Hukum Flek coklat sebelum haid

KUPAS TUNTAS HUKUM FLEK COKLAT KETIKA HAID

๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—๐Ÿ‘—

๐Ÿ‘ค Fatwa Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullah

๐Ÿ“ฌ Pertanyaan:
Di permulaan siklus haid yang saya alami keluar flek kekuningan dan yang dominan warna kecoklatan. Flek ini terus keluar sejak hari pertama sampai hari kedua atau ketiga. Setelah itu keluar darah haid sebenarnya. Apakah flek coklat yang keluar di hari tersebut dianggap sebagai haid ataukah bukan? Dan diakhir flek tersebut keluar darah hitam, apakah termasuk haid ataukah bukan?

๐Ÿ“จ Jawaban:
Alhamdulillah,

๐Ÿ‘‰ Kondisi pertama:
Flek coklat yang keluar sebelum haid
Jika flek ini:

โ˜‘ Keluar di masa haid yang menjadi kebiasaannya atau keluar selang sebentar sebelum masa haid,
โ˜‘ Disertai rasa sakit dan nyeri haid,
โ˜‘ Bersambung dengan darah haid maksudnya setelah keluar flek coklat lalu keluar darah haid,
maka flek ini bagian dari darah haid yang menjadi kebiasaannya. Wanita tersebut dilarang mengerjakan shalat dan puasa.

๐Ÿ‘‰Demikian juga jika flek coklat keluar selama satu atau dua hari, diiringi rasa sakit haid kemudian di hari ketiga baru keluar darah haid sebenarnya maka seluruhnya dihitung sebagai haid.

Pendapat inilah yang dipilih Syaikh Ibn Baz rahimahullah akan tetapi beliau hanya memberi syarat flek tersebut bersambung dengan darah haid saja. Beliau tidak mensyaratkan adanya rasa nyeri haid. Syarat harus ada nyeri haid ini merupakan pendapat lama Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Adapun pendapat beliau yang terbaru, sama sekali tidak menganggap flek coklat sebagai haid.

๐Ÿ’ โ€ข Dalam Tsmaratut Tadwinโ€™An Ibn โ€˜Utsaimin hal.24, didalamnya Syaikh Ibn Ustaimin menyatakan:
โ€œYang nampak bagiku dan yang membuat tenang jiwaku kepadanya bahwasanya haid hanyalah darah yang keluar. Adapun flek kekuningan atau kecoklatan bukan termasuk haid meskipun keduanya keluar sebelum keluarnya cairan putih. Allahuaโ€™lam.โ€

๐Ÿ’ โ€ข Di dalam kitab yang sama disebutkan:
โ€œSeorang wanita mengeluarkan flek coklat selama tujuh hari. Kemudian setelah itu keluar darah haid sebenarnya selama sisa bulan itu. Kemudian bersih (tidak haid) terkadang sampai tiga bulan. Apa hukum darah dan flek coklat tersebut?

๐Ÿ‘‰ Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab:
โ€œSemua darah tersebut termasuk haid. Adapun flek keruh kecoklatan tidak dianggap haid sama sekali.โ€
(Tsamaratut Tadwin hal. 24-25)

๐ŸŒธ Adapun yang menguatkan pendapat yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa flek coklat keruh yang keluar sebelum haid termasuk haid jika keluar di masa haid, keluar bersambung dengan darah haid serta diiringi rasa nyeri haid adalah dikarenakan flek coklat dan kekuningan termasuk salah satu warna-warna darah menurut pendapat mayoritas ulama pakar fikih.

Haid adalah pecahnya dinding rahim yang terdapat darah dan kotoran didalamnya. Sehingga darah keluar dengan warna yang berbeda-beda dan berdegradasi. Dimulai dengan darah hitam pekat atau kehitam-hitaman kemudian memudar menjadi warna keruh kecoklatan atau kekuningan. Dan terkadang yang terjadi sebaliknya. Darah haid dimulai dengan warna kekuningan atau keruh kecoklatan kemudian keluar darah. Nanti akan ada penjelasan haditsโ€™Aisyah radhiyallahu taโ€™alaโ€™anha yang menunjukkan bahwa cairan kekuningan dan keruh sebelum suci termasuk haid.

๐Ÿ‘‰ Sebenarnya tidak ada perbedaan flek kekuningan atau kecoklatan yang keluar sebelum suci dengan flek yang keluar di masa haid sebelum keluar darah haid yang disertai dengan tanda-tanda haid seperti sakit dan nyeri.

Jika ada yang berkata, tidak ada syarat kecuali hanya bersambung dengan darah haid sungguh ini juga merupakan pendapat yang kuat. Sebagaimana pendapat yang disampaikan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dengan catatan flek tersebut keluar dimasa haid.

๐Ÿ‘ค Ulama pakar fikih madzab Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa flek coklat dan kekuningan yang keluar di masa haid termasuk haid. Flek disini mencakup flek yang keluar di permulaan haid. Wallahuaโ€™lam.

๐Ÿ‘ค **Ulama madzab Malikiyyah dan Syafiโ€™iyyah berpendapat flek coklat keruh dan kekuningan termasuk haid secara mutlak atau di waktu yang memungkinkan (keluar flek coklat). Tentunya hal ini mencakup jenis flek yang keluar sebelum darah haid. Sebagaimana hal ini bukan rahasia lagi.**

Sebagai tambahan, silahkan lihat โ€˜Mausuโ€™ah Ahkamu At-Toharahโ€™ karangan Syaikh Abu Umar Ad-Dubayyan hafizahullah, (6/281-299). Al-Mausuโ€™ah Al-Fiqhiyyah, (1/296), Al-Mughni (1/202), Al-Majmuโ€™ (2/422).

๐Ÿ‘‰ Kondisi Kedua:
Flek coklat dan kekuningan keluar setelah darah haid

๐Ÿ’‰ Flek coklat keruh dan kekuningan yang keluar setelah darah haid dan sebelum suci maka termasuk haid. Berdasarkan sebuah riwayat Malik dalam Al Muwaththaโ€™ No.130 dari Ummuโ€™Alqamah beliau berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ูŠูŽุจู’ุนูŽุซู’ู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฃูู…ูู‘ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุจูุงู„ุฏูู‘ุฑู’ุฌูŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ู’ูƒูุฑู’ุณููู ูููŠู‡ู ุงู„ุตูู‘ูู’ุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฏูŽู…ู ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถูŽุฉู ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ู’ู†ูŽู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ููŽุชูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽู‡ูู†ูŽู‘ ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุฌูŽู„ู’ู†ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุฑูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุตูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุถูŽุงุกูŽ ุชูุฑููŠุฏู ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุทูู‘ู‡ู’ุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถูŽ

โ€œDahulu para wanita mengirimkan kepada โ€˜Aisyah, ibunda kaum mukminin radhiyallahuโ€™anha dengan membawa wadah yang berisi kapas yang terdapat flek kekuningan karena darah haid. Mereka bertanya hukum shalat ketika keluar flek tersebut. Makaโ€™Aisyah radhiyallahuโ€™anha menjawab untuk mereka:
โ€˜Janganlah kalian tergesa-gesa sampai kalian melihat cairan putih sebagai tanda berhenti dari haid.โ€
[Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil No. 198) dan diriwayatkan Imam Bukhari secara muโ€™allaq (Kitabul Haid]

๐Ÿ‘‰ Kondisi Ketiga :
Flek coklat keruh dan flek kekuningan yang keluar setelah suci dari haid.

๐ŸŒบ๐ŸทFlek yang keluar setelah suci dari haid tidak lagi dianggap sebagai haid.
Berdasarkan hadits Ummuโ€™Athiyab radhiyallahuโ€™anha:

ูƒู†ุง ู„ุง ู†ุนุฏ ุงู„ูƒุฏุฑุฉ ูˆุงู„ุตูุฑุฉ ุจุนุฏ ุงู„ุทู‡ุฑ ุดูŠุฆุง

โ€œ Dahulu kami sama sekali tidak menganggap sebagai haid flek keruh dan kekuningan yang keluar setelah suci.
[HR. Bukhari No. 320, Abu Dawud No. 307, An Nasai No. 368 dan Ibnu Majah No. 647 dan lafal hadits diatas milik Abu Dawud]

๐ŸŒ Sumber: http://islamqa.info/ar/179069
๐Ÿ“‚ Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitasalihahCom

๐Ÿ”ฐ @Manhaj_salaf1

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Standar kebaikan disisi ALlah

Standar Kebaikan Seseorang Di Sisi Allah

Dari Muโ€™awiyah radhiallahuโ€™anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:

ู…ูŽู† ูŠูุฑูุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู‡ ุฎูŠุฑู‹ุง ูŠูููŽู‚ู‘ูู‡ู’ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู†ู

โ€œBarangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agamaโ€ (Muttafaqun โ€˜alaihi).
Takhrij singkat hadits

Hadits ini shahih. Dikeluarkan oleh al-Bukhari (71) dan Muslim (1037, 98).
Penjelasan hadits

Al-Imam an-Nawawi (676 H) di dalam kitabnya Riyadhush Shalihin menyebutkan empat ayat yang berkenaan dengan keutamaan ilmu dan ahlinya. Ayat-ayat yang beliau bawakan adalah:

ูˆูŽู‚ูู„ู’ ุฑูŽุจู‘ู ุฒูุฏู’ู†ููŠ ุนูู„ู’ู…ู‹ุง

โ€œโ€ฆdan katakanlah: โ€œYa Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuanโ€ (QS. Thaha: 114).

Dan firman-Nya:

ู‡ูŽู„ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽูˆููŠ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุชูŽุฐูŽูƒู‘ูŽุฑู ุฃููˆู„ููˆ ุงู„ู’ุฃูŽู„ู’ุจูŽุงุจู

โ€œKatakanlah: โ€œAdakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?โ€ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaranโ€ (QS. Az-Zumar: 9).

Dan juga firman-Nya:

ูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ

โ€œโ€ฆAllah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakanโ€ (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dan firman-Nya pula:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุดูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽุฒููŠุฒูŒ ุบูŽูููˆุฑูŒ

โ€œโ€ฆSesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang berilmu)โ€ฆโ€ (QS.
Fathir: 28).

Yang dimaksud dengan ilmu, yang telah diterangkan di dalam dalil-dalil tentang keutamaan, pahala, dan ketinggian derajat orang-orang yang menuntutnya serta merupakan warisan para Nabi; adalah ilmu syariat, baik yang berkenaan dengan akidah (keyakinan) maupun amal (praktek ibadah). Inilah ilmu yang penuntut dan orang yang mempelajari dan mengajarkannya terpuji di sisi Allah. Bukan ilmu yang berkaitan dengan dunia, seperti ilmu perhitungan, ilmu teknologi dan yang sejenisnya. Dan menuntut ilmu merupakan jihad fi sabilillah dan setara dengannya, sebagaimana diterangkan dalam kitabullah. Hal itu disebabkan; orang yang tidak berilmu (tidak mengetahui) tidak mungkin baginya untuk beramal ibadah sesuai dengan apa yang dimaksud dalam syariat. Allah berfirman:

ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ู„ููŠูŽู†ู’ููุฑููˆุง ูƒูŽุงูู‘ูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ู†ูŽููŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ููุฑู’ู‚ูŽุฉู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู„ููŠูŽุชูŽููŽู‚ู‘ูŽู‡ููˆุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ูˆูŽู„ููŠูู†ู’ุฐูุฑููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฌูŽุนููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุญู’ุฐูŽุฑููˆู†ูŽ

โ€œTidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinyaโ€ (QS. At-Taubah: 122).

Maksud ayat ini; mengapakah sebagian dari kaum mukminin tidak pergi berjihad ke medan perang di jalan Allah, dan sebagian yang lainnya tetap tinggal guna memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada yang lainnya sepulang mereka kembali dari medan perang?

Sehingga, dalam ayat ini Allah setarakan antara tafaqquh fid din (mempelajari agama) dan jihad fi sabilillah. Bahkan belajar agama lebih utama daripada berperang di jalan Allah. Karena tidak mungkin seorang mujahid dapat berjihad, seorang yang shalat dapat melakukan shalat dengan benar, seorang pembayar zakat membayar zakatnya dengan tepat, orang yang berpuasa dapat berpuasa dengan baik, seorang yang berhaji dan umrah melaksanakan ibadahnya; melainkan apabila ia berilmu dan memahami tata cara ibadah-ibadah tersebut dengan benar. Bahkan tidak mungkin orang yang makan, minum, tidur, dan bangun kembali melaksanakan semua aktifitas tersebut dengan baik dan benar melainkan dengan ilmu pula. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa ilmu merupakan dasar dan landasan segala sesuatu. Oleh sebab itulah, Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:

ู…ูŽู† ูŠูุฑูุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู‡ ุฎูŠุฑู‹ุง ูŠูููŽู‚ู‘ูู‡ู’ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู†ู

โ€œBarangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agamaโ€ (Muttafaqun โ€˜alaihi).

Tidak ada perbedaan antara mujahid yang membawa persenjataannya dan penuntut ilmu yang berusaha membahas permasalahan ilmu dari kitab-kitab induk agama Islam, karena masing-masing dari mereka beramal dan bekerja di jalan Allah. Orang yang pertama berjihad menegakkan dan membela agama Allah, sedangkan yang kedua berusaha menjelaskan syariat Allah kepada seluruh hamba Allah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin, meletakkan Bab Ilmu setelah Bab Jihad; sebagai penjelasan bahwa ilmu semisal dengan jihad. Bahkan, sebagian ulama lebih mengutamakan Ilmu di atas jihad fi sabilillah. Namun pendapat yang benar adalah dengan perincian dan dengan mempertimbangkan keadaan; di antara kaum Muslimin ada yang jihad lebih sesuai dan utama baginya, dan di antara mereka ada yang menuntut ilmu lebih baik baginya. Maka, jika seorang Muslim memiliki kekuatan dan keberanian yang unggul, akan tetapi di dalam ilmu ia sangat kurang atau pas-pasan saja, sedikit hafalan ilmunya, sulit memahami ketika mempelajari ilmu, maka di sini kita katakan, berjihad (berperang di jalan Allah) lebih utama baginya. Namun jika keadaan seorang Muslim sebaliknya, ia tidak memiliki kekuatan tubuh yang prima, atau tidak memiliki keberanian hati yang kokoh, akan tetapi ia memiliki kekuatan hafalan, pemahaman dan kesungguhan yang baik dalam menuntut ilmu; maka menuntut ilmu lebih utama baginya. Namun jika kedua sisinya sama, maka di antara ulama ada yang tetap lebih mengutamakan menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan dasar dan landasan utama setiap Muslim. Juga, dengan ilmu semua orang dapat merasakan manfaatnya, orang yang jauh maupun yang dekat, orang yang hidup saat itu dan orang yang dilahirkan kemudian. Bahkan akan bermanfaat bagi penuntutnya di masa hidupnya dan setelah matinya. Sebagaimana Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:

ุฅุฐุง ู…ุงุช ุงู„ุฅู†ุณุงู†ู ุงู†ู‚ุทุน ุนู†ู‡ ุนู…ู„ูู‡ ุฅู„ุง ู…ู† ุซู„ุงุซุฉู : ุฅู„ุง ู…ู† ุตุฏู‚ุฉู ุฌุงุฑูŠุฉู . ุฃูˆ ุนู„ู…ู ูŠู†ุชูุนู ุจู‡ . ุฃูˆ ูˆู„ุฏู ุตุงู„ุญู ูŠุฏุนูˆ ู„ู‡

โ€œJika manusia meninggal dunia terputuslah darinya seluruh amalannya, kecuali tiga hal; sedekah yang terus menerus, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannyaโ€ (HR. Muslim (1631) (14)).

Semua orang membutuhkan ilmu, baik mereka para Nabi ataupun bukan. Semua orang membutuhkan ilmu. Oleh karena itu Allah perintahkan Nabi-Nya untuk mengucapkan:

ูˆูŽู‚ูู„ู’ ุฑูŽุจู‘ู ุฒูุฏู’ู†ููŠ ุนูู„ู’ู…ู‹ุง

โ€œโ€ฆdan katakanlah: โ€œYa Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuanโ€โ€ (QS. Thaha: 114).

Para Rasul membutuhkan ilmu dan pertambahannya. Sebagaimana mereka pun berdoa dengan memohon kepada Allah agar Allah menambahkannya. Maka, jika keadaan para Nabi dan Rasul saja demikian terhadap ilmu, tentunya orang-orang selain Nabi dan Rasul lebih membutuhkan lagi.

Sudah sepantasnya seorang hamba meminta kepada Allah agar ditambahkan ilmu kepadanya. Dengan demikian, wajib baginya berusaha mencari ilmu. Adapun jika sekedar berdoa saja dengan mengatakan, โ€œYa Allah tambahkan ilmu kepadakuโ€, namun tanpa ada usaha dengan melakukan sebab bertambahnya ilmu, maka ini jelas tidak dibenarkan sama sekali dan bukan sikap yang bijaksana. Orang yang demikian, sama halnya dengan orang yang berdoa, โ€œYa Allah, berikan rizki seorang anak kepadakuโ€, namun ia tidak mau menikah sama sekali. Maka, dari mana ia akan memperoleh anak? Jadi, harus dengan usaha melakukan sebabnya, karena Allah itu Maha Bijaksana. Ayat ini juga merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu. Pada ayat ini Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan, โ€œYa Tuhanku, tambahkanlah kepadaku hartaโ€ Bahkan Allah berfirman pula kepada Nabi-Nya:

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ูุฏู‘ูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽูŠู’ู†ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู…ูŽุชู‘ูŽุนู’ู†ูŽุง ุจูู‡ู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฒูŽู‡ู’ุฑูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู„ูู†ูŽูู’ุชูู†ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ู ูˆูŽุฑูุฒู’ู‚ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุจู’ู‚ูŽู‰

โ€œDan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari
mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih
baik dan lebih kekalโ€ (QS. Thaha: 131).
Klasifikasi Ilmu Syarโ€™i Ditinjau Dari Sisi Hukumnya

Ilmu Syarโ€™i terbagi menjadi dua bagian; pertama bagian yang berhukum fardhu โ€˜ain, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Dan bagian kedua adalah fardhu kifayah, yaitu ilmu yang jika sebagian orang telah mempelajarinya, maka orang lain yang tidak mempelajarinya tidak berdosa. Dan ada pula bagian yang ketiga, namun sebenarnya itu merupakan bagian dari yang kedua, yaitu yang berhukum sunnah, maksudnya; ilmu yang jika sebagian orang dalam jumlah tertentu telah mempelajarinya, maka orang-orang yang tidak mempelajarinya tetap disunnahkan untuk mempelajarinya.

Adapun bagian yang pertama, maka yang dimaksud adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan perkara-perkara yang wajib dipelajari setiap Muslim dalam agamanya. Seperti ilmu tauhid dan mempelajari segala perkara yang dapat membatalkannya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Juga seperti shalat, karena shalat ini wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama ia masih berakal sehat. Wajib baginya mempelajari tentang shalat sebagaimana wajib pula mempelajari hal-hal yang merupakan syarat keabsahan shalatnya, seperti bersuci dan segala hal yang berkenaan dengannya. Itu semua agar ia beribadah kepada Allah di atas kebenaran.

Adapun zakat, maka ini tidak wajib bagi setiap orang untuk mempelajarinya. Orang-orang yang berharta sajalah yang wajib mempelajarinya agar ia mengetahui dan memahami nishab (ukuran zakat) dan berapa yang wajib dikeluarkannya, juga kepada siapa disalurkan zakatnya tersebut.

Shaum (berpuasa), ini wajib dipelajari oleh setiap Muslim. Ia wajib mempelajari hal-hal yang membatalkan puasa, dan segala sesuatu yang mengurangi keutamannya, dan seterusnya. Haji, ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Yang wajib mempelajarinya adalah orang yang telah mampu untuk melaksanakan ibadah haji ini, agar ia berhaji dengan benar sesuai tuntunan syariat.

Jual-beli, hukum-hukum yang berkenaan dengan jual beli ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Akan tetapi ilmu ini wajib diketahui oleh orang yang berniaga, berbisnis dan berjual-beli. Wajib baginya untuk mempelajari apa saja jual-beli yang diharamkan dan apa saja yang dibolehkan secara syariat. Itu semua, demi kebenaran jual-belinya agar di atas petunjuk yang benar. Dan begitulah seterusnya.

Adakah Sesuatu Yang Lebih Mulia Dari Ilmu? Baca selengkapnya di website kami. Klik

https://muslim.or.id/27492-standar-kebaikan-seseorang-di-sisi-allah.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Parenting is A Journey

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Banyak yang ingin menjadi orangtua ideal, tetapi yang dilakukan saat mengasuh mendidik anak justru sering bikin kesal. Orangtua belajar banyak hal, tetapi rasanya jauh sekali dari kenyataan. Apa yang ditulis orang maupun uraian para pakar seolah tertinggal di awang-awang, tanpa mampu diterapkan. Ingin sekali sabar, tetapi yang kerap keluar justru ekspresi gusar. Ingin sekali lembut, tetapi yang dirasakan oleh anak justru orangtua yang kerap bikin cemberut.

Jika sekiranya kita termasuk yang mengalami kondisi tersebut, mari kita buka buku Parent-Child Relations: A Guide to Raising Children (2013) karya Hisham Attalib dan kawan-kawan. Buku ini menyarankan agar orangtua lebih sering bertemu dan berbagi dengan orangtua lain yang lebih berpengalaman. Belajar dari orangtua sukses yang berpengalaman sangat bermanfaat untuk memberi gambaran kepada kita bagaimana menerapkan ilmu yang sudah kita miliki di dalam mengasuh anak setiap hari. Pengalaman dan cara pandang kita bukan ada yang berbeda, dan itu sangat wajar, tetapi pengalaman mereka sangat bermanfaat bagi upaya kita untuk berubah. Jika ada komunitas kecil yang dapat dipercaya, saling terbuka dalam hal mendidik anak terhadap sesame anggota komunitas dan sekaligus saling menjaga rahasia dengan tidak menceritakan kepada orang lain, akan lebih bagus lagi.

Menjadi orangtua ideal memang luar biasa hebat. Tetapi banyak dari kita yang tidak bisa tiba-tiba ideal. Kita melakukan kesalahan, bahkan yang sangat tidak kita harapkan, dalam mengasuh anak-anak. Itu merupakan hal yang lumrah. Yang paling penting, hati kita harus tetap jernih; berusaha untuk senantiasa berbenah. Ingatlah perkataan yang ditulis oleh Hisham Attalib dan kawan-kawan tersebut, โ€œKeep parenting lighthearted. Tell yourself that although we may commit “stupid” mistakes innocently, you cannot spell “STUPID” without U & I.โ€

Kerapkali kita mendengar nasehat baik yang kadang bikin orangtua justru serasa berputus asa; menguburkan cita-cita memiliki anak yang bahagia berlimpah kebaikan. Kita mendengar nasehat bijak yang mengatakan, โ€œKalau ingin mempunyai anak yang rakus membaca, kita sendiri yang lebih dulu harus rakus membaca. Kalau kita ingin mempunyai anak hafal Al-Qurโ€™an, kita sendiri harus hafal Al-Qurโ€™an. Kalau kita ingin mempunyai anak yang hebat, maka kita harus memantaskan diri dengan menjadi orangtua yang hebat.โ€ Ini maksudnya barangkali untuk memotivasi orangtua. Tetapi adakalanya justru membuat ciut nyali. Padahal kita melihat betapa banyak anak-anak hebat yang lahir dari keluarga buta huruf. Kita mendengar betapa banyak anak-anak yang sangat tinggi keluhurannya, padahal salah satu atau kedua orangtuanya memiliki masa lalu yang kelam. Lalu mengapa bisa demikian? Teladan berupa semangat, kecintaan serta dorongan kepada kebaikan itu sama pentingnya dan bahkan bisa lebih penting daripada kebaikan itu sendiri, sebagaimana niat lebih menentukan dibandingkan amal kita. Keinginan kuat orangtua kepada kebaikan, kemuliaan dan kecemerlangan beserta kerinduan untuk berbenah dapat memberi pengaruh yang lebih besar dibandingkan kebaikan itu sendiri. Inilah pelajaran lain yang dapat kita petik dari Parent-Child Relations karya Hisham Attalib dan kawan-kawan.

Jadi, kalau hari ini kita masih teramat jauh dari kriteria minimal sebagai orangtua yang baik, itu bukanlah pertanda kiamat. Ingatlah mengasuh anak merupakan perjalanan panjang. Parenting is a journey, not travelling. Anda sama dengan saya: sama-sama masih jauh dari seharusnya. Boleh jadi Anda jauh lebih baik daripada saya. Dan itu berarti, kita berada pada titik untuk berubah, berbenah dan menunjukkan kepada anak keinginan kita untuk berbenah tersebut. Semoga anak-anak terinspirasi untuk senantiasa berbenah.

Jika ada yang mengatakan, sekali berbuat salah selamanya tidak dapat kita perbaiki, maka ingatlah bahwa dia bukan Tuhan. Kita bukan ingin memudah-mudahkan diri berbuat salah. Bukan pula meremehkan kesalahan. Tetapi kita perlu ingat bahwa jika Tuhan senantiasa membuka pintu kesempatan untuk berbenah bertaubat, maka apa hak manusia untuk menutup pintu perbaikan? Mengapa kita harus berputus asa?

Di salin dari ;

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1125469247502202&id=183316298384173

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Link Bacaan bermanfaat

*๐Ÿ“ก FLASH INFO WEBSITE WWW.BIMBINGANISLAM.COM*
_๐Ÿ—“ 5 Ramadhan 1439H / 21 Mei 2018M_

*1โƒฃ BiASQA*

๐ŸŒ Judul : Sutrahnya Makmum Ketika Shalat Berjamaah
Penulis : Ustadz Abul Aswad Al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/sutrahnya-makmum-ketika-shalat-berjamaah/

๐ŸŒ Judul : Hukum Menerima Infak dari Harta Haram dan Donatur Non Muslim
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/hukum-menerima-infak-dari-harta-haram-dan-donatur-non-muslim/

๐ŸŒ Judul : Nama dan Sifat Allah Tergolong Ayat Mutasyabihat
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/nama-dan-sifat-allah-tergolong-ayat-mutasyabihat/

๐ŸŒ Judul : Bersabar Menghadapi Ancaman Orang Tua dalam Mempertahankan Prinsip Agama
Penulis : Ustadz Abul Aswad Al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/bersabar-menghadapi-ancaman-orangtua-dalam-mempertahankan-prinsip-beragama/

๐ŸŒ Judul : Larangan Berpuasa Setelah Pertengahan Bulan Syaban
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/larangan-berpuasa-setelah-pertengahan-bulan-syaban/

๐ŸŒ Judul : SHolat Sunnah 2 Rakaat Sebelum dan Setelah Keluar Rumah
Penulis : Ustadz Abul Aswad al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/sholat-sunnah-dua-rakaat-sebelum-dan-setelah-keluar-rumah/

๐ŸŒ Judul : Hukum Hijrah dari Negeri Kafir
Penulis : Ustadz Abul Aswad al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/hukum-hijrah-dari-negeri-kafir/

๐ŸŒ Judul : Datang ke Candi dalam Rangka Bertugas
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/datang-ke-candi-dalam-rangka-bertugas/

๐ŸŒ Judul : Hukum Pengojek Menunggu Penumpang di Masjid
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/hukum-pengojek-menunggu-penumpang-di-masjid/

๐ŸŒ Judul : Menggunakan Video untuk Berdakwah di Media Sosial
Penulis : Ustadz Abul Aswad Al-Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/menggunakan-video-untuk-berdakwah-di-media-sosial/

๐ŸŒ Judul : Cara Menyikapi Berbagai Masalah yang Menimpa Umat Islam
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
Link : https://bimbinganislam.com/cara-menyikapi-berbagai-masalah-yang-menimpa-umat-islam/

๐ŸŒ Judul : Membantu Memfotokopikan Buku Agama Lain
Penulis : Ustadz Abul Aswad al Bayati
Link : https://bimbinganislam.com/membantu-memfotokopikan-buku-agama-lain/

๐ŸŒ Judul : Catatan Bagian yang Tinggal Serumah dengan Orang Tua (Mertua)
Penulis : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah,
Link : https://bimbinganislam.com/catatan-bagi-yang-tinggal-serumah-dengan-orangtua-mertua/

*2โƒฃ Artikel*

๐ŸŒ Judul : Empat Dampak Maksiat yang Sering Diremehkan
Penulis : Ustadz Iskandar Albahr
Link : https://bimbinganislam.com/empat-dampak-maksiat-yang-sering-diremehkan/

๐ŸŒ Judul : Empat Amalan Ringan Pelebur Dosa
Penulis : Ustadz Iskandar Albahr
Link : https://bimbinganislam.com/empat-amalan-ringan-pelebur-dosa/

๐ŸŒ Judul : Keberkahan dalam Sahur
Penulis : Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA
Link : https://bimbinganislam.com/keberkahan-dalam-sahur/

๐ŸŒ Judul : Merasakan Kenikmatan Ibadah kepada Allah
Penulis : Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H
Link : https://bimbinganislam.com/merasakan-kenikmatan-ibadah-kepada-allah/

๐ŸŒ Judul : Adab dalam Menjalani Puasa Lanjutan
Penulis : Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.
Link : https://bimbinganislam.com/adab-dalam-menjalani-puasa-lanjutan/

๐ŸŒ Judul : Lima Alasan Lelaki Harus Mengerti Wanita
Penulis : Ustadz Rusli Evendi,
Link : https://bimbinganislam.com/lima-alasan-lelaki-harus-mengerti-wanita/

๐ŸŒ Judul : Adab Sahur dan Berbuka Puasa
Penulis : Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.
Link : https://bimbinganislam.com/adab-sahur-dan-berbuka-puasa/

*3โƒฃ Sahabat BiAS*

๐ŸŒ Judul : Peduli Sahabat BIAS an Farid
Link :https://bimbinganislam.com/peduli-sahabat-bias-an-farid/

*๐Ÿฆ Donasi Operasional Dakwah dapat disalurkan melalui :*

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam

๐Ÿ“ฒ *Pendaftaran* Donatur Rutin & Konfirmasi Transfer *Hanya via WhatsApp ke ; 0878-8145-8000*

_SWIFT CODE : BSMDIDJA_

*โ–ช Format Donasi :* _Operasional BIAS#Nama#Nominal#Tanggal_

*๐Ÿ“ Cantumkan Kode 511* di akhir nominal transfer anda..

_*Contoh : 100.511*_

_Demikian disampaikan, kami ucapkan jazakumullah khairan_
———————————–

๐ŸŒwww.bimbinganislam.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Inspiring story

JUST FOCUS ON ALLAH! UTANG 3 MILYAR LUNAS DAN KEAJAIBAN TERUS BERDATANGAN..

Madinah waktu subuh..
Saya dan mas Munawar keluar dari hotel berdua menuju masjid Nabawi. Sampai persis di depan Hotel sebuah taksi pas juga berhenti di depan kami. Sesosok tinggi besar keluar dari taksi langsung menyapa mas Munawar dalam bahasa arab yang saya tidak mengerti, saya hanya menjawab salamnya lalu ikut menyalaminya.

“Mas Saptu, Saya antar beliau dulu ke kamar hotel ya, nanti ketemu di Nabawi..” kata Mas Munawar.

Usai sholat subuh kami bertemu di halaman masjid Nabi yang penuh manusia itu.

Mas Munawar melanjutkan,
“Tadi itu Sheikh Sholeh Al Rajhi mas, salah satu kerabat Sulaiman Al Rajhi, pemilik bank tanpa riba terbesar di Saudi. Beliau ada kerjasama dengan kami untuk bisnis umroh. Nah nanti siang kita diajak beliau bertemu dengan Shaikh Abdurahman Al Sudais, imam besar Masjidil Haram.. kebetulan Shaikh Sudais sedang ada tugas di Madinah… ”

Saya langsung bengong….

***
Teringat 1 Juni 2016 lalu ketika saya mengisi satu sesi seminar “Pengusaha Tanpa Riba” di Jakarta, saya bertanya kepada para peserta seminar siapakah yang tidak punya utang di bank?
Hanya 1 orang yang angkat tangan! Wow!
Saya inget orangnya, yang ketika sesi istirahat mengenalkan diri dan memberi sebuah buku pada saya..

“Saya Rendy ReZha Mas, ini buku karya saya PPA (Pola Pertolongan Allah), kami punya training untuk orang-orang yang ingin merubah hidupnya, alumni kami sudah 9000 orang lebih di Indonesia..”

Itulah awal perkenalan saya dengan komunitas PPA ini, Rendy di usianya yang masih muda, 26 tahun menjadi inspirasi ribuan orang menemukan ujung pangkal masalah mereka dan bisa menghadirkan banyak solusi keajaiban penyelesaiannya..

“Just Focus On Allah..” hanya itu mas ilmunya, ketika Allah ridho maka masalah apapun akan beres!

Sejak itu buku “Pola Pertolongan Allah” ikut masuk daftar yang dijual di Jogist bookstore milik saya, laris dan diburu banyak orang karena tidak dijual di toko buku konvensional.

Bulan Oktober tahun lalu Rendy mengajak saya untuk bikin program umroh bareng Saptuari dan Rendy, Alhamdulillah ada 175 jamaah yang berangkat bulan April ini, selama umroh inilah saya mengenal mas Munawar dengan banyak cerita ajaibnya..

Ketika berangkat di bandara Soekarno Hatta, Rendy mengenalkan saya dengan mas Munawar..
“Beliau otak dibalik PPA Tour and Training mas, untuk perjalanan umroh dan fasilitasnya beliau ini jaringannya di Saudi banyak sekali..”

Ketika mau masuk pesawat mas Munawar berkata.
“Mas maaf saya di depan ya, gak tau nih tadi dapat bonusan dari Emirates, saya dikasih kursi di kelas bisnis. Padahal kalo upgrade bayar 40 juta/seat, ini gratis aja dikasih..”

Rejeki nomplok itu namanya, atau keberuntungan yang bisa diundang?

Di Madinah kami satu kamar, obrolan kami ngalor ngidul, dan saya menjadi pendengar yang baik untuk kisah hidupnya. Ternyata dia selama ini jadi silent reader di group facebook ini. Jadi saya lebih mudah membongkar jeroan ceritanya..

Saya inget ketika Rendy cerita bulan September 2015 sedang mengadakan training PPA di Pekalongan, ada orang yang menunggu acara dengan gontai di lobby hotel. Wajahnya suram dan penuh masalah.. ternyata dia itu orangnya!

Bagaimana ceritanya dia bisa merubah total hidupnya dalam 1,5 tahun ini??

“Saya terjebak utang riba 3 milyar mas, usaha batubara saya rugi besar, bangkrut meninggalkan banyak utang. Waktu itu saya belum tau hukumnya main terjang aja, yang haram pun saya sikat. Buyer saya di Singapura, kalo pas ketemu disana saya harus melayani dan menjamunya. Dari urusan makan sampai hiburan, dalam hati saya menolak maksiat ini, tapi bagaimana lagi.. ini seperti lingkaran yang ada di bisnis ini. Dan bener ketika ALLAH tidak ridho maka ALLAH jungkalkan bisnis saya. Pusing minta ampun.. produksi berhenti, dan saya tidak bisa membayar utang usaha itu..”
Cerita mas Munawar berlanjut di kamar

Terus?
“Setelah ikut training PPA saya baru sadar banyak sekali kesalahan saya dalam bisnis yang saya langgar. Pantas jika ALLAH habiskan semua. Sejak itu saya taubat minta ampun pada ALLAH dan berusaha keras membersihkan semua harta saya dari yang haram. Beraaaat, tapi saya harus lakukan, saya tidak mau masih ada harta haram yang nempel di badan saya, akhirnya saya rembukan dengan istri dan kami sepakat mengembalikan semua harta yang kami dapatkan dengan riba.. rugi gakpapa yang penting segera diri kami bersih di mata ALLAH. Rumah KPR kami kembalikan ke developer, dua mobil yang kami punyai pun kami kembalikan ke leasing, semua kartu kredit saya tutup tanpa ampun, saya harus bergerak cepat untuk melunasi utang saya lainnya. Sampai ada tawaran untuk kerjasama bisnis di Saudi, dengan uang yang tersisa saya niatkan waktu itu berangkat kesini..”

Mas Munawar menyelesaikan S1 dan S2 nya di Yordania, pantes bahasa arabnya
Cas cis cusss faseh! Jadi modal untuknya membuka jaringan di tanah Arabia..

Langsung mulus? Tidaaak…

“Saya mencari tiket pesawat murah menuju Saudi, transit di Colombo Srilangka. Malam hari menginap di hotel dekat bandara, uang modal usaha saya simpan di tas yang saya letakkan di samping tempat tidur. Pagi harinya saya kaget uang itu sudah raib dari tas, lemes sudah.. di negeri orang baru setengah perjalanan, uangpun hilang. Saya berusaha membaca pesan cinta dari ALLAH, kenapa ini terjadi. Baru saya sadar, kalo uang itu memang saya dapatkan dari jalan yang tidak sepenuhnya halal, jadi ALLAH seperti tidak mengijinkan uang itu masuk ke tanah suci, saya bisa lanjut terbang lagi dari Colombo ke Saudi hanya dengan modal yakin dan iman!”

Mmm… makin seru

“Sampai Saudi saya ke Mekah, sempatkan untuk umroh sambil menahan lapar. Ketika saya duduk di halaman luar Masjidil Haram ada penjual swawarma yang harum baunya, lapar makin terasa padahal uang gak punya.
Dalam kondisi seperti itu apa yang bisa saya andalkan selain ALLAH? Saya langsung minta begini… ya ALLAH Engkau tau pasti tau kalau hambamu ini lapar ya ALLAH, berilah hambamu ini makanan ya ALLAH..
Dan masya ALLAH mas, ketika saya beranjak berjalan beberapa langkah kaki saya menyandung tas kresek, saya buka… derrrr!! isinya swawarma yang masih anget gak tau dari mana datangnya.. sambil nangis-nangis saya makan dengan lahapnya..”

Masya ALLAH…

“Kisah berlanjut, saya bertemu orang Indonesia yang mengerti kesulitan saya saat itu, saya diajak ke Sekolah Republik Indonesia Mekah, dengan modal S2 saya ditawari untuk menjadi guru disana, dari SD hingga SMP. Tanpa banyak pertimbangan saya langsung menerima. Alhamdulillah tiap bulan saya dapat gaji dan saya bertemu dengan jaringan yang luas di Arab Saudi. Pintu-pintu kemudahan seperti ALLAH bukakan lewat jalan ini, sampai akhirnya saya mengundurkan diri dan ingin fokus di bisnis trading dan ekspor dari Indonesia. Saya namakan PT. BEJO (BEyond Java Overseas), biar rejekinya juga bejo (beruntung) terus..”

Hehe.. boleh boleh boleh!
Silahkan dibaca dengan intonasi Upin Ipin..

“Dan ALLAH kalau sudah menghadirkan rejeki itu banyak dari jalan yang tidak terduga! Pas pulang ke Indonesia di pesawat ada seorang ibu yang pulang umroh tidak mau duduk di kursinya karena takut sebelahan dengan orang yang posturnya tinggi besar. Saya menawarkan untuk bertukar kursi, sepanjang jalan saya ngobrol dengan orang itu, ternyata dia dari Maroko dan mau ke Indonesia mencari suplyer kertas, saya inget punya kawan yang punya pabrik kertas, langsung saya tawarkan untuk membeli kesana, saya jadi makelarnya. Sampai di Indonesia dia melihat barangnya dan dia setuju, gak tanggung-tanggung dia pesan 7 kontainer. Satu kontainer saya untung 30 juta, total saya dapat 210 juta mas dari ekspor kertas itu. Masya ALLAH.. perlahan saya bisa melunasi utang-utang saya, dan dari trading lainnya pun pesanan terus berdatangan.. Alhamdulillah”

Allahuakbar..
Terus pertemuan dengan Syaikh Sholeh Al Raji itu bagaimana?

“Beliau orang yang sangat sederhana, padahal dari keluarga kaya raya, seperti Sulaiman Al Rajhi yang mewakafkan sebagian besar hartanya. Kemarin pas kita ketemu kan dia naik taksi dari Mekah, gak pakai mobil pribadi. Nah pas negosiasi dulu saya sering ke kantornya, saya lihat ini kantor terlalu sederhana, handle pintunya rusak gak diperbaiki, temboknya pada nglotok catnya. Sampai satu ketika beliau sedang keluar kota, diam-diam saya manggil tukang dan saya minta perbaiki semuanya saya yang bayar. Ketika. Saikh Soleh datang hari berikutnya saya kaget ditelpon dengan suara keras diminta datang ke kantornya.. saya dah mikir bakal dimarahi nih karena lancang mengotak-atik kantornya. Sampai disana saya malah kaget tiba-tiba beliau memeluk dan bilang, ini bukan kantor saya, ini kantor kita! Dan sejak saat itu hubungan kami sangat dekat, dan deal dengan Al Rajhi invest 10.000 seat tiket pesawat untuk jamaah PPA Tour & Training. Sehingga seat tahun depan sudah ada ditangan dengan harga yang jauh lebih murah, PPA bisa menjual paket umroh yang lebih murah dibanding lainnya.. ”

Masya ALLAH… gitu ya jalan mendekatkan hubungan bisnis, kadang dengan cara yang sederhana tapi kena di hati.

“Besok dari Mekah saya ke Jeddah dulu satu hari mas, MOU dengan klien lain yang juga ALLAH hadirkan. Dengan Al Rajhi juga MOU pembangunan lounge khusus jamaah umroh di bandara Soekarno Hatta, dan juga investasi untuk proyek rumah tanpa riba di Indonesia..” lanjut mas Munawar

Saya geleng-geleng kepala, takjub dengan skenario ALLAH. Ternyata janji ALLAH itu benar bagi orang-orang yang percaya. Ayat ini tak terbantahkan!

“Barangsiapa berhijrah di jalan ALLAH, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak..” [QS An Nisa:100]

***
Bertemu Syaikh Abdurahman Sudais…
Kami berlima mengikuti langkah kaki Syaikh Sholeh menuju depan pintu 26 masjid Nabawi, disana sudah ada mobil listrik yang menjemput kami dengan petugas yang tegap badannya seperti tentara.

Kami naik mobil listrik itu melintasi halaman Masjid Nabawi dari selatan ke utara, dilihat ribuan mata yang mungkin berpikir siapa orang-orang berkulit coklat yang dijemput seperti tamu negara. Kami dibawa ke gedung di utara persis Masjid Nabawi, lantai satu sudah ada beberapa penjaga di depannya, naik lantai 5 langsung bertemu penjaga dengan pakaian tentara. Ketat sekali..

Kami diminta menunggu di ruangan khusus, lalu ada protokoler masih muda-muda dengan pakaian arab yang menjelaskan tentang waktu pertemuan dengan Syaikh Sudais..

Lima menit kemudian kami diminta masuk ke ruangan yang lebih besar, dan langsung disambut dengan senyuman Shaikh Abdurahman Al Sudais..
“Ahlan Wa Sahlan” kata beliau dengan suara lembutnya..

Inilah imam besar Masjidil Haram.. Pimpinan para imam di dua masjid suci, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram..
Hafal Al Quran di usia 12 tahun, dan sudah menjadi imam di Masjidil Haram di usia 24 tahun hingga saat ini beliau berusia 57 tahun..
Dulu waktu kecil bandel, sampai ibunya jengkel dan keluar doa “semoga engkau jadi imam Al Haram!” Alhamdulillah doa positif yang keluar dari mulut ibunya dan jadi kenyataan!

Wajahnya bersiiih dan bercahaya… selama ini saya hanya melihat di internet dan mendengar suaranya di aplikasi Quran di HP saja. Gemetar juga bisa menjabat tangannya dan mencium pipi beliau..

Selama 15 menit pertemuan itu Shaikh Sudais mengatakan sangat senang dengan jamaah Indonesia yang baik dan santun, serta mudah diatur. Beliau juga berkeinginan untuk datang lagi ke Indonesia secepatnya.

Ketika beliau mempersilahkan kami bertanya, Rendy di samping saya bertanya dengan air mata bercucuran, mas Munawar yang mengartikan dalam bahasa Arab.

“Hanya satu pertanyaan Shaikh, bagaimana caranya agar kami bisa bertemu ALLAH dan rasulnya..” kata Rendy.

Jawab Syaikh Sudais,
“Masya ALLAH, pelajarilah Islam dengan benar, belajarlah.. ikuti semua perintah ALLAH dan jauhi semua laranganNya, jika itu kita lakukan kelak kita akan dipertemukan dengan ALLAH dan Rasulnya..”

Singkat tapi makjleb mengena!

Pertemuan itu diakhiri dengan pemberian kenangan dari Shaikh Sudais, dan foto bersama. Melintasi Masjid Nabawi siang itu kami seperti dijamu oleh ALLAH dengan luarrrr biasa. Hanya ALLAH yang bisa mengatur pertemuan itu, dan kami yang beruntung mendapatkan kesempatan yang langka dari ratusan ribu jamaah di luar sana.

Sepanjang perjalanan Madinah-Mekah 430 kilometer saya banyak merenung. Betapa banyak kisah-kisah orang yang berhijrah dengan ribuan keajaiban yang ALLAH berikan.

Orang-orang itu seperti ALLAH hadirkan di depan saya, dan saya seperti mendapatkan tugas untuk terus bercerita dengan tulisan agar inspirasinya menyebar ke seluruh dunia..

Semoga ini jadi pahala kita bersama, menjadi saksi syiar perjalanan hijrah orang-orang hebat yang takhluk pada Tuhannya…

@Saptuari

————————————-
Buku PPA (Pola Pertolongan Allah) bisa didapatkan di JOGIST bookstore โ‡จ 081804100900 via SMS & WA. Buku dikirim ke seluruh Indonesia, tidak dijual di toko buku biasa.

Disalin dari https://m.facebook.com/groups/109438006059782?view=permalink&id=486583935011852

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sunnah makan buah terlebih dahulu sebelum makan

# Dalil Anjuran Makan Buah Sebelum Makanan Utama
.
– Mungkin telah tersebar informasi adanya anjuran makan buah sebelum makan. Dan ini dinisbatkan kepada Islam atau ini adalah anjuran agama Islam
.
-Ternyata ini bukan HOAX dan ada beberpa ulama yang berpendapat demikian,di antaranya Imam An-Nawawi rahimahullah.
.
-Jadi MAKAN BUAH SEBELUM MAKANAN UTAMA ADALAH SUNNAH
.
-Memang benar secara kesehatan dianjurkan makan buah sebelum makan besar, karena lebih memudahkan penyerapan buah dan gizi yang terkandung di dalamnya dan tidak bersaing dengan penyerapan makanan utama serta bisa juga meningkatkan kadar glukosa darah.
.
-Akan tetapi ini efektif jika makan buah 30 menit sampai 2 jam sebelum makan atau 1-2 jam setelah makan.

Di antara dalilnya

Allah Taโ€™ala berfirman,

โ€Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkanโ€. (Al Waqiโ€™ah 20-21)

Al-Gazali berkata,

โ€œDianjurkan mendahulukan makan buah jika karena sesuai dengan ilmu kedokteran yaitu lebih cepat dicerna maka lebih baik buah lebih bawah (dalam perut) daripada hidangan (makanan pokok). Dalam Al-Quran ada peringatan untuk mendahulukan makan buahโ€.[1]

Imam AN-Nawawi berkata,

โ€œImam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada NabiShallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar dan Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian RasulullahShallallahu alaihi wa sallam berkata,

โ€˜makanlah ini (kurma), kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi

Imam AN-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.[3]

Selengkapnya ุง:
https://muslimafiyah.com/dalil-anjuran-makan-buah-sebelum-makanan-utama.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

__
Follow akun:
Instagram : raehanul.com/instagram
Telegram : raehanul.com/telegram
LINE : raehanul.com/line
FB: raehanul.com/facebook
Broadcast WA muslimafiyah:
0895341555542
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ุง
[Nama Lengkap-Kota]
(Direkap tiap hari ahad)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Benci Kembali pada Masa Silam yang Suram

(BACA ARTIKEL LEBIH DULU ,SEBELUM LIKE & SHARE)

Benci Kembali pada Masa Silam yang Suram

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Kita semua barangkali sama dahulunya berada dalam kubangan dosa. Bukan saja dosa ringan yang dilakukan, bahkan perbuatan fahisyah (keji) seperti zina pun pernah diterjang. Bisa jadi berulang kali dilakukan. Mungkin pula dosa kufur atau kesyirikan pernah diterjang. Saat ini menyesal dan ingin menjadi lebih baik. Jika ingin berubah, seorang muslim tidak boleh merasa putus asa dari rahmat Allah. Ampunan Allah begitu luas. Kita patut meminta ampun pada-Nya atas dosa-dosa tersebut dan benci kembali pada masa lalu yang suram.
Renungan Hadits โ€œTiga Tanda Manisnya Imanโ€

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูŽู†ู’ ูƒูู†ูŽู‘ ูููŠู‡ู ูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุญูŽู„ุงูŽูˆูŽุฉูŽ ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู…ูŽู‘ุง ุณููˆูŽุงู‡ูู…ูŽุง ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ู„ุงูŽ ูŠูุญูุจูู‘ู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนููˆุฏูŽ ููู‰ ุงู„ู’ูƒููู’ุฑู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅูุฐู’ ุฃูŽู†ู’ู‚ูŽุฐูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูู„ู’ู‚ูŽู‰ ููู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู

โ€œTiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.โ€ (HR. Bukhari no. 21 dan Muslim no. 43).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Keutamaan mendahulukan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya.

2- Keutamaan mencintai Allah.

3- Orang mukmin mencintai Allah dengan cinta yang tulus.

4- Orang yang memiliki tiga sifat ini adalah yang paling utama daripada yang tidak memilikinya walau orang yang memilikinya dahulu kafir dan masuk Islam atau dahulu adalah orang yang terjerumus dalam kubangan dosa lalu bertaubat.

5- Wajib membenci kekafiran dan pelaku kekafiran (orang kafir) karena barangsiapa yang membenci sesuatu, ia juga harus membenci pelaku yang memiliki sifat tersebut. Begitu pula dengan maksiat.[1]

Lebih Memilih Tidak Terjerumus dalam Maksiat

Faedah dari โ€˜Abdurrahman bin Nashir As Saโ€™di mengenai kisah Nabi Yusuf,

โ€œYusuf โ€˜alaihis salam memilih dipenjara daripada terjerumus dalam maksiat. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang dihadapkan pada dua pilihan antara memilih berbuat maksiat ataukah mendapatkan siksa dunia, hendaklah ia memilih mendapatkan siksa dunia supaya ia selamat dari terjerumus dalam dosa yang akhirnya mendapatkan siksa di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu di antara tanda iman adalah seseorang benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilempar dalam api.โ€ (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 407)

Yang Dahulu Berada dalam Kegelapan Maksiat

Bagi yang dahulu berada dalam kubangan dosa, isilah waktu kita saat ini dengan taubat dan menutup kejelekan dengan kebaikan. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽู‡ู‹ุง ุขูŽุฎูŽุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุชูู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ูู’ุณูŽ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฒู’ู†ููˆู†ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠูŽู„ู’ู‚ูŽ ุฃูŽุซูŽุงู…ู‹ุง (68) ูŠูุถูŽุงุนูŽูู’ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุฐูŽุงุจู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽูŠูŽุฎู’ู„ูุฏู’ ูููŠู‡ู ู…ูู‡ูŽุงู†ู‹ุง (69) ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุขูŽู…ูŽู†ูŽ ูˆูŽุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ู‹ุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ูŠูุจูŽุฏูู‘ู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง (70) ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุนูŽู…ูู„ูŽ ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุชููˆุจู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุชูŽุงุจู‹ุง (71

โ€œDan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.โ€ (QS. Al Furqon: 68-71)

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah menasehati Abu Dzar,

ุงุชูŽู‘ู‚ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุญูŽูŠู’ุซูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูŽ ูˆูŽุฃูŽุชู’ุจูุนู ุงู„ุณูŽู‘ูŠูู‘ุฆูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŽ ุชูŽู…ู’ุญูู‡ูŽุง ูˆูŽุฎูŽุงู„ูู‚ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุจูุฎูู„ูู‚ู ุญูŽุณูŽู†ู

โ€œBertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.โ€ (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5: 153. Abu โ€˜Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Berpindah dari Lingkungan yang Jelek

Yang dilakukan berikutnya lagi adalah berhijrah (berpindah) dari lingkungan yang jelek. Coba kita renungkan kisah berikut ini tentang kisah pembunuh 100 nyawa. Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฃู†ู‘ ู†ูŽุจููŠูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : (( ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒู…ู’ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ุชูุณู’ุนูŽุฉู‹ ูˆุชูุณู’ุนูŠู†ูŽ ู†ูŽูู’ุณุงู‹ ุŒ ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุฃุฑุถู ุŒ ููŽุฏูู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุงู‡ูุจู ุŒ ููŽุฃูŽุชูŽุงู‡ู . ูู‚ุงู„ : ุฅู†ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ุชูุณุนูŽุฉู‹ ูˆุชูุณู’ุนููŠู†ูŽ ู†ูŽูู’ุณุงู‹ ููŽู‡ูŽู„ู’ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุชูŽูˆุจูŽุฉู ุŸ ูู‚ุงู„ูŽ : ู„ุง ุŒ ููŽู‚ูŽุชูŽู„ู‡ู ููŽูƒูŽู…ูŽู‘ู„ูŽ ุจู‡ู ู…ุฆูŽุฉู‹ ุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุฃูŽุฑุถู ุŒ ููŽุฏูู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฌูู„ู ุนูŽุงู„ูู…ู . ูู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ู…ูุฆูŽุฉูŽ ู†ูŽูู’ุณู ููŽู‡ูŽู„ู’ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุชูŽูˆู’ุจูŽุฉู ุŸ ูู‚ุงู„ูŽ : ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุŒ ูˆู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุญููˆู„ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ู ูˆุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ุจูŽุฉู ุŸ ุงู†ู’ุทูŽู„ูู‚ู’ ุฅูู„ู‰ ุฃุฑุถู ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูƒูŽุฐูŽุง ูุฅูู†ูŽู‘ ุจูู‡ูŽุง ุฃูู†ุงุณุงู‹ ูŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูุงุนู’ุจูุฏู ุงู„ู„ู‡ ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆู„ุงูŽ ุชูŽุฑู’ุฌูุนู’ ุฅูู„ู‰ ุฃูŽุฑู’ุถููƒูŽ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ุฃุฑุถู ุณููˆุกู ุŒ ูุงู†ู’ุทูŽู„ูŽู‚ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฅูุฐูŽุง ู†ูŽุตูŽููŽ ุงู„ุทูŽู‘ุฑููŠู‚ูŽ ุฃูŽุชูŽุงู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ุŒ ูุงุฎู’ุชูŽุตูŽู…ูŽุชู’ ูููŠู‡ู ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู ูˆู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ุนูŽุฐูŽุงุจู . ููŽู‚ูŽุงู„ุชู’ ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู : ุฌูŽุงุกูŽ ุชูŽุงุฆูุจุงู‹ ุŒ ู…ูู‚ู’ุจูู„ุงู‹ ุจูู‚ูŽู„ุจูู‡ู ุฅูู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุŒ ูˆู‚ุงู„ุชู’ ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ุนูŽุฐูŽุงุจู : ุฅู†ูŽู‘ู‡ู ู„ู…ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ุฎูŽูŠุฑุงู‹ ู‚ูŽุทูู‘ ุŒ ููŽุฃูŽุชูŽุงู‡ูู…ู’ ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ููŠ ุตูˆุฑูŽุฉู ุขุฏูŽู…ููŠูู‘ ููŽุฌูŽุนูŽู„ููˆู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’

– ุฃูŠู’ ุญูŽูƒูŽู…ุงู‹ – ูู‚ุงู„ูŽ : ู‚ููŠุณููˆุง ู…ุง ุจูŠู†ูŽ ุงู„ุฃุฑุถูŽูŠู†ู ููŽุฅู„ูŽู‰ ุฃูŠู‘ุชู‡ู…ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃุฏู†ูŽู‰ ููŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽู‡ู . ููŽู‚ูŽุงุณููˆุง ููŽูˆูŽุฌูŽุฏููˆู‡ู ุฃุฏู’ู†ู‰ ุฅูู„ู‰ ุงู„ุฃุฑู’ุถู ุงู„ุชูŠ ุฃุฑูŽุงุฏูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุจูŽุถูŽุชู’ู‡ู ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู…ุฉู )) ู…ูุชูŽู‘ููŽู‚ูŒ ุนู„ูŠู‡ .

“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, โ€Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?โ€ Rahib pun menjawabnya, โ€Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.โ€ Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, โ€Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?โ€ Orang alim itu pun menjawab, โ€Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.โ€

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, โ€Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allahโ€. Namun malaikat adzab berkata, โ€Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit punโ€. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, โ€Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.โ€ Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 2766)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, โ€Hadits ini menunjukkan orang yang ingin bertaubat dianjurkan untuk berpindah dari tempat ia melakukan maksiat.โ€ (Syarh Muslim, 17: 83)

Orang yang Dahulu Bejat Bisa Jadi Lebih Sholih

Ibnu Taimiyah rahimahullah memiliki perkataan menarik yang patut disimak:

Sebagian orang mengira bahwa seseorang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kekufuran sama sekali, itu yang lebih baik dari orang yang dulunya kafir kemudian masuk Islam. Anggapan ini tidaklah benar. Yang benar standarnya adalah siapa yang akhir hidupnya baik, yaitu siapa yang paling bertakwa kepada Allah di akhir masa hidupnya, itulah yang lebih baik.

Sudah kita ketahui bersama, saabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam) dari kaum Muhajirin dan Anshar yang dahulunya kufur lalu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih baik dari anak-anak mereka atau selain anak mereka yang lahir dalam keadaan Islam.

Barangsiapa mengenal kejelekan dan ia merasakannya, lalu ia mengenal kebaikan dan merasakan nikmatnya, maka ia tentu lebih mengenal dan mencintai kebaikan tersebut serta membenci kejelekan daripada orang yang tidak mengenal dan melakukan kebaikan atau kejelekan sebelumnya. Bahkan orang yang hanya tahu perbuatan baik, ia bisa saja terjerumus dalam kejelekan karena tidak mengetahui itu perbuatan jelek. Ia bisa terjatuh di dalamnya atau ia tidak mengingkarinya. Hal ini berbeda dengan yang telah merasakan kejelekan sebelumnya. (Majmuโ€™ Al Fatawa, 10: 300)

Harapan โ€ฆ

Selamat tinggal masa lalu yang suram. Saat ini kita harus berubah. Kita harus menjadi lebih baik. Kita harus benci kembali ke masa silam yang penuh kegelapan. Semoga hari kita esok lebih baik dari masa suram dahulu. Moga Allah memberikan kita hidayah agar hari-hari kita bisa diisi dengan amalan sholih untuk mengganti kejelekan-kejelekan kita dahulu.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar