagi , nama -nama di dunia bahkan ibukota negara Spanyol memakai bahasa Arab.Spanyol yang ibukotanya MADRID berasal dari bahasa Arab ‘ AL MAJRIT ‘ yang berarti sumber air .Silahkan tanyakan kepada orang Spanyol benar tidak apa yang saya uraikan .

Ah , itu mungkin kebetulan ! Silah cek sejarah Spanyol dan hubungannya dengan Islam .Insha Allah Anda akan semakin kagum dengan Arab .

Masih belum cukup ? Anda tahu ibukota Portugal ? Ibukota tanah lahir bintang sepak bola Ronaldo itu juga berasal dari bahasa Arab yakni AL ASHBUA , berubah mengikuti dialek setempat menjadi LISBOA .

Anda bangga bisa berbahasa Inggris , Jerman , Spanyol, Italia , Portugis atau bahasa Prancis ? Anda perlu tahu bahwa bahasa yang Anda banggakan ini mengambil dan menyerap bahasa Arab dengan senang hati dan dipakai turun temurun.

Bahasa Inggris mungkin sudah sering Anda dengar bahwa berasal dari bahasa Arab.Apalagi bagi Anda yang suka jalan-jalan dan lebih bangga menyebut ‘ TRAVELLING ‘ .Anda mungkin dari sekarang harus merendah dan mengakui bahasa Arab karena kata yang Anda pakai itu pun berasal dari bahasa Arab yakni TRAFALGAR .Sejarahnya bisa Anda cari sendiri !

Anda pengagum fanatik sepak bola ? Klub Arsenal yang terkenal itu pun berasal dari bahasa Arab dipakai dari abad ke-12 oleh Eropa yang berasal dari kata ‘ DAR-SINAA ‘ artinya pun masih sama seperti dipakai pertama kali.

Tetap yakin Anti Arab ? Jangan jadi MAFIA ! Kata yang kita pikir berasal dari bahasa Italia ini ternyata asli bahasa Arab yakni ‘ MIHYAS ‘ berarti ditolak.Sejarahnya bagaimana ? Silahkan Anda cari sendiri .

Jangankan Anda yang terkejut , saya yang sedang mempelajari bahasa Polandia juga terkejut dengan fakta bahwa banyak kata dalam bahasa Polandia sendiri berasal dari bahasa Arab .Bahkan pengucapannya pun mirip.Saya contoh kan dua kata

KAWA dibaca KAVA artinya kopi

CUKIER dibaca Sukir artinya gula ( Arab : Sukkar )

*****

Masih banyak fakta yang semakin digali semakin tercenganglah kita .Memang betul kata orang bijak ” Membenci hendaklah seperluhnya saja ”

Begitu pun dengan Arab dan budayanya.Apalagi kalau yang anti Arab ini seorang ( yang mengaku ) Muslim ,sungguh ini sebuah kemalangan besar.Rajin-rajinlah baca sejarah ! Jangan WA melulu ! Status galau tak henti-henti .Selfie tak mengenal batas .Padahal kata kamera dari bahasa Arab .Masih mau anti Arab ???? Ayo Mikir !!!

Jablonna , Polandia

28 Februari 2016

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Reminder ( Wahai diri )

Dan tiada bagi insan selain yang diusahakannya. Dan usahanya kan diperlihatkan padanya. Tuk dibalas dengan ganjaran sempurna. {QS 53: 39-41}

Di hari itu tiap jiwa diberi balasan atas apa yang diusahakan. Hari itu tiada yang dirugikan. Sungguh Allah amat cepat hisabnya. {QS 40: 17}

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BAcalah Dengan Sabar

🌷🌾 BILA INGIN MEMAHAMI ISLAM, BACALAH TULISAN DI BAWAH INI DENGAN FOKUS DAN SABAR 🌾🌷

Islam atau Arab

Tulisan ini untuk mengajak umat muslim Indonesia lebih kritis dalam memahami tentang “ISLAM dan ARAB’ dengan kebudayaannya, sehingga kita tidak terperangkap dalam kesesatan pemikiran yang sempit tentang

I S L A M

1. Menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab, maka “Menjadi ISLAM” jelas-jelas berbeda dengan “ARABISASI”.

2. Islam itu bukan ajaran Arab, walaupun :
» Al-Qur’an berbahasa Arab,
» dan Nabi Muhammad dari kaum Arab.
Islam itu ‘Jalan Hidup’, ‘Prinsip Hidup’ bukan keyakinan orang Arab.

3. Faktanya…
» Turunnya ajaran Islam justru ‘ditentang’ oleh kaum Arab di masa itu karena Islam datang mengubah
» Tradisi,
» Keyakinan,
» Kebiasaan jahiliyah orang-orang Arab.

4. Islam datang kepada kaum Arab membawa ‘Tatanan yang Baru’ sama sekali, baik dalam hal
» Tradisi,
» Kebiasaan,
» Akhlak,
» Hukum,
» dan juga Cara Hidup.

5. Perlu dicatat… !
Karena Al-Qur’an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab, maka ‘Bahasa Arab’ juga tidak bisa dipisahkan dari ‘Agama Islam’ karena Kitab Sucinya adalah berbahasa Arab.

6. Juga sebuah kewajaran bahwa Agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana.

7. Mengenai tokoh-tokoh besar Agama Islam ini adalah orang Arab itu pun wajar saja, karena merekalah kaum awal beragama Islam.

8. Jadi bisa dikatakan :
» Arab belum tentu Islam,
» dan Islam tidak harus Arab,
» yang jelas Islam itu pasti berdasarkan

“Al-Qur’an
dan
As-Sunnah”

9. Juga salah besar, bila dikatakan bhw “Islamisasi sama dengan Arabisasi”, lantas menolak Islamisasi dengan dalih,

“Ini Indonesia, bukan Arab”

10. Apa bedanya?
Jelas beda sekali, menjadi Arab atau bukan Arab itu adalah ‘TAKDIR’, sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu adalah ‘PILIHAN’

11. Islam itu ya Islam!!!
Tidak perlu ada pandangan :

“Disana Islam Arab,
disini Islam Nusantara”,

ini pandangan yang mungkin niatnya baik tetapi justru berpotensi
“MEMECAH BELAH ISLAM”. Sebaiknya dihindari.

12. Islam itu ya Islam!!!
Panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaur Rasyidin dan juga Tabiin, Tabiut Tabiin, Ulama Salaf, apapun Madzhabnya.

13. Adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal.
» Bila bertentangan dengan Islam tinggalkan saja…
» dan bila tidak silahkan dilanjutkan.

14. Apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah jadi Muslim?
Ya AQIDAH, bila bertentangan dengan Aqidah, ya mutlak harus ditinggalkan.

15. Misalnya seperti budaya
» Membuka Aurat,
» Menyembah pohon,
ya harus tinggalkan.
Beda dengan
» Arsitektur,
» Aneka Makanan (halal),
ya boleh dilanjutkan.

16. Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja tetapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya.

17. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja tetapi menyembah batu dan patung harus dihapuskan.

18. Dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja. Namun bila sudah ada larangan syariat, maka :

ISLAM YANG HARUS
DI UTAMAKAN

19. Maka di dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain Aqidah, boleh saja diadopsi termasuk teknologi juga karena termasuk “produk non-aqidah”.

20. Kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik.

21. Kesimpulannya…
» Belajarlah Islam,
» Kaji terus Islam, jangan berhenti,
» Taati Allah dan Rasulullah semata,
» karena kita akan kembali kepada-Nya.

22. Kesimpulan lain, jadi Muslim kamu
» gak harus pakai sorban,
» gak harus berjubah,
» yang jelas Pikiranmu, Lisanmu, Amalanmu,

Harus ber-Azas Islam.

23. Jangan sampai terbalik,
» kamu pakai sorban,
» pakai sarung,
» mengenakan peci, jubah,
tetapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

24. Lebih bagus kamu memakai
» Batik,
» Kemeja,
» Kaos,
» Celana,
lalu setiap kamu mikir, lisan, amal, semua berdalil :

“Kitabullah
dan
Sunnah”.

25. Lebih bagus lagi, kamu memakai peci, memakai sarung, mengenakan sorban, berjubah dan semua pikiran, lisan, amalmu, azasnya Kitabullah dan Sunnah, itu.

Jadi di dalam Agama Islam

“Aqidah dan Akhlak-lah”
yang harus diutamakan… bukan simbol …

Semoga menggugah qolbu kita…

⏩ Bagus bila disebarkan

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10216423329247547&id=1585622991

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sifat penghuni surga dan sifat penghuni neraka

Ibnu Wahb mengatakan : Aku mendengar Ibnu Zaid Berkata :

” Allah Subhanahu wataala Mensifati Penduduk Surga Dengan Rasa Takut, Rasa sedih, Banyak menangis, Serta Rasa Kasihan ketika hidup didunia, Maka Karna Itulah Allah Memberikan kepada mereka Kenikmatan Dan Juga kebahagiaan Di akhirat.
Kemudian Ia membaca Firman Allah – azza wajalla- :

قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا قَبۡلُ فِيٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab).
(Surat Ath-Thur, Ayat 26)

Kemudian ia Berkata : Dan Allah Azza wajalla Mensifati Penduduk Neraka Dengan Kebahagiaan, Sering Tertawa dan Berbagai macam Kesenangan Didunia.

Kemudian ia membacakan Firman Allah Azza wajalla :

إِنَّهُۥ كَانَ فِيٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا
Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).
(Surat Al-Insyiqaq, Ayat 13)
إِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ
Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).
(Surat Al-Insyiqaq, Ayat 14)

📝Sumber : At-tdzakirah bi akhwalil mauta wa umuuril Akhira

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Doa agar anak terhindar dari zina

Doanya Adalah :

اللهم اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ .

Allahummaghfir zanbahu watohhir qalbahu wahassin farjahu .

Artinya : Ya Allah ampunkan dosanya ,sucikanlah hatinya (dari memikirkan sesuatu maksiat) ,dan jagalah kemaluannya (dari melakukan zina).

#copas dari ceramah Ustadz Zainudin Al Banjari

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hukum Flek coklat sebelum haid

KUPAS TUNTAS HUKUM FLEK COKLAT KETIKA HAID

👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗👗

👤 Fatwa Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullah

📬 Pertanyaan:
Di permulaan siklus haid yang saya alami keluar flek kekuningan dan yang dominan warna kecoklatan. Flek ini terus keluar sejak hari pertama sampai hari kedua atau ketiga. Setelah itu keluar darah haid sebenarnya. Apakah flek coklat yang keluar di hari tersebut dianggap sebagai haid ataukah bukan? Dan diakhir flek tersebut keluar darah hitam, apakah termasuk haid ataukah bukan?

📨 Jawaban:
Alhamdulillah,

👉 Kondisi pertama:
Flek coklat yang keluar sebelum haid
Jika flek ini:

☑ Keluar di masa haid yang menjadi kebiasaannya atau keluar selang sebentar sebelum masa haid,
☑ Disertai rasa sakit dan nyeri haid,
☑ Bersambung dengan darah haid maksudnya setelah keluar flek coklat lalu keluar darah haid,
maka flek ini bagian dari darah haid yang menjadi kebiasaannya. Wanita tersebut dilarang mengerjakan shalat dan puasa.

👉Demikian juga jika flek coklat keluar selama satu atau dua hari, diiringi rasa sakit haid kemudian di hari ketiga baru keluar darah haid sebenarnya maka seluruhnya dihitung sebagai haid.

Pendapat inilah yang dipilih Syaikh Ibn Baz rahimahullah akan tetapi beliau hanya memberi syarat flek tersebut bersambung dengan darah haid saja. Beliau tidak mensyaratkan adanya rasa nyeri haid. Syarat harus ada nyeri haid ini merupakan pendapat lama Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Adapun pendapat beliau yang terbaru, sama sekali tidak menganggap flek coklat sebagai haid.

💠• Dalam Tsmaratut Tadwin’An Ibn ‘Utsaimin hal.24, didalamnya Syaikh Ibn Ustaimin menyatakan:
“Yang nampak bagiku dan yang membuat tenang jiwaku kepadanya bahwasanya haid hanyalah darah yang keluar. Adapun flek kekuningan atau kecoklatan bukan termasuk haid meskipun keduanya keluar sebelum keluarnya cairan putih. Allahua’lam.”

💠• Di dalam kitab yang sama disebutkan:
“Seorang wanita mengeluarkan flek coklat selama tujuh hari. Kemudian setelah itu keluar darah haid sebenarnya selama sisa bulan itu. Kemudian bersih (tidak haid) terkadang sampai tiga bulan. Apa hukum darah dan flek coklat tersebut?

👉 Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:
“Semua darah tersebut termasuk haid. Adapun flek keruh kecoklatan tidak dianggap haid sama sekali.”
(Tsamaratut Tadwin hal. 24-25)

🌸 Adapun yang menguatkan pendapat yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa flek coklat keruh yang keluar sebelum haid termasuk haid jika keluar di masa haid, keluar bersambung dengan darah haid serta diiringi rasa nyeri haid adalah dikarenakan flek coklat dan kekuningan termasuk salah satu warna-warna darah menurut pendapat mayoritas ulama pakar fikih.

Haid adalah pecahnya dinding rahim yang terdapat darah dan kotoran didalamnya. Sehingga darah keluar dengan warna yang berbeda-beda dan berdegradasi. Dimulai dengan darah hitam pekat atau kehitam-hitaman kemudian memudar menjadi warna keruh kecoklatan atau kekuningan. Dan terkadang yang terjadi sebaliknya. Darah haid dimulai dengan warna kekuningan atau keruh kecoklatan kemudian keluar darah. Nanti akan ada penjelasan hadits’Aisyah radhiyallahu ta’ala’anha yang menunjukkan bahwa cairan kekuningan dan keruh sebelum suci termasuk haid.

👉 Sebenarnya tidak ada perbedaan flek kekuningan atau kecoklatan yang keluar sebelum suci dengan flek yang keluar di masa haid sebelum keluar darah haid yang disertai dengan tanda-tanda haid seperti sakit dan nyeri.

Jika ada yang berkata, tidak ada syarat kecuali hanya bersambung dengan darah haid sungguh ini juga merupakan pendapat yang kuat. Sebagaimana pendapat yang disampaikan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dengan catatan flek tersebut keluar dimasa haid.

👤 Ulama pakar fikih madzab Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa flek coklat dan kekuningan yang keluar di masa haid termasuk haid. Flek disini mencakup flek yang keluar di permulaan haid. Wallahua’lam.

👤 **Ulama madzab Malikiyyah dan Syafi’iyyah berpendapat flek coklat keruh dan kekuningan termasuk haid secara mutlak atau di waktu yang memungkinkan (keluar flek coklat). Tentunya hal ini mencakup jenis flek yang keluar sebelum darah haid. Sebagaimana hal ini bukan rahasia lagi.**

Sebagai tambahan, silahkan lihat ‘Mausu’ah Ahkamu At-Toharah’ karangan Syaikh Abu Umar Ad-Dubayyan hafizahullah, (6/281-299). Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, (1/296), Al-Mughni (1/202), Al-Majmu’ (2/422).

👉 Kondisi Kedua:
Flek coklat dan kekuningan keluar setelah darah haid

💉 Flek coklat keruh dan kekuningan yang keluar setelah darah haid dan sebelum suci maka termasuk haid. Berdasarkan sebuah riwayat Malik dalam Al Muwaththa’ No.130 dari Ummu’Alqamah beliau berkata:

كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدُّرْجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنْ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَ

“Dahulu para wanita mengirimkan kepada ‘Aisyah, ibunda kaum mukminin radhiyallahu’anha dengan membawa wadah yang berisi kapas yang terdapat flek kekuningan karena darah haid. Mereka bertanya hukum shalat ketika keluar flek tersebut. Maka’Aisyah radhiyallahu’anha menjawab untuk mereka:
‘Janganlah kalian tergesa-gesa sampai kalian melihat cairan putih sebagai tanda berhenti dari haid.”
[Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil No. 198) dan diriwayatkan Imam Bukhari secara mu’allaq (Kitabul Haid]

👉 Kondisi Ketiga :
Flek coklat keruh dan flek kekuningan yang keluar setelah suci dari haid.

🌺🏷Flek yang keluar setelah suci dari haid tidak lagi dianggap sebagai haid.
Berdasarkan hadits Ummu’Athiyab radhiyallahu’anha:

كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الطهر شيئا

“ Dahulu kami sama sekali tidak menganggap sebagai haid flek keruh dan kekuningan yang keluar setelah suci.
[HR. Bukhari No. 320, Abu Dawud No. 307, An Nasai No. 368 dan Ibnu Majah No. 647 dan lafal hadits diatas milik Abu Dawud]

🌍 Sumber: http://islamqa.info/ar/179069
📂 Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitasalihahCom

🔰 @Manhaj_salaf1

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Standar kebaikan disisi ALlah

Standar Kebaikan Seseorang Di Sisi Allah

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
Takhrij singkat hadits

Hadits ini shahih. Dikeluarkan oleh al-Bukhari (71) dan Muslim (1037, 98).
Penjelasan hadits

Al-Imam an-Nawawi (676 H) di dalam kitabnya Riyadhush Shalihin menyebutkan empat ayat yang berkenaan dengan keutamaan ilmu dan ahlinya. Ayat-ayat yang beliau bawakan adalah:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“…dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaha: 114).

Dan firman-Nya:

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar: 9).

Dan juga firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dan firman-Nya pula:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang berilmu)…” (QS.
Fathir: 28).

Yang dimaksud dengan ilmu, yang telah diterangkan di dalam dalil-dalil tentang keutamaan, pahala, dan ketinggian derajat orang-orang yang menuntutnya serta merupakan warisan para Nabi; adalah ilmu syariat, baik yang berkenaan dengan akidah (keyakinan) maupun amal (praktek ibadah). Inilah ilmu yang penuntut dan orang yang mempelajari dan mengajarkannya terpuji di sisi Allah. Bukan ilmu yang berkaitan dengan dunia, seperti ilmu perhitungan, ilmu teknologi dan yang sejenisnya. Dan menuntut ilmu merupakan jihad fi sabilillah dan setara dengannya, sebagaimana diterangkan dalam kitabullah. Hal itu disebabkan; orang yang tidak berilmu (tidak mengetahui) tidak mungkin baginya untuk beramal ibadah sesuai dengan apa yang dimaksud dalam syariat. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS. At-Taubah: 122).

Maksud ayat ini; mengapakah sebagian dari kaum mukminin tidak pergi berjihad ke medan perang di jalan Allah, dan sebagian yang lainnya tetap tinggal guna memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada yang lainnya sepulang mereka kembali dari medan perang?

Sehingga, dalam ayat ini Allah setarakan antara tafaqquh fid din (mempelajari agama) dan jihad fi sabilillah. Bahkan belajar agama lebih utama daripada berperang di jalan Allah. Karena tidak mungkin seorang mujahid dapat berjihad, seorang yang shalat dapat melakukan shalat dengan benar, seorang pembayar zakat membayar zakatnya dengan tepat, orang yang berpuasa dapat berpuasa dengan baik, seorang yang berhaji dan umrah melaksanakan ibadahnya; melainkan apabila ia berilmu dan memahami tata cara ibadah-ibadah tersebut dengan benar. Bahkan tidak mungkin orang yang makan, minum, tidur, dan bangun kembali melaksanakan semua aktifitas tersebut dengan baik dan benar melainkan dengan ilmu pula. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa ilmu merupakan dasar dan landasan segala sesuatu. Oleh sebab itulah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Tidak ada perbedaan antara mujahid yang membawa persenjataannya dan penuntut ilmu yang berusaha membahas permasalahan ilmu dari kitab-kitab induk agama Islam, karena masing-masing dari mereka beramal dan bekerja di jalan Allah. Orang yang pertama berjihad menegakkan dan membela agama Allah, sedangkan yang kedua berusaha menjelaskan syariat Allah kepada seluruh hamba Allah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin, meletakkan Bab Ilmu setelah Bab Jihad; sebagai penjelasan bahwa ilmu semisal dengan jihad. Bahkan, sebagian ulama lebih mengutamakan Ilmu di atas jihad fi sabilillah. Namun pendapat yang benar adalah dengan perincian dan dengan mempertimbangkan keadaan; di antara kaum Muslimin ada yang jihad lebih sesuai dan utama baginya, dan di antara mereka ada yang menuntut ilmu lebih baik baginya. Maka, jika seorang Muslim memiliki kekuatan dan keberanian yang unggul, akan tetapi di dalam ilmu ia sangat kurang atau pas-pasan saja, sedikit hafalan ilmunya, sulit memahami ketika mempelajari ilmu, maka di sini kita katakan, berjihad (berperang di jalan Allah) lebih utama baginya. Namun jika keadaan seorang Muslim sebaliknya, ia tidak memiliki kekuatan tubuh yang prima, atau tidak memiliki keberanian hati yang kokoh, akan tetapi ia memiliki kekuatan hafalan, pemahaman dan kesungguhan yang baik dalam menuntut ilmu; maka menuntut ilmu lebih utama baginya. Namun jika kedua sisinya sama, maka di antara ulama ada yang tetap lebih mengutamakan menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan dasar dan landasan utama setiap Muslim. Juga, dengan ilmu semua orang dapat merasakan manfaatnya, orang yang jauh maupun yang dekat, orang yang hidup saat itu dan orang yang dilahirkan kemudian. Bahkan akan bermanfaat bagi penuntutnya di masa hidupnya dan setelah matinya. Sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا مات الإنسانُ انقطع عنه عملُه إلا من ثلاثةٍ : إلا من صدقةٍ جاريةٍ . أو علمٍ ينتفعُ به . أو ولدٍ صالحٍ يدعو له

“Jika manusia meninggal dunia terputuslah darinya seluruh amalannya, kecuali tiga hal; sedekah yang terus menerus, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim (1631) (14)).

Semua orang membutuhkan ilmu, baik mereka para Nabi ataupun bukan. Semua orang membutuhkan ilmu. Oleh karena itu Allah perintahkan Nabi-Nya untuk mengucapkan:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“…dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”” (QS. Thaha: 114).

Para Rasul membutuhkan ilmu dan pertambahannya. Sebagaimana mereka pun berdoa dengan memohon kepada Allah agar Allah menambahkannya. Maka, jika keadaan para Nabi dan Rasul saja demikian terhadap ilmu, tentunya orang-orang selain Nabi dan Rasul lebih membutuhkan lagi.

Sudah sepantasnya seorang hamba meminta kepada Allah agar ditambahkan ilmu kepadanya. Dengan demikian, wajib baginya berusaha mencari ilmu. Adapun jika sekedar berdoa saja dengan mengatakan, “Ya Allah tambahkan ilmu kepadaku”, namun tanpa ada usaha dengan melakukan sebab bertambahnya ilmu, maka ini jelas tidak dibenarkan sama sekali dan bukan sikap yang bijaksana. Orang yang demikian, sama halnya dengan orang yang berdoa, “Ya Allah, berikan rizki seorang anak kepadaku”, namun ia tidak mau menikah sama sekali. Maka, dari mana ia akan memperoleh anak? Jadi, harus dengan usaha melakukan sebabnya, karena Allah itu Maha Bijaksana. Ayat ini juga merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu. Pada ayat ini Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku harta” Bahkan Allah berfirman pula kepada Nabi-Nya:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari
mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih
baik dan lebih kekal” (QS. Thaha: 131).
Klasifikasi Ilmu Syar’i Ditinjau Dari Sisi Hukumnya

Ilmu Syar’i terbagi menjadi dua bagian; pertama bagian yang berhukum fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Dan bagian kedua adalah fardhu kifayah, yaitu ilmu yang jika sebagian orang telah mempelajarinya, maka orang lain yang tidak mempelajarinya tidak berdosa. Dan ada pula bagian yang ketiga, namun sebenarnya itu merupakan bagian dari yang kedua, yaitu yang berhukum sunnah, maksudnya; ilmu yang jika sebagian orang dalam jumlah tertentu telah mempelajarinya, maka orang-orang yang tidak mempelajarinya tetap disunnahkan untuk mempelajarinya.

Adapun bagian yang pertama, maka yang dimaksud adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan perkara-perkara yang wajib dipelajari setiap Muslim dalam agamanya. Seperti ilmu tauhid dan mempelajari segala perkara yang dapat membatalkannya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Juga seperti shalat, karena shalat ini wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama ia masih berakal sehat. Wajib baginya mempelajari tentang shalat sebagaimana wajib pula mempelajari hal-hal yang merupakan syarat keabsahan shalatnya, seperti bersuci dan segala hal yang berkenaan dengannya. Itu semua agar ia beribadah kepada Allah di atas kebenaran.

Adapun zakat, maka ini tidak wajib bagi setiap orang untuk mempelajarinya. Orang-orang yang berharta sajalah yang wajib mempelajarinya agar ia mengetahui dan memahami nishab (ukuran zakat) dan berapa yang wajib dikeluarkannya, juga kepada siapa disalurkan zakatnya tersebut.

Shaum (berpuasa), ini wajib dipelajari oleh setiap Muslim. Ia wajib mempelajari hal-hal yang membatalkan puasa, dan segala sesuatu yang mengurangi keutamannya, dan seterusnya. Haji, ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Yang wajib mempelajarinya adalah orang yang telah mampu untuk melaksanakan ibadah haji ini, agar ia berhaji dengan benar sesuai tuntunan syariat.

Jual-beli, hukum-hukum yang berkenaan dengan jual beli ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Akan tetapi ilmu ini wajib diketahui oleh orang yang berniaga, berbisnis dan berjual-beli. Wajib baginya untuk mempelajari apa saja jual-beli yang diharamkan dan apa saja yang dibolehkan secara syariat. Itu semua, demi kebenaran jual-belinya agar di atas petunjuk yang benar. Dan begitulah seterusnya.

Adakah Sesuatu Yang Lebih Mulia Dari Ilmu? Baca selengkapnya di website kami. Klik

https://muslim.or.id/27492-standar-kebaikan-seseorang-di-sisi-allah.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar